KMNU di acara Langgas Talk: Negara, Nasionalisme, dan Radikalisme

Langgas talk Leaders Speech Nationalism yang diselenggarakan oleh PIB (Pengawal Ideologi Bangsa) IPB (Institut Pertanian Bogor) 2020 telah telah berhasil dilaksanakan pada tanggal 12-14 Agustus 2020 pukul 13.00-16.00 WIB di setiap rangkaian acaranya dalam 3 hari. Webinar ini menggunakan aplikasi zoom sebagai sarana penyampaian materi sehingga acara ini dilaksanakan secara daring. Kegiatan ini mengundang 8 ketua OMEK (Organisasi mahasiswa eksternal kampus) yaitu KMNU, PMII, IMM, KAMMI, HMI, GMKI, GMNI serta KMHDI tingkat nasional yang bergerak dalam bidang pengembangan diri mahasiswa terutama yang dianggap sudah cukup mapan, konsisten dalam mendukung pancasila atau ideologi bangsa dan memiliki kontribusi dalam mendidik anak bangsa. Selain itu, mereka juga mengundang organisasi lain luar kampus seperti setara institute. Tentu organisasi Internal kampus mereka juga ikut hadir yaitu BEM KM IPB dan juga MPM KM IPB.

Seminar ini juga menghadirkan para petinggi negara sebagai keynote speakers diantaranya Ketua MPR RI (H. Bambang soesatyo), Kepala BNPT RI (Dr. Drs Boy Rafli), Kepala BPIP RI (Prof. Drs KH Yudian), dan tentu perwakilan petinggi IPB Rektor IPB (Prof. Dr Arif satria). Kegiatan ini dibagi menjadi tiga hari sehingga mereka memiliki subtema atau topik di setiap harinya yang berbeda-beda namun tetap dalam payung yang sama yaitu “Nasionalisme” sebagai topik utama. Topik di hari pertama adalah “Pancasila memenangkan zaman: Masalah dan tantangan menghadapi arus global”. Topik di hari kedua adalah “Tipologi gerakan Radikalisme dan agenda politik Global”. Terakhir di hari ketiga topiknya adalah “Upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan”. Dalam acara ini KMNU mendapatkan kesempatan berbicara di hari ke 3 yang diwakili oleh Presidium Nasional V PP KMNU 2020/2021 (Avuan Muhammad Rizki).

Seminar ini diikuti oleh mahasiswa baru IPB terutaman penghuni asrama, tamu undangan jalur ketua osis, dan masyarakat umum. Tentunya webinar ini gratis. Setiap pemateri diberikan waktu 20 menit untuk menyampaikan materinya. Dalam penyampaian materinya, perwakilan KMNU menitik beratkan pada sejarah terbentuknya negara dan cara implementasi nilai-nilai kebangsaan versi KMNU.

Sebelum memulai penjelasan materi, perwakilan KMNU menanyakan 5 pertanyaan fundamental sebagai berikut.

  1. Apa arti dan fungsi Negara bagimu?
  2. Pentingkah bagimu keberadaan sebuah negara?
  3. Apa itu Nasionalisme? Dan bagaimana kita menyikapinya?
  4. Apa itu Radikalisme? Dan bagaimana kita menyikapinya?
  5. Apa itu dasar negara dan nilai-nilai kebangsaan? dan bagaimana cara kita mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan KMNU?

Disambung berikutnya, perwakilan KMNU menjelaskan mengenai nasionalisme. Rasa nasionalisme akan terbentuk setelah para pemuda benar-benar memahami sejarah dari negara dan esensi dari sebuah negara. Sebab pasti akan beda penghayatanya antara generasi pejuang dan generasi muda yang tidak merasakan secara langsung apa bedanya ada negara dan tidak ada. Negara bisa ada karena naluri manusia itu sendiri yang membutuhkan kelompok sosial untuk memudahkan kebutuhan dirinya yang tidak mampu dipenuhi sendiri, fungsi identitas dan mencegah perbedaan kepentingan yang berujung kepada peperangan. Beberapa negara punya alasanya sendiri untuk berdiri. Ada karena rasa penderitaan yang sama, ada yang karena kalah perang, ada yang terbentuk oleh rasa ketidakpuasaan dengan pemerintah sebelumnya, dan lain sebagainya. Kasus di Indonesia adalah karena adanya penjajahan dan Indonesia merasa ingin merdeka karena ingin terbebas dari penyiksaan sehingga fungsi negara yang diharapkan saat itu adalah fungsi proteksi dan kesejahteraan rakyat pribumi secara adil. Tujuan negara kita tersebut kemudian kita ketahui sekarang di dalam pembukaan UUD 1945.

Cara terbaik untuk menyalurkan rasa Nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan adalah dengan cara PPT (Passion, Peran, dan Tujuan hidup). Cara ini adalah rumusan yang fleksibel dan universal sehingga bisa digunakan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh waktu.

Kemudian berikutnya tentang radikalisme. Radikalisme memiliki definisi yang luas. KMNU memahami dari berbagai aspek seperti sejarah, ilmu politik, dan ilmu bahasa itu sendiri. KMNU tidak sepakat dengan radikalisme dalam konteks mengganti dasar negara kita NKRI atau mengganti sistem negara dengan pertimbangan SARA secara tunggal.

Perwakilan KMNU juga menjelaskan negara dalam pandangan islam. Fungsi negara dalam islam pada hakikatnya untuk memudahkan umatnya untuk beribadah sehingga hidup tanpa negara tidaklah mungkin belajar dari sejarah manusia itu sendiri. Bahkan Rasulullah SAW saja membuat Piagam Madinah untuk memudahkan ibadah dan dakwah islam di Madinah yang tidak bisa beliau dapat sebelumnya di Mekah sehingga jelas nasionalisme penting selama tidak melampaui batas. Misalnya melebihi rasa kemanusiaan dan nilai agama itu sendiri. NU dalam sejarahnya ikut turut.

Selengkapnya bisa dilihat siaran ulangnya di Youtube KMNU Pusat dengan mengetik kata kunci “Langgas Talk”. Harapanya setelah webinar ini dilaksanakan, dapat membangkitkan semangat pemuda dalam menerapkan nilai-nilai kebangsaan sehingga Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat dan maju karena masyarakatnya memiliki rasa Nasionalisme yang besar. Hal ini disebabkan karena tantangan zaman globalisasi dan westerinisasi turut berdampak pada rasa kecintaan pemuda terhadap Indonesia. Selain itu, harapannya pemerintah juga memperbaiki kinerjanya karena penurunan rasa kecintaan terhadap bangsa bukan hanya disebabkan oleh satu penyebab namun banyak faktor diantaranya adalah rasa ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah.

Disusun Oleh: Avuan Muhammad Rizki (Presnas V KMNU)

You might also like
Comments
Loading...