KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

KEKINIAN YANG ROHMATAN LIL ‘ALAMIN

Oleh: Nurul Khusna ( KMNU IAIN Ponorogo)

Kita tidak bisa memungkiri bahwa kita sedang berada di era perkembangan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi.  Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi tidak hanya berwujud pada kecanggihan perangkat keras (hardware)-nya saja, melainkan juga pada perangkat lunak (software) atau aplikasi yang terdapat di dalamnya. Semakin canggih alat komunikasi yang tercipta, maka semakin canggih pula aplikasi-aplikasi yang disuguhkan.

Berbicara soal aplikasi, kurang afdal bila kita tidak mengulik terlebih dahulu maknanya. Bahwasannya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia aplikasi yang dimaksud adalah program komputer atau perangkat lunak yang didesain untuk mengerjakan tugas tertentu. Sedangkan menurut Hengky W. Pramana, aplikasi merupakan suatu unit perangkat lunak yang dibuat untuk melayani kebutuhan akan beberapa aktivitas seperti sistem perniagaan, game, palayanan masyarakat, periklanan, atau semua proses yang hampir dilakukan manusia.

Berdasarkan dua pengertian di atas, bisa kita tarik sebuah pengertian aplikasi secara umum. Bahwasannya aplikasi adalah perangkat lunak pada komputer yang berguna untuk menjalankan aktivitas manusia berdasarkan kebutuhan. Benar adanya bahwa aktivitas atau kegiatan manusia zaman sekarang tidak hanya berjalan di dunia nyata. Dengan memanfaatkan kecanggihan komputer dan sistem internet, manusia bisa melakukan apapun yang dia inginkan, seperti mencari informasi, pendidikan, ekonomi, politik, hiburan, hingga mencari jodoh bagi yang beruntung. Di ranah komunikasi dan informatika, dunia lain manusia tersebut dinamakan dunia maya.

Membincang soal dunia maya, tak lepas dari perbincangan media sosial (medsos) sebagai alat yang digunakan manusia untuk menjalankan aktivitasnya. Menurut Caleb T. Carr dan Rebecca A. Hayes (2015), Media sosial adalah media berbasis internet yang memungkinkan pengguna berkesempatan untuk berinteraksi dan mempresentasikan diri, baik secara seketika ataupun tertunda, dengan khalayak luas maupun tidak yang mendorong nilai dari user-generated content dan persepsi interaksi dengan orang lain. Sedangkan menurut B.K. Lewis (2010), Media sosial adalah label bagi teknologi digital yang memungkinkan orang untuk berhubungan, berinteraksi, memproduksi, dan berbagi isi pesan. (Baca : Psikologi Komunikasi).

Mengenai devinisi media sosial, saya sependapat dengan Caleb dan Rebecca serta Lewis. Bahwa media sosial adalah sarana atau alat komunikasi dua arah berbasis internet yang memungkinkan manusia untuk saling bertukar informasi atau pesan. Indonesia termasuk negara yang penghuninya menjadi pengguna internet terbesar di dunia. Sedangkan, dewasa ini aplikasi media sosial sangat beragam jenisnya. Saking banyaknya, saya sampai tidak hafal kalau harus menyebutkan semuanya.

Salah satu di antaranya yang paling ngetrend saat ini adalah Instagram. Lihat saja di sekitar kita mulai dari lansia, dewasa, remaja, anak-anak, hingga usia balita pun tak ketinggalan untuk memiliki akun medsos yang satu ini. Tidak hanya manusia individu yang memanfaatkan ke-eksis-annya, melainkan juga organisasi, instansi atau lembaga dan bahkan  hewan piaraan sekalipun.

KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlotul Ulama) sebagai salah satu organisasi mahasiswa ekstra kampus juga turut menggunakan instagram. Selain sebagai penunjang eksistensi, instagram juga dimanfaatkan KMNU sebagai sarana untuk berdakwah. Tak hanya itu, kepemilikkan akun instagram oleh setiap KMNU juga berguna untuk menyambung silaturrahmi antar sesama KMNU serta lembaga-lembaga NU lainnya.

Fitur-fitur pada instagram bisa menampilkan foto dan video lengkap dengan caption atau tulisan keterangan yang mendeskripsikan foto dan video yang diunggah. Untuk itulah instagram sangat efektif bila digunakan sebagai sarana eksistensi KMNU. Mengapa demikian? Secara umum manusia lebih suka melihat foto atau menonton video daripada membaca tulisan. Begitupun para pengikut (follower) instagram KMNU yang umumnya juga manusia biasa. Bahkan keaktifan KMNU di masing-masing perguruan tinggi bisa dilihat dari akun instagramnya. Oleh karenanya, apapun kegiatan KMNU menjadi sunah mu’akad hukumnya diunggah di instagram. Aktivitas mengunggah foto atau video di instagram ini ada beberapa versi penyebutan, yakni bisa dikirim, di-upload dan di-posting.

Instagram juga mampu menyiarkan kegiatan atau aktivitas manusia secara langsung. Maka dari itu, KMNU biasanya menggunakan fitur siaran langsung pada instagram sebagai media dakwah. Entah itu berupa rutinitas ngaji kitab, sholawatan, tahlilan, bahkan pengajian. Tidak jarang dakwah KMNU juga menggunakan posting-an biasa di beranda instagram berupa meme, pamflet, gambar, karikatur, foto dan video disertai caption yang memuat isi atau pesan dakwah.

Satu lagi yang menarik dari instagram. Pengguna mampu membagikan atau bahasa gaulnya me-repost posting-an dari akun instaram lain serta mampu membagikan kirimannya di facebook. Ini memungkinkan KMNU untuk memperluas jaringan. Dalam hal ini instagram berguna untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama KMNU dan juga lembaga-lembaga NU lainnya. Tak jarang pula KMNU me-repost kiriman akun intagram milik perseorangan yang menandainya. Asal itu menarik dan mengandung manfaat bagi orang banyak (follower KMNU).

Di sisi lain, KMNU memiliki sistem one day one post dan one day one repost dalam menunjukkan eksistensinya di instagram. Ini berarti masing-masing KMNU wajib mem-posting dan me-repots gambar ataupun video dalam setiap harinya. Namun, pada realitanya bisa kita cermati sendiri bahwa masih ada beberapa akun KMNU yang “belum istiqomah” dalam menjalankan sistem tersebut. Meskipun demikian, yang terpenting dari masing-masing KMNU sesungguhnya adalah keaktifannya dalam dunia nyata.

Era kekinian memang sedang menerpa kehidupan kita sebagai generasi millennial. Kader KMNU khususnya jangan sampai tertinggal. Tanpa kita sadari, banyak sekali nilai positif yang bisa kita jadikan pelajaran. Bahwasannya era kekinian tengah mengajari kita untuk bisa “mengerem” diri, supaya tidak harus mengikuti arus yang sedang berjalan, melainkan kita dituntut untuk bergerak dan membuat arus sendiri yang tidak kalah kekinian. Kita harus sadar, bakwa kita sedang hidup di tengah-tengah badai modernisasi. Bila kita tidak memiliki pegangan yang kuat, kita bisa termakan oleh ganasnya badai tersebut. Nampaknya ungkapan Cak Nun sangat cocok untuk kita jadikan acuan, bahwasannya “hidup itu melawan arus, hanya sampah dan ikan mati yang ikut arus”.

Berbekal ilmu dan keimanan, sudah selayaknya kita sebagai mahasiswa wajib menggunakan akal sehat dengan lebih siap dan sigap dalam menjawab tantangan zaman. Terlebih kader-kader KMNU adalah para mahasiswa yang ternaung dalam payung hijau Aswaja An-Nahdliyah. Dengan begitu, kita bisa menerapkan, menjaga dan mempertahankan nilai-nilai keislaman yang Rohmatan Lil ‘Alamin dalam bungkus trend kekinian.

You might also like
Comments
Loading...