Kasih Sayang dan Nasihat

Diceritakan bahwa ada yang bermimpi melihat Syekh Muhammad setelah kematiannya, beliau ditanya: “Bagaimana keadaanmu sewaktu engkau hendak dicabut nyawa?” Beliau menjawab: “Waktu itu aku sedang memikirkan masalah tentang budak Mukatab hingga aku tidak merasakan keluarnya ruhku.” Ada yang mengatakan: “Beliau di saat-saat terakhir berkata: “Aku sibuk memikirkan masalah budak Mukatab hingga dari mempersiapkan diri untuk hari ini.” Beliau mengatakan hal ini sebagai tanda kerendahan hatinya.

Sebuah Hadist: “Siapa yang mudah mencari ilmu, niatnya benar, apabila dia meninggal, dia akan dipermudah untuk masuk syurga. Karena dengan kita belajar, kita bisa membedakan yang salah dan benar dan mendekatkan diri kepada Allah.

Seorang ulama berkata: “Waktu belajar sejak dari ayunan (lahir) sampai ke liang lahat, dan sebaik-baik waktu adalah masa muda, menjelang waktu subuh dan antara maghrib dan isya”.

Kita sejak lahir dikenalkan dengan agama Allah, seperti saat bayi lahir diadzani lewat telinga kanan, kemudian iqomah telinga kiri.

Hendaknya seorang murid menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar, bila ia telah bosan dari satu bidang ilmu ia bisa berpindah ke bidang ilmu lainnya. Ibnu Abbas ra jika merasa bosan dengan ilmu tauhid beliau berkata: “Tolong ambilkan buku syair para penyair, “.

Belajarnya itu tidak harus kita megang kitab, tapi kita memahami, seperti melihat sesuatu di jalan maksiat, kemudian kita bersyukur dan sadar kita tidak seperti itu. Mendapat suatu pembelajaran.

Bahkan Muhammad bin Al Hasan tidak tidur malam, beliau meletakkan beberapa buku di hadapannya jika bosan terhadap satu buku, beliau membaca yang lainnya.

Hendaknya orang yang muda, belajarnya sungguh-sunggguh. Di waktu subuh, diantara maghrib dan isya’ hendaknya mengkaji ilmu. Hendaknya orang yang menuntut ilmu menghabiskan waktunya untuk belajar, apalagi seseorang yang dibiayai untuk mondok. Apabila engkau bosan dengan satu ilmu, maka kamu boleh mempelajari ilmu yang lain.

Syekh Muhammad kalau malam tidak tidur. Beliau disampingnya terdapat air, untuk mencuci muka atau wudhu. Bahkan menurut beliau, tidur itu panas, maka wajib menolaknya dengan air dingin. Maksudnya panas adalah godaan syetan.

Belajar ilmu waktu yang afdhol adalah saat subuh, saat sahur. Selain itu juga di waktu antara maghrib dan isya’.

Bab Kasih Sayang dan Nasehat

Orang yang berilmu harus bersifat kasih sayang, memberi nasihat dan tidak iri karena iri hanya merusak dan tidak bermanfaat. Guru kami Syaikhul Islam Burhanuddin Rahimahullah berkata “Anak seorang guru akan menjadi orang alim karena si alim menginginkan murid-muridnya menjadi ulama, maka berkat keyakinan dan kasih sayangnya hingga anaknya menjadi seorang alim.” Guru-guru kita mengharapkan santrinya agar menjadi orang yang alim, karena kasih sayangnya beliau kemudian mendapat berkah, dan akhirnya santrinya menjadi orang yang alim.

Diceritakan bahwa Syaikh Burhanul Aimmah meluangkan waktunya untuk mengajari kedua anaknya Husamiddin dan Tajuddin di waktu dhuha setelah selesainya pengajian murid-murid yang lain, keduanya berkata: “Biasanya kami tidak bersemangat di waktu ini.” Ayahnya berkata: “Orang-orang asing dann anak-anak orang-orang besar mendatangiku dari seluruh penjuru dunia, sebab itu aku dahulukan pelajaran mereka.” Hingga berkat kasih sayangnya pada mereka kedua anaknya mengungguli para ahli fiqih dunia masa itu dalam bidang fiqih. Barokah itu penting, ketika Beliau mendapat barokah, orang yang rajin pun akan kalah dengan barokah.

la tidak boleh bermusuhan dengan siapapun karena hal ini menyia-nyiakan waktunya. Seorang ulama berkata: “Orang yang baik akan diberi balasan karena kebaikannya dan orang yang jahat akan hancur karena kejahatannya.” Kita belajar berbuat baik, andaikan ada orang yang berbuat buruk kepada kita, maka kita sebaiknya belajar tetap baik kepada orang tersebut.

Al Imam Muhammad bin Abu Bakar yang dikenal dengan Imam Khawahir Zadah Rahimahullah menuturkan kepadaku: “Sultan syariat Yusuf Al Hamadani menuturkan bait syair kepadaku: janganlah kamu membalas seseorang karena perbuatan jeleknya. Karena Ia akan dibalas oleh keadaannya dan perbuatannya sendiri”.

Seorang ulama berkata: “Barangsiapa yang ingin merendahkan musuhnya hendaknya ia mengulang-ngulangi syair: Bila kamu hendak menemui musuhmu dalam keadaan hina membunuhnya dan membakarnya dalam keadaan sedih dan gelisah, maka berpaculah menambah ilmu karena barang siapa yang bertambah ilmunya, maka musuhnya semakin sedih”.

Misalkan ingin berjuang dengan musuh kita, kita sebaiknya menambah ilmu (menambah kualitas diri kita), bukan malah mencaci, menghina ataupun sampai menggunakan santet dan lainnya. Dengan kita memperbaiki kualitas diri kita maka otomatis musuh kita akan kalah dengan sendirinya.

Sibukkanlah dirimu untuk kepentingan sendiri bukan sibuk mengalahkan musuh, karena bila engkau telah menyempurnakan kepentinganmu di dalamnya terkandung kekalahan musuhmu. Hindarilah permusuhan karena permusuhan membuatmu jelek dan menyia-nyiakan waktumu, bersabarlah terutama menghadapi orang-orang bodoh, Nabi Isa as berkata: “Bersabarlah terhadap orang bodoh satu ejekan agar kamu mendapat sepuluh keuntungan.”

Sumber: Kajian online kitab kuning Ta’limul Muta’allim KMNU Pusat tanggal 22 Desember 2020

Pembicara: Muh Adib R (Koor Kajian Kitab Kuning, Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5)

Notulis : Ima Khoirunnisa (Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5)

You might also like
Comments
Loading...