KESETARAAN GENDER

Prinsip utama dalam beragama adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, jangan pernah mengambil posisi sebagai Tuhan. Karena itu, bersikaplah rendah hati dan penuh tawadhu’. Jangan menghakimi sesama manusia. Jangan mencederai sesama manusia. Kita semua tidak tahu siapa di antara kita yang diterima atau ditolak amal dan keimanannya (Musdah Mulia).

Pandangan masyarakat yang masih beranggapan mengenai kesetaraan gender di masa reformasi sangatlah  memihak atau merugikan. Seringkali bahwa perempuan selalu tidak memiliki hak-hak asasi, mereka berpendapat bahwa figure perempuan hanya melakukan tugas reproduksi, melahirkan anak, mengasuh anak, dan mengurus keluarga sehingga berpengaruh besar pada kesetaraan gender di lingkungan masyarakat. Mengingat kembali bahwa pada zaman jahiliah, anak perempuan dibunuh secara hidup-hidup karena orang tuanya khawatir untuk menanggung malu. Budaya itulah yang dikenal dengan budaya patriarki.

Budaya partriaki memandang bahwa perempuan tidak memiliki kemanusiaan seutuhnya, perempuan tidak memiliki hak untuk bersuara, tidak berhak untuk berkarya, dan tidak berhak untuk memiliki harta. Sebagaimana nilai-nilai demokrasi dalam segala hal. Budaya partiarki haruslah dihapus dan dihilangkan demi terciptanya masa depan yang demokratis. Apabila perempuan diposisikan sebagai makhluk dosmetik di masyarakat dan semua bangsa, maka akan terlihat jelas bahwa akan menjadi bangsa dan masyarakat yang tertinggal dan terbelakang. Bagaimana tidak tertinggal jika perempuan selalu dibatasi bahkan tidak diberikan akses untuk berkiprah. Perempuan adalah makhluk yang memiliki harkat dan martabat yang setara dengan laki-laki.

Al-Qur’an (An-Nisa’,[4]:1) menegaskan bahwa keduanya (perempuan dan laki-laki) diciptakan Allah SWT dari unsur yang satu (nafs wahidah). Secara tegas Islam menempatkan perempuan sebagai mitra sejajar laki-laki. Jika diperhatikan Indonesia, Afrika, dan negara-negara di Timur Tengah, masih melestarikan nilai-nilai budaya patriarki sehingga perlu adanya upaya rekonstruksi budaya dalam mengubah perilaku sosial masyarakat agar menjadikan kehidupan dalam bermasyarakat yang saling satu rangkaian khusunya untuk mengubah relasi gender yang timpang dan tidak adil terhadap perempuan. Datangnya Islam memberikan kesempatan bagi perempuan untuk mengekspresikan dirinya, memberikan argumentasi dan berbicara di depan publik. Namun tetap saja ada beberapa masyarakat, termasuk golongan umat Islam yang masih saja memandang perempuan tidak setara dengan laki-laki. Pemaknaan ajaran agama yang sangat tekstual (memaknai Al-Qur’an dan hadis secara harfiah belaka) sehingga mengabaikan aspek kontekstual. Adanya perbedaan tingkat intelektualitas ulama yang membuat tafsir atau interpretasi agama, dan juga karena pengaruh latar belakang sosio-kultural dan sosio-historis ulama yang menafsirkannya. Seharusnya ajaran Islam harus diyakini bahwa ajaran Islam bukan hanya sekadar tumpukan teks-teks suci, melainkan seperangkat pedoman ilahiah yang diturunkan demi kebahagiaan dan kemaslahatan semua manusia baik perempuan dan laki-laki.

Sudah saatnya keterpurukan perempuan itu harus segera diakhiri. Adanya pembuktian yang ada pada sejarah Islam dapat membantu perempuan untuk ditempatkan pada posisi yang sejajar dengan laki-laki seperti dalam hadist yang menjelaskan tentang diperbolehkannya perempuan menjadi imam shalat yang tergambar dalam hadist berikut: “Dari Ummu Waraqah binti Abdillah bin Harits berkata: Rasul SAW pernah mendatangi rumahnya dan memberinya seorang muazin dan menyuruhnya (Ummu Waraqah) menjadi imam bagi penghuni rumahnya. Abdurrahman mengatakan: Aku benar-benar melihat muazin-nya adalah seorang laki-laki tua.” (HR. Abu Daud).

Adapun sejarah gerakan perempuan Indonesia yang dilakukan oleh tokoh-tokoh perempuan, seperti Kartini, Rasuna Said, dan Nyut Dhien. Akan tetapi, harus diakui, perjuangan mereka belum selesai. Karena itu,menjadi tugas perempuan generasi sekarang melajutkan cita-cita luhur mereka. Dengan demikian, hidup perempuan akan bermakna sepenuhnya. Lalu bagaimana jika perempuan aktif dalam politik, apakah Islam membolehkan? Jawabannya sangat tegas bahwa Islam memperbolehkan perempuan terjun ke ranah politik, tidak hanya laki-laki yang dapat terjun pada ranah politik. Sebab Islam tidak semata memandang politik sebagai kekuasaan melainkan untuk tujuan yang mulia, demi membangun kesejahteraan masyarakat dan kemaslahatan umat manusia. Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati berpesan agar perempuan lebih berpartisipasi aktif hingga 30% kuota di parlemen dapat terpenuhi dan dapat menganalisis isu dengan baik berdasarkan data dan fakta yang rasional, tidak sekedar karena faktor emosional dalam memillih Presiden dan wakil rakyat. Perlu diingat bahwa perempuan diciptakan oleh Allah SWT juga memiliki tugas utama yaitu sebagai khalifah menjadi pemimpin, pengelola dan manajer, mulai dari memimpin dan mengelola diri sendiri.

Disusun oleh: Siska Fatmawati (KMNU UNISSULA)

You might also like
Comments
Loading...