KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Karya Sastra; Catatan Kecil tentang Posisi, Apresiasi dan Implikasi

Oleh: Uswatun Hasanah

(KMNU IIUM Malaysia)

Karya sastra tidaklah lahir dari kekosongan belaka. Ia merupakan sebuah buah pikir yang dilahirkan untuk sebuah tujuan tertentu. Penulis sastra, yang kita sebut sastrawan, akan melahirkan karyanya dengan tujuan-tujuan tertentu. Sebab sebuah karya sastra tidaklah bebas nilai, ia tumbuh dari berbagai hal yang membentuk seorang sastrawan; latar belakang keluarga, Pendidikan, lingkungan, dll. Karya sastra dapat digunakan untuk menyampaikan sebuah gagasan, dengan bentuk yang relatif mudah dan nyaman diterima masyarakat.

Altenbernd dan Lewis menyatakan bahwa sebuah karya Imajinasi merupakan karya imajinatif yang mengandung fakta-fakta yang berhubungan dengan manusia. Karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya, ia merupaka instrumen sosial yang selalu berkembang dinamis sesuai dengan perkembangan manusia. Ia dapat menjadi salah satu instrumen masyarakat yang dengannya dapat diketahui konteks sosial budaya, dimana dan kapan karya ittu diterbitkan.

Selanjutnya tulisan ini akan lebih mengarah pada karya-karya sastra bermuatan nilai-nilai budi pekerti yang mulia. Sebut saja sebuah apresiasi karena tiap tahun dunia kesusastraan Indonesia yang bergenre ‘Islami’ (diluar signifikansinya), relatif mengalami perkembangan. Setidaknya, tulisan ini juga menjadi sebuah ajakan bagi kita untuk meramaikan konten karya sastra bernafas ‘rahmatan lil alamin’.

Sejak dulu, karya sastra sering dipilih sebagai sarana dakwah oleh kebanyak orang muslim seperti muballigh atau ‘penulis Islami’. Lewat karyanya mereka menyampaikan misi dakwah Islam kepada masyarakat dengan media yang dekat dengan banyak orang. Biasanya bentuk karya sastra yang dipilih adalah karya sastra fiktif, seperti cerpen ataupun novel. Dua jenis karya tadi biasanya lebih mudah disisipkan nilai-nilai budi pekerti, penumbuhan karakter atau apapun sesuai dengan apa yang kita kehendaki.

Dalam berbagai genre, sastra dapat diserap dengan baik oleh masyarakat. Tanpa disadari ia memberikan pengaruh yang cukup besar (di kalangan pembaca). Tidak banyak orang yang menyadari tentang pentingnya mendudukkan karya sastra pada posisi yang tepat, memberikan perhatian yang besar pada keberadaan sebuah karya sastra. Baik berupa karya lisan ataupun tulisan.

Indonesia memiliki fenomena menarik incidental-tahunan yang menarik terkait apresiasi karya sastra fiktif..  Novel ‘Ayat-Ayat cinta’ karya Kang Abik dan ‘Dilan’ karya Pidi Baiq bisa kita jadikan contohnya. Kedua karya tersebut memiliki latar belakang yang sangat berbeda, dan keduanya memiliki pengaruh yang cukup besar dengan segala khas-nya masing-masing.

Kalimat-kalimat romantis Dilan tersebar ke berbagai kalangan masyarakat, ditiru dan juga menjadi candaan. Sosok Fahri seolah menjadi representasi pemuda dan calon imam idealnya yang layak didambakan. Fenomena ini menjadi sebuah gambaran betapa sebuah cerpen dapat memberikan berbagai pengaruh di masyarakat.

Puisi pun sama. Pilihan diksi dan kedalaman refleksi seorang Gus Mus dalam karyanya “Aku harus bagaimana?”, memiliki kandungan makna yang sangat dalam untuk diresapi. Rasanya, bait-bait tersebut juga tak pernah lekang oleh waktu. Tetap hidup ditengah-tengah masyarkat. Tiga karya diatas hanyalah sebagai contoh kecil sebuah karya sastra yng memberikan pengaruh besar ditengah masyarakat. Masih banyak lagi karya-karya dari para satrawan Indonesia yang sangat digemari oleh para pembaca.

Besarnya pengaruh sebuah karya sastra di tengah masyarakat, dapat menjadikan sebuah pertimbngan memilih karya sastra sebagai sebuah sarana untuk menyampaikan gagasan kita terhadap orang lain. Tentu pemilihan genre harus menjadi pertimbangan, kaitannya dengan kompetensi menulis kita dan segmentasi pembaca yang akan kita sasar. Jangan sampai ide baik yang akan kita sampai malah tidak mengena ke hati pembaca karena salah membaca segmen, atau kita terlalu memaksakan menulis karya sastra pada genre yang tidak kita kuasai. Ini penting dilakukan karena di Indonesia, orang yang mendapat sematan ‘sastrawan’ biasanya orang yang memang ‘hebat’ (dalam pemahaman karya sastra).

Sastrawan dengan kode etik yang telah melekat padanya dan sebagai makhluk sosial ia akan menuliskan tentang segala apa yang dilihat, dialami dan difkirkan, yang kemudian diolah dalam imajinasinya dan diungkapkan dengan diksi yang telah dipilihnya untuk disampaikan kepada masyarakat. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa sastrawan yang baik menjadi refleksi kritis atas masyarakat dimana dia tumbuh.

Poin utama seorang sastrawan, atau seorang penulis puisi, cerpen atau novel, agar berpegang teguh pada kode etik universal. Meskipun karya mereka akan ‘lepas’ dari pengarngnya ketika ia terjun ditengah masyarakat, akan tetapi pembaca akan memberikan keritik dan respon terhadap apa yang dibacanya. Oleh karenanya tidak sedikit dari sebuah karya yang pada gilirannya menimbulkan polemik dan sangat kontroversial di tengah masyarakat. Biasanya polemic tersebut muncul pada karya sastra yang mengandung sebuah konten SARA. Dengan demikian, sekali lagi dapat dikatakan, bahwa karya sastra memiliki kedudukan yang sangat penting di tengah masyarakat, layaknya cabang-cabang keilmuan lainnya.

Bagaimana Islam melihat karya sastra? Hal ini bisa kita baca salah satunya dalam surat as-syu’ara ayat 224-227:

وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ﴿224أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ ﴿225وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ ﴿226إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ ﴿227

Artinya: (224) Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.(225) Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah.(226) dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (nya)?(227) Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.

Ayat di atas, memberikan kita penjelasan bahwa al-Qur’an mendudukkan sebuah karya sastra pada dimensi sosial, bagaimana ia ciri-ciri dan perkembangannya ditengah masyarakat. Kita perlu memahami makna dari ayat-ayat tersebut sebagai sebuah kesatuan penjelasan dan terikat antara yang satu dan yang lain. Ia memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan, karena ketika ayat tersebut dipisahkan dari satu dan yang lain, akan menimbulkan polemik dan kontroversi tetang kewujudan sastra tersebut dalam pandangan Islam.

Islam telah memberikan rambu-rambu tentang sastra. Ia mendapat tempat yang diagungkan dalam Islam, dengan catatan sastra tersebut muncul dari orang-orang yang beriman. Sebagaimana Naguib Kaelani, turut memfokuskan sastra Islam sebagai genre sastra. Karena hal tersebut dapat menjadikan sebuah media dalam mensyiarkan norma-norma yang sesuai dengan ajaran Islam, atau menuaikan sebuah sejarah Islam melalui karya sastra.

Jadi kita masih hanya mau diam atau memulai berkarya?

You might also like
Comments
Loading...