KISAH CORONAVIRUS #1

Coronavirus (virus corona) mampu bertahan di udara hingga 3 jam, di atas tembaga bertahan 4 jam, dan di atas kardus selama 24 jam. Coronavirus mampu bertahan di permukaan seperti plastik, stainless steel selama 3 hari. Jika COVID-19 sama dengan coronavirus yang lain seperti SARS atau MERS, ia mampu bertahan di permukaan seperti kaca dan metal selama 9 hari.

Menariknya, sangat sedikit bayi yang baru lahir nampaknya sakit karena coronavirus yang baru. Bayi yang berumur 1-11 bulan kurang mudah diserang dengan virus ini. Hal ini diduga karena paru-parunya belum mengekspresikan reseptor tertentu yang berfungsi sebagai jalan masuknya virus ke dalam paru-paru.

Infeksi menimbulkan risiko yang besar untuk orang yang berumur lebih dari 60 tahun. Hal ini karena berhubungan dengan sistem kekebalan tubunya yang lemah. Selain itu, juga meningkatkan inflamasi yang dapat meningkatkan replikasi virus.

Salah satu studi menunjukkan bahwa pasien yang menderita diabetes atau gangguan jantung koroner cenderung meninggal akibat infeksi COVID-19. Studi lain mengungkapkan bahwa bila rekomendasi karantina selama 14 hari adalah layak, sebesar 1% akan mengalami gejala setelah selesai dari karantina 14 hari, yang menjelaskan mengapa beberapa tes positif yang dipulihkan untuk virus nanti

Dokter menemukan bahwa beberapa pasien yang sembuh mungkin mengalami penurunan fungsi paru-paru. Kapasitas paru-paru menurun dari 20-30% sampai 3 pasien. Mereka terengah-engah jika mereka berjalan cepat.

Studi yang masih menjadi kontroversi menyatakan bahwa coronavirus bermutasi menjadi 2 galur, yaitu tipe L dan S. Tipe L merupakan galur baru dan lebih agresif dari pada tipe S. Seseorang dengan gejala menengah tampaknya diinfeksi oleh tipe S, sedangkan gejala parah diinfeksi oleh tipe L. Sekitar 70% infeksi adalah agresif dan disebabkan oleh tipe L. Para ahli menarik klaim ini karena itu mungkin dihasilkan dari kesalahan pada analisis data. Jika virus terus menerus bermutasi, semua usaha untuk membuat vaksin akan sia-sia.

Berdasarkan studi yang lain, penempatan Wuhan di bawah penguncian di akhir januari membantu memperlambat penyebaran infeksi COVID-19 sekitar 80%. Studi mendorong perubahan perilaku dan intervensi kesehatan publik, seperti deteksi awal, isolasi, dan cuci tangan secara reguler

Beberapa studi mengkalim bahwa suhu dan kelembapan yang tinggi mungkin menurunkan transmisi COVID-19, mengindikasikan bahwa tibanya musim panas dan musim penghujan pada belahan bumi utara dapat menurunkan transmisi COVID-19.

Alih bahasa : @alfarisi_hamzah
Sumber: video Hashem Al-Ghaili, fb.com/sciencenaturepage

You might also like
Comments
Loading...