KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

KETIKA TUHAN BERBICARA JODOH

Oleh: Nilna Maghfirotul Ilah
[KMNU UIN SUKA]

Suasana Pondok Pesantren pagi ini masih seperti biasanya. Kegiatan para santri ngaji setiap selesai jamaah sholat shubuh adalah setoran hafalan al-Qur’an dengan pak Kyai Jamal. Pondok “Al-Mahabbah” dibawah asuhan Pak Kyai Jamal memang terkenal dengan sistem ngaji al-Qur’an yang bagus. Akan tetapi, tidak semua santri bisa langsung setoran ngaji ke Pak Kyai. Sebab, sebelum dapat mengaji ke beliau ada beberapa tahapan tes dengan para santri senior. Untuk itu, di Pondok ini seluruh santri sebelum menghafalkan al-Qur’an dianjurkan memperbaiki bacaan (Makharijul Huruf) serta tajwid secara tuntas terlebih dahulu. Walaupun Pondok ini Pondok khusus penghapal al-Qur’an, Pak Kyai tidak memaksa seluruh santrinya untuk menghapalkan al-Quran. Pak Kyai Jamal hanya menekankan kepada santrinya untuk membenarkan bacaan al-Qur’annya. Pilihan menghapalkan al-Qur’an atau tidak, menurut Pak Kyai, kembali pada kemauan santri masing-masing.

Sebagaimana rutinitas biasanya, Faqih sebagai lurah atau ketua Pondok Pesantren beserta pengurus-pengurus yang lain membangunkan (ngobraki) para santri untuk sholat jamaah dan ngaji. Faqih ditunjuk langsung sebagai lurah Pondok oleh Pak Kyai atas ketekunan, kerajinan dan keistiqomahannya selama nyantri di Pondok al-Mahabbah. “Semoga engkau amanah ya, Kang. Semoga bisa menjadi contoh yang baik bagi para santri di Pesantren ini”, Tutur pak Kyai Jamal kepada Faqih saat sowan ke ndalem. “Injeh, insyaAllah, pangestunipun Abah”, sendiko dawuh Faqih kepada Pak Kyai Jamal. Faqih memang terkenal sebagai santri kesayangan Pak Kyai Jamal. Selain tampan, dia cerdas dan juga sangat nurut (patuh) dengan dawuh Pak Kyai Jamal. Dia juga sangat santun dalam bertutur kata dan terkenal dengan tawadhu’.

Berbeda dengan santri yang lain, Faqih memang paling betah dan istiqomah dalam hal nderes atau muraja’ah. Di tengah muraja’ah hafalannya, salah satu santri mendekatinya, yaitu Rizal, teman dekatnya. “Kang, Kang Faqih, ditimbali Pak Kyai Jamal diutus ke ndalem sekarang juga”. Jelas Rizal kepada Faqih. “Ada apa ya Kang, Pak Kyai nimbali saya?” Tanya Faqih gemetar. Walaupun Faqih murid kesayangan dan ia sudah biasa ditimbali Pak Kyai, ia tetap saja masih deg- deg-an jika ditimbali Pak Kyai Jamal diutus ke ndalem beliau. “Saya ndak tahu Kang, tapi di ndalem sepertinya ada tamu Kang”. Tambah Rizal. Memang terlihat dari masjid Jami’ mobil putih mewah terparkir di depan ndalem Pak Kyai Jamal, karena ndalem beliau berada tepat di depan masjid Jami’. “Oh iya Kang, sepertinya Pak Kyai kedatangan tamu. Ya sudah kalau begitu saya langsung pamit ke ndalem saja ya Kang. Assalamu’alaikum”. Pamit Faqih kepada Rizal.

Sesampainya di ndalem Faqih langsung menuju ruang tamu Pak Kyai Jamal. “Assalamu’alaikum”. Sapa Faqih dengan santun yang masih berhenti di depan pintu samping ndalem Pak Kyai Jamal. “Wa’alaikumussalaam” Jawaban serempak semua orang yang duduk di ruang tamu. “Nah, itu yang namanya Abdullah Faqih, Kyai Syaifuddin.” Kata Pak Kyai Jamal memperkenalkan di depan para tamu. Ternyata tamu agung yang datang itu merupakan guru Pak Kyai Jamal waktu nyantri di Pondok Pesantren dulu. Pak Kyai Syaifuddin berniat mencarikan jodoh untuk putri beliau, Zahra Nafisah, yang baru saja lulus kuliah di Mesir. Kyai Syaifuddin mempercayakan kepada Kyai Jamal untuk memilihkan salah satu santri untuk menjadi suami putri Kyai Syaifuddin. “Oh iya, jadi begini nak Faqih, kedatangan saya sekeluarga ini meminta ananda untuk menjadi suami dari anak saya bernama Zahra Nafisah. Anak saya baru saja pulang dari Mesir sebulan yang lalu. Saya rasa inilah saatnya dia mempunyai pasangan hidup. Saya memang sudah dari jauh-jauh hari meminta kepada Kyai Jamal memilihkan salah satu santri beliau untuk menjadi calon suami anak saya. Dan ternyata beliau mengajukan nama sampean. Bagaimana nak Faqih, apakah sampean bersedia?” Jelas Kyai Syaifuddin kepada Faqih. Sontak hal ini membuat Faqih kaget dan gemetar tak karuan. Bagaimana mungkin bisa terjadi secepat ini. Faqih merasa masih belum siap dan ia perlu mencari ilmu yang lebih lagi. Terlebih jika ia akan menjadi menantu Pak Kyai Syaifuddin yang tentunya hal itu merupakan tanggung-jawab yang besar baginya. Bagaimana tidak ia harus siap menjadi pengganti Kyai Syaifuddin mengemban Pondok Pesantren sebagai generasi penerus selanjutnya. Faqih hanya terdiam, tercengang masih belum percaya bahwa hal ini akan terjadi kepadanya. Lidah Faqih kelu. “Bagaimana nak Faqih?” tegas Pak Kyai Syaifuddin kepada Faqih sekali lagi yang masih menunggu jawaban terlontar dari mulutnya. “Santai saja Kang Faqih, kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu Kang. Kami beri waktu untuk berpikir. Sebelumnya Abah minta maaf, mungkin ini terkesan buru-buru. Tapi Abah sudah jauh hari memikirkan ini Kang, tak lama setelah Kyai Syaifuddin meminta Abah untuk memilihkan jodoh untuk putri beliau. Ini amanah dan ini saya percayakan kepada sampean, Kang”. Jelas Pak Kyai Jamal yang berusaha menenangkan kekagetan dan kebingungan Faqih yang terpampang jelas dari wajah tampannya. “Minggu depan, kami akan ke sini lagi bersama dengan putri saya. Semua keputusan saya serahkan kepada nak Faqih saja” Tambah Pak Kyai Sayifuddin.

Setelah pertemuan itu, Faqih istiqomah melaksanakan sholat istikharah. Ia dilanda kebimbangan yang sangat. Bagaimana tidak, karena ternyata diam-diam Faqih telah jatuh hati kepada putri cantik Pak Kyai Jamal, Aisyah Amalia. Sebagaimana Faqih, Aisyah juga telah lama suka dengan santri kesayangan Abahnya itu. Perasaan mereka berawal dari pertemuan yang tak disengaja di ndalem setiap kali Faqih ditimbali Pak Kyai, hanya karena pandangan mata yang saling bertemu tanpa disengaja. Selain itu Aisyah sudah lama mengagumi santri kesayangan Abahnya itu lantaran lantunan ayat al-Qur’an dari Faqih setiap darusan atau semaan di masjid Jami’. Betapa sangat indah suara dan bacaan fashih Faqih ketika melantunkan ayat-ayat al-Qur’an dengan lancar. Di sisi lain Faqih juga mengagumi Aisyah. Aisyah, putri Pak Kyai Jamal yang cantik dan anggun. Selain itu juga karena kecerdasan Aisyah. Faqih sering kali tak sengaja melihat Aisyah di serambi masjid selepas sholat Ashar, yang sedang berdiskusi dengan para remaja perempuan dalam Kajian Keputrian yang dipimpin oleh Aisyah. Mereka saling mengagumi satu sama lain. Dan ternyata dari pertemuan-pertemuan yang tak disengaja itu telah menebarkan rasa suka diantara keduanya. Keduanya saling mengagumi dalam diam. Karena memang tidak ada keberanian untuk mengungkapkan perasaan masing-masing.

Aisyah yang mendengar kabar perjodohan ini, setiap hari hanya bisa menangis meluapkan segala kesedihan hatinya. Aisyah memang tipe orang yang sangat pendiam dan tertutup dalam hal apapun. Apalagi untuk mengungkapkan hal ini kepada Abahnya. Aisyah hanya memendam semua gejolak yang ia rasakan saat ini. Yang bisa Aisyah lakukan hanya berdoa meminta kekuatan dan ketabahan hati kepada Allah. Sebagaimana Aisyah, perjodohan ini membuat Faqih sedih. Di satu sisi Faqih tidak berani menolak apa saja dawuh Pak Kyai Jamal. Faqih selalu saja meng-iya-kan bagaimanapun itu. Akan tetapi, hal ini bagi Faqih sangatlah berat. Karena hati Faqih telah terpikat pada sosok perempuan cantik yang sudah lama ia kagumi, putri cantik Pak Kyai Jamal, Aisyah Amalia. Faqih bingung harus bagaimana bersikap dan memberikan jawaban kepada Pak Kyai tentang perjodohan kemarin.

Seminggu berlalu. Dan kini datanglah rombongan Pak Kyai Syaifuddin beserta keluarga ke ndalem Pak Kyai Jamal. Iya, kedatangan beliau adalah untuk memastikan atas jawaban yang akan diberikan oleh Faqih. “Bagaimana, nak Faqih?” Tanya Pak Kyai Syaifuddin kepada Faqih. Dari pihak Pak Kyai Jamal pun hanya menyimak dengan seksama. Karena memang Pak Kyai Jamal hanya perantara saja. Sekarang, semua mata tertuju hanya kepada Faqih menantikan jawaban atas perjodohan yang ditawarkan minggu lalu. Aisyah pun ikut menyimak walaupun ia hanya bisa mendengar samar-samar dari kamarnya. Tak henti-hentinya ia mengucapkan kalimat istighfar untuk menguatkan hatinya dan isakan tangis Aisyah yang ia coba tahan agar tidak terdengar orang lain. Aisyah mengumpulkan kekuatan hati untuk mendengar jawaban yang akan diberikan oleh Faqih nantinya. Memang di dalam lubuk hati Aisyah ada perasaan terluka dan tidak rela. Aisyah pun sadar bahwa mungkin hanya ia yang menaruh perasaan ke Faqih. Jadi, mana mungkin cintanya akan terbalas. Aisyah tidak tahu sebenarnya Faqih juga mempunyai perasaan yang sama dengannya. Iya, mereka sama-sama cinta dalam diam.

Di ruang tamu ndalem itu, Faqih masih saja menunduk. Sekarang bukan waktunya untuk berpikir lagi dan ia harus memutuskan. Hingga Pak Kyai Jamal memecah keheningan di ruang itu. “Bagaimana Kang?” Tanya Pak Kyai Jamal mengulang pertanyaan Pak Kyai Syaifuddin. Dengan gemetar Faqih menjawab. “Bismillah, injeh, insyaAllah saya bersedia Pak Kyai”. Jawaban singkat Faqih yang membuat semua orang yang berada di ruang itu serentak mengucapkan Hamdalah. Kini, perasaan gemetar dan gugup Faqih mulai reda. Faqih memberanikan diri untuk menatap sekelilingnya.

Dia menemukan sosok perempuan cantik berjilbab syar’i duduk di antara Pak Kyai dan ibu Nyai Syaifuddin. Perempuan itu bernama Zahra Nafisah, yang dijodohkan dengan Faqih. Subhanallah, jika memang yang terbaik buatku maka saya mohon beri kemudahan atas segalanya, ya Allah. Gumam Faqih dalam hati. Sejenak, terlintas dalam pikiran Faqih nama itu lagi, Aisyah. Perempuan yang telah menarik hatinya sejak pertemuan tak disengaja itu. Bayangan tentang Aisyah kembali muncul sebagai tanda ketidaksepakatan antara hati dan pikiran Faqih.

Sakit tak berdarah. Itulah yang dirasakan Aisyah kala mendengar jawaban Faqih atas perjodohan itu. Aisyah menangis sesenggukan. Betapa sakit hatinya, perasaan ke seseorang itu memang benar tak terbalaskan. Cinta dalam diam kepada Faqih. Kasih dan cinta Aisyah pupus. Aisyah mencoba tegar menghadapi semua ini. Tiga bulan setelah lamaran itu, Faqih dan Zahra resmi menikah. Kabar pernikahan ini membuat Aisyah menangis tak hentinya. Seminggu sebelum Faqih menikah, ia sowan ke ndalem Pak Kyai Jamal untuk meminta doa restu. Setelah kedatangan Faqih itu, Aisyah memberanikan diri cerita kepada Abahnya tentang perasaannya kepada Faqih. Abah dan Uminya sontak kaget mendengar pengakuan putrinya itu. Bagaimana tidak, hampir setiap hari Uminya melihat Aisyah yang sering menangis dan mengurung di kamar tanpa tahu penyebabnya hingga ia jatuh sakit. Memang Aisyah tipe orang tertutup. Aisyah baru akan meceritakan kepada orang lain jika ia sudah merasa tidak kuat lagi menahannya sendiri. Dari ceritanya itu lah, Abah dan Uminya baru mengetahui bahwa ternyata putrinya begini karena perasaan yang tak terbalaskan oleh Faqih. Cinta dalam diam mereka membuat mereka tambah saling menjauh. Karena kini Faqih menjadi milik orang lain. Hal ini semakin membuat Aisyah terpuruk. Wajah cantiknya kini terlihat pucat. Senyum meronanya hilang lenyap begitu saja. Yang ada hanya genangan air mata yang tak hentinya mengalir membanjiri wajah pucatnya itu. Keadaan Aisyah kini sangat sangat terpuruk.

Mendengar kabar dari surat yang dikirim oleh Umi tentang Aisyah yang sakit membuat Faqih cemas dan khawatir. Hampir setiap hari ia memikirkan Aisyah. Faqih ingin sekali menengok keadaan Aisyah. Faqih tidak bisa membayangkan bagaimana terpuruknya Aisyah sekarang.

Hingga ia memberanikan diri meminta izin kepada Zahra untuk pergi menjenguk Aisyah. Sebenarnya Faqih takut menyakiti hati Zahra. Karena Zahra tahu kalau dulu memang suaminya pernah menyimpan perasaan suka kepada Aisyah. “Za, Aisyah, putri Kyai Jamal sedang sakit. Kemaren Umi kirim surat dan beliau menceritakan semua keadaan Aisyah. Mas harap kamu mau mengizinkan untuk pergi melihat keadaannya.” Kata Faqih memelas kepada Zahra. “Iya Mas, Zahra mengizinkan. Sebenarnya Zahra mengerti bagaimana perasaan Mas ke Aisyah, sekalipun mas mencoba menutupinya. Semua ini gara-gara Zahra Mas. Jika mungkin Zahra tidak menyetujui perjodohan ini tidak akan ada hati yang tersakiti, Mas.” Jawab Zahra diiringi isakan tangis. Faqih mendekati Zahra menenangkannya dengan memeluk lembut Zahra. “Sudahlah Zahra. Tak usah kamu menyalahkan dirimu. Semua ini sudah diatur oleh Allah. Mas juga minta maaf masih belum bisa mencintaimu sepenuhnya. Tapi Mas janji, Mas akan berusaha mencintaimu sepenuh hati dan jadi imam yang terbaik buat kamu, Zahra.” Setelah itu Faqih segera pamit pergi ke rumah Aisyah.

 “Assalamu’alaikum.” Sapa Faqih ketika tiba di rumah Aisyah. “Wa’alaikumussalam.” Jawab serempak Pak Kyai dan Bu Nyai Jamal. Faqih menatap wajah beliau yang penuh kesedihan dan kekhawatiran. Tanpa tambahan kata apapun Bu Nyai langsung mengantar Faqih ke kamar Aisyah untuk melihat keadaannya sekarang. “Assalamu’alaikum, Aisyah”. Sapa Faqih kepada Aisyah yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Betapa memprihatinkan keadaan Aisyah sekarang. Wajah cantiknya kini tak lagi terpancar seperti dulu. Kulit putihnya yang segar kini menjadi layu bagai tanaman yang lama menanti kedatangan hujan. Badannya mulai kurus. Matanya sembab, bibirnya kering dan pipi meronanya tak henti-hentinya dihujani air mata. Aisyah melihat kedatangan Faqih. Aisyah hanya bisa menangis dan menangis. “Allah tidak suka melihat hamba-Nya yang menyiksa dirinya seperti ini, Aisyah.” Tutur Faqih dengan nada sedih. Faqih sungguh tak tega melihat keadaan Aisyah yang seperti ini. Aisyah terus saja menangis dan tak mampu berkata untuk membalas sapaan Faqih. “Seharusnya kau sambut kedatanganku dengan senyuman bukan dengan tangisan, Aisyah. Mana senyum manis yang dulu selalu kau ukir di bibirmu? Sepanjang perjalanan hanya kamu yang ada dibenakku. Aku merindukanmu yang dulu. Aku memang masih mencintaimu seperti dulu, Aisyah. Tapi aku minta maaf aku tidak bisa memilihmu, karena istriku. Mungkin Allah tidak menakdirkan kita bersama dan bersatu. Aku pun tidak bisa menolak semua yang sudah digariskan. Iya, mungkin perasaan kita tidak bisa diungkapkan, hanya sebatas cinta dalam diam. Sampai detik inipun perasaanku ke kamu masih seperti dulu, Aisyah. Tapi, sekarang ada hati istriku yang harus aku jaga. Bagaimanapun juga, dia lah makmumku yang sah. Aku pun juga tak ingin cinta semuku ini menyakiti hati istriku. Maafkan aku, Aisyah. Kedatanganku ke sini untuk memastikan keadaanmu baik-baik saja. Mulai sekarang belajarlah mengikhlaskan semua yang telah terjadi, Aisyah. Kembalilah seperti kamu yang dulu. Aku harap kamu akan menemukan penggantiku yang lebih, Aisyah. Percayalah itu.” kata-kata Faqih yang diiringi dengan tetesan air mata. Aisyah hanya bisa menangis tersedu-sedu. Hatinya terasa begitu pilu mendengar semua penuturan Faqih. Tak hentinya air mata membanjiri wajah pucatnya. Abah dan Uminya yang sedari tadi menemaninya di kamar ikut menangis tak kuasa melihat keterpurukan sang putri tercinta.

Hari demi hari, bulan berganti bulan, Abah dan Umi Aisyah dengan setia merawat putri cantiknya. Hingga setelah sekian lama itu keadaan Aisyah berangsur membaik. Aisyah kembali sehat seperti sedia kala. Aisyah memutuskan untuk melupakan semua masa lalunya tentang Faqih. Aisyah harus bangkit melanjutkan hidupnya. Aisyah harus memikirkan masa depannya yang lebih penting. Tentang jodoh Aisyah sudah pasrah kepada Allah. Aisyah yakin bahwa suatu saat nanti Allah akan mengirimkan jodoh terbaik sebagai ganti Faqih.

Dua tahun setelah itu, Aisyah dijodohkan dengan santri abahnya, Fahru Rizal, tak lain adalah teman dekat Faqih semasa nyantri di Pondok Pesantren. Rizal juga tak kalah tampan dengan Faqih. Memang ia tak sepandai Faqih. Akan tetapi Rizal mempunyai suara yang lebih merdu dibanding Faqih. Tak salah memang jika dulu ia diminta sebagai muadzin di masjid jami’. Tentang perjodohan itu awalnya masih bisa menerima, karena bagaimanapun juga untuk menyembuhkan luka hatinya masih butuh waktu lama lagi. Untuk menghapus nama Faqih dalam benaknya memang tak semudah yang ia pikirkan.

Seiring berjalannya waktu, Aisyah sudah mulai membuka hatinya kembali. Aisyah teringat pesan yang diucapkan Faqih bahwa ia harus bisa mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Bagaimanapun juga takdirnya memang bukan bersama Faqih. Aisyah harus membuka lembaran kehidupan yang baru. Aisyah menerima perjodohan dengan Rizal, santri yang dipilih oleh abah Jamal untuknya. Aisyah memantapkan hatinya dengan istiqomah melakukan istikharah. Aisyah berharap bahwa Rizal memang jodoh terbaik yang telah dikirimkan oleh Allah untuknya.

Sebulan setelah perjodohan itu, Aisyah resmi menikah dengan Rizal. Senyum bahagia tak hentinya terpancar di paras cantik wajah Aisyah. Faqih yang melihat itu pun ikut merasakan kebahagiaan yang dirasa Aisyah. Antara Faqih dan Aisyah kini sama-sama sudah melupakan kenangan masa lalu mereka. Mereka sudah mempunyai kehidupan dengan keluarga masing-masing. Faqih sudah bisa mencintai Zahra sebagai istri dan pendamping hidupnya. Dan Aisyah juga juga telah menemukan kebahagiaannya sendiri dengan suami pilihan abahnya, Fahru Rizal.

Jika takdir Allah sudah berbicara, sedalam apapun rasa cinta dan suka terhadap seseorang, belum tentu itu jodoh. Allah pun tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Karena sesungguhnya jodoh itu urusan Tuhan. Manusia sebagai hamba hanya bisa berencana, tapi skenario kehidupan Allah-lah yang menentukan.

You might also like
Comments
Loading...