KMNU Malaysia: Kajian Kitab Klasik dalam Program Rezende Ta’lim

Kuala Lumpur-KMNU Online

Sabtu (11/03), Guna meningkatkan rasa kecintaan terhadap ilmu dan ulama, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) di Malaysia mengadakan kajian kitab turats mingguan. Kegiatan yang dibungkus dalam program Rezende Ta’lim atau pengajian keliling kampus ini, untuk serial perdananya, bertempat di Masjid Sultan Haji Ahmad Shah, International Islamic University Malaysia (IIUM). Isi kajian ini mengulas dua kitab klasik yang sudah tidak asing lagi didengar di kalangan pelajar, yaitu kitab “Bidayatul Hidayah” karya Imam Al Ghazali dan kitab “Mafhum Ahli Sunnah Wal Jamaahí” karya KH. Abul Fadhol As-Senori, Tuban.

Kajian kitab turats yang mirip dengan kegiatan sorogan di pesantren ini menghadirkan Ustadz Robi’ Uzt dan Ustadz Taufik sebagai pen-syarah. Metode pengkajiannya diawali dengan pembacaan tekstual kata per-kata dalam kitab, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan makna atau maksud kalimat dari pensyarah. Sebelum masuk pembahasan isi kitab, terlebih dahulu pen-syarah memaparkan biografi masing-masing dari pengarang kitab.

“Kajian kitab turats ini sangatlah perlu untuk kalangan pelajar seperti kita, mengingat dengan membaca kitab-kitab ulama salaf hati menjadi sejuk dan pikiran mudah tenang akan petuah dan nasihat yang terkandung di dalamnya”, ujar Ustadz Robi’ mengawali pembahasan. “Yang kita sebut kolot itu pernah modern di zamannya, dan yang saat ini berlaku, mau tidak mau akan jadi kolot pada waktunya. Pada akhirnya bukanlah zaman yang jadi penentu, akan tetapi cara menghadapinya. Dari sini akan tampak mana yang benar-benar primitif-terbelakang dan mana yang modern-berkemajuan” Ungkap Alfin selaku Ketua KMNU Malaysia.

Membaca kitab klasik merupakan tradisi yang masih dilestarikan di berbagai pesantren yang ada di bumi nusantara. Penyajian materi yang tertuang dalam kitab-kitab ulama terdahulu memang memiliki karakteristik tersendiri. Disamping kaya akan informasi, terdapat banyak sekali hikmah dan pelajaran yang terkandung didalamnya. Apalagi kitab tersebut dikarang oleh seorang ulama besar yang tidak asing lagi di kalangan cendikiawan muslim dunia yang tidak hanya ahli dalam satu bidang ilmu saja, bahkan di berbagai macam cabang ilmu pun beliau menjadi pelopor dan mujaddid. Maka tidak heran jika kitab-kitab karangan Imam Al-Ghazali menjadi sumber rujukan yang paling diminati di penjuru dunia. Salah satunya yaitu kitab “Bidayatul Hidayah”.

Secara ringkas, kitab yang merupakan intisari dari “Ihyaul Ulumuddin” ini terdiri atas tiga sub pembahasan. Pertama, membahas tentang adab-adab ketaatan.  Kedua, berisi tentang apa itu maksiat dan bagaimana cara meninggalkannya. Ketiga, menjelaskan tentang bagaimana bergaul dengan manusia, sesama makhluk, dan beradab kepada Sang Maha Pencipta. Pengarang berharap dengan digubahnya kitab ini menjadi permulaan hidayah yang dapat menghantarkan pembacanya menuju ke akhir capaian ilmu yaitu ma’rifat billah.

Selain memunculkan tokoh timur-tengah, kajian kitab turats kali ini juga memunculkan tokoh yang tidak asing namanya dalam jajaran ulama besar di bumi nusantara, yaitu Syaikh Abul Fadhol As-Senori atau lebih dikenal dengan Mbah Fadhol. Sejak kecil beliau tekun dalam menimba ilmu, hingga pada saat usia 9 tahun, beliau  mampu menghafal Al-Qur’an dalam masa dua bulan saja. Selain belajar dari ayahanda, beliau juga pernah berguru kepada KH. Hasyim Asy’ari. Diantara santri beliau yang masih hidup sampai saat ini adalah KH. Maimun Zubair dari Rembang.

Mbah Fadhol merupakan sosok ulama nusantara asal Tuban yang terkenal akan kesederhanaannya, produktif nan cerdas. Tidak hanya ahli mengajar dan menulis, beliau juga sosok ulama yang multi talenta,  kreatif, dan tekun dalam bekerja. Banyak pekerjaan diluar belajar-mengajar yang telah beliau lakukan. Diantaranya, pernah bekerja sebagai tukang reparasi jam tangan. Sampai-sampai beliau sanggup membuat jam tangan sendiri atas ketekunannya dan keseriusannya dalam pekerjaannya itu.

Risalah “Mafhum Ahlussunnah wal Jamaah” merupakan salah satu buah karya tulisnya. Kitab kecil yang merupakan bagian dari penjelasan kitab “Jauharut Tauhid” ini menerangkan secara rinci apa yang dimaksudkan dengan Ahlussunnah wal Jamaah. Diawali dengan memaparkan secara singkat siapa itu salafussolih, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan makna istilah perkata dari Al-Ahl dan Wal JamaahAs Sunnah wal Bid’ah, hingga pemaparan secara historis munculnya sekte dalam Islam berikut perjalanannya hingga berkembang dan masuk ke bumi nusantara sampai munculnya organisasi NU dan Muhammadiyah.

Program Rezende Ta’lim mingguan ini akan diadakan secara bergilir dari kampus ke kampus. Meski kegiatan ini boleh diikuti oleh siapa saja dan terbuka untuk umum, diharapkan dengan terealisasinya program unggulan ini menambah keakraban sesama anggota KMNU di berbagai Perguruan Tinggi di Malaysia. (AM/Eff)

You might also like
Comments
Loading...