KH. Ma’ruf Amin: Hilangnya Ilmu karena Meninggalnya Ulama

PCINU Malaysia mendapatkan kesempatan berharga karena pada bulan Januari lalu kedatangan tamu agung dari Indonesia, KH. Ma’ruf Amien. Beliau merupakan ulama yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia dan juga Rais ‘Aam PBNU. Beliau menyampaikan beberapa wejangan bijaknya. Beliau menyampaikan bahwa seorang ulama yang diikuti masyarakat umum dan diikuti anak ideologis pengikut para ulama, dalam menjalankan tugasnya perlu memperhatikan hadis berikut:

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan diwafatkannya para ulama, sehingga apabila ulama tidak tersisa lagi, orang-orang akan mengambil pemimpin-pemimpin (agama) yang bodoh, mereka ditanyai lalu berfatwa dengan tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan”. (HR Bukhari dan Muslim).

Ketika Allah sudah menurunkan dan mengkaruniakan ilmu kepada hambanya atau kepada manusia, maka Ia tidak mencabut ilmu tersebut, namun yang terjadi sesungguhnya adalah ilmu tersebut hilang karena meninggalnya para ulama. Jika hal tersebut dibiarkan hingga pada titik di mana tiada ada satu pun ulama, maka manusia akan bertanya kepada para pemimpin yang ‘jahil’. Kemudian para pemimpin tersebut karena kejahilannya, akan berfatwa tanpa dasar ilmu yang memadai sehingga mereka sesat dan menyesatkan.

Tugas seorang ulama secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu fardliyyah dan mas’uliyyah. Pertama berkaitan dengan menyiapkan para pengganti dirinya, karena itu tugas ini disebut juga i’dad al-ulama. Adapun tugas mas’uliyyah yang lebih bersifat kolektif dan komunal terbagi ke dalam dua kelompok yaitu ummatiyyah dan wathaniyyah. Menjadi tanggung jawab seorang ulama adalah mengurusi umat. Hal ini jelas sekali diisyaratkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam wasiatnya sebelum meninggal, “ummati, ummati, ummati.”

Dalam memahami dan menaati sunah, kita mesti loyal dengan berkaca pada apa yang disebutkan oleh hadis, baaya’tu ‘ala al-sam’i wa al-tha’ah (mendengarkan dan menjalankan), fi al-yusri wa al-‘usri (dalam kegembiraan dan kesulitan). Posisi dan peran Nahdlatul Ulama dapat dilihat sekurang-kurangnya dari empat perspektif, yaitu amaliyyah (ritual), jam’iyyah (organisasi), fikriyyah (reform), dan harakiyyah (khidmah). Jika selama ini kita sudah mengenal kaidah “al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah,” maka izinkan kami menambahkan satu kaidah sebagai pelengkap agar NU tetap bisa dinamis, yaitu “al-ishlah ila ma huwa al-ashlah, thumma al-ashlah fa al-ashlah” (selalu mengadakan perbaikan menuju yang lebih baik dan lebih baik lagi). Sebab, kaidah yang pertama al-muhafadzah terlihat hanya terpaku pada pihak lain, yaitu mempertahankan warisan dan mengambil perbaikan. Sementara orang NU sendiri yang menjadi subyek belum mengambil dan fokus pada peran mereka sendiri.

Ukhuwwah yang harus dibangun oleh seorang muslim terutama mereka yang mengaku dirinya NU adalah islamiyyah, wathaniyyah,dan basyariyyah. Melihat betapa sebagian orang NU dulu bahkan hingga sekarang masih termarginalkan, beliau ingin menambahkan satu lagi, yaitu ukhuwwah nahdliyyah. Orang NU harus sadar akan kekuatan domestik mereka sendiri sehingga harus mempererat jalinan persaudaraan mereka sendiri juga. Manhaj pemikiran NU ada tiga yaitu tawassuthiyyah (moderat), tathawwuriyyah (dinamis), dan manhajiyyah (metodologis). Sebagai organisasi harakiy, NU juga mengemban amanat yaitu himaiyyah (penjagaan), ishlahiyyah (perbaikan), dan khidmatiyyah (pengabdian). (Ighfar H Arsyad/Am/Eff)

bersambung….

You might also like
Comments
Loading...