KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Kang Somad (Part 2 – End)

Tahun ini ia kembali ke kampung halamannya sudah tidak lagi menyandang gelar mahasiswa S2. Kini ia menyandang predikat dosen Universitas Perguruan Indonesia. Somad lulus lebih awal dari waktu yang ditentukan dengan mendapatkan predikat cumlaude sehingga pihak universitas meminta dirinya untuk menjadi dosen di almamaternya itu.

Hidup mapan sudah semakin dekat dengan Somad. Tinggal istiqomahnya saja. Namun ada satu lagi target yang belum terlaksana, menikah dengan istri yang sholehah.

Hatinya sudah kuat memilih Liah sebagai istrinya, namun ada satu hal yang lagi-lagi menyebabkan Somad merasa rendah diri. Sebuah kenyataan bahwa ternyata ayah kandung Liah adalah seorang Kyai yang juga memiliki pondok pesantren di desa tempat tinggalnya. Jadi Liah – menurut bahasa santri – adalah seorang Ning (anak perempuan Kyai).

Inilah yang menyebabkan Somad merasa tidak pantas untuk disandingkan dengan seorang Ning. Dalam pikiran Somad, anak Kyai pantasnya berpasangan dengan anak Kyai juga. Apalagi Somad bukanlah santri tulen. Ia hanya mengerti beberapa hukum agama saja tanpa mendalaminya secara lebih detail.

**

Jauh di kampung sana, Liah sedang berbicara kepada Abah dan Uminya.

“Bah, sudah satu tahun ini, Liah senang dengan seorang laki-laki,” ungkap Liah dengan sangat hati-hati.

“Santri atau bukan?” tanya Abahnya.

Seperti dugaan Liah, Abah kurang setuju jika putrinya yang cantik nan sholehah menikah dengan seorang yang bukan dari kalangan santri. Abah menghendaki jika putrinya tidak menikah dengan seorang anak Kyai, minimal ia menikah dengan seorang santri yang bisa mengaji dan membaca kitab kuning agar dapat mengimbangi kemampuan putrinya yang sudah hafal beberapa kitab ilmu alat.

Berulang kali Liah meyakinkan Abahnya bahwa pria idamannya itu adalah pria yang baik. Walaupun ia bukanlah santri tulen, tapi ia tidak pernah berbuat yang tidak sesuai dengan tuntunan agama. Hidupnya juga seperti santri yang lebih memilih hidup prihatin ketika muda.

Awalnya abahnya tetap dengan pendiriannya yang tidak menginginkan putrinya menikah dengan seorang yang bukan dari kalangan santri, tapi setelah Liah memohon kerelaan hati abahnya akhirnya abahnya mengajukan syarat kepada putrinya.

“Abah ingin bertemu dengan laki-laki yang kau maksudkan itu.”

Liah melihat ada seberkas harapan dari abahnya. Ia memutuskan untuk mempertemukan abahnya dengan Somad di pondok tempat Liah menuntut ilmu. Akhirnya tercapailah kesepakatan. Setelah lebaran, abahnya akan menemui Somad di rumah Kyai pengasuh pondok tempat Liah belajar.

**

Ketika Liah ungkapkan hasil perbincangannya dengan abahnya, Somad mengurungkan niatnya karena ia merasa belum siap jika sudah harus berhadapan dengan abahnya yang seorang Kyai. Akhirnya kelembutan hati Liah mampu meluluhkan rasa minder dalam diri Somad. Liah meyakinkan bahwa tidak harus semua orang menjadi santri, karena sholehnya seseorang bukan hanya ia yang menjadi santri. Siapa saja yang menjalankan kehidupannya dengan niat untuk beribadah kepada Allah dan tulus ikhlas, maka bukan tidak mungkin ia digolongkan orang-orang yang sholeh.

Pernyataan Liah itu ternyata berhasil mengusir pikiran-pikiran Somad yang tidak rasional. Dengan berusaha meyakinkan hati, Somad bersedia menemui abahnya setelah lebaran nanti walau dengan pikiran yang tidak karuan.

**

Dalam perjalanan mudiknya, Somad kembali berhenti di sebuah masjid untuk melaksanakan sholat Dhuhur. Tanpa disangka ia kembali bertemu dengan laki-laki paruh baya yang tahun lalu ia temukan kartu ATMnya, tapi kali ini hanya seorang diri tanpa ditemani sang istri.

Mereka kembali melakukan percakapan dengan begitu nyaman seperti layaknya saudara dekat yang sudah lama tidak bertemu. Apa yang mereka perbincangkan juga mengalir begitu saja namun penuh arti. Pada kesempatan itulah Somad tahu bahwa nama laki-laki itu adalah Sobari. Hampir setiap tahun Pak Sobari selalu mengunjungi kota yang letaknya tidak jauh dari masjid itu untuk menghadiri haul kerabatnya setiap tanggal 27 Ramadhan.

Somad teringat Pak Sobari dulu pernah bercerita bahwa beliau berasal dari desa Karangmaju. Mengingat nama desa itu, Somad teringat dengan Liah yang juga berasal dari desa itu. Ingin sekali Somad bertanya apakah Pak Sobari mengenal Liah atau tidak, tapi niat itu ia urungkan dan bertanya hal lain yang ada hubungannya dengan Liah.

“Apakah bapak tau tentang pondok pesantren Al-Hidayah Karangmaju yang diasuh oleh KH. Ahmad Muttaqin?”

Pondok pesantren al-Hidayah adalah nama pondok pesantren yang diasuh oleh abahnya Liah.

Pak Sobari menjawab pertanyaan Somad dengan begitu bahagia karena ternyata beliau juga pengajar di pondok itu sehingga sedikit banyak tahu tentang pondok pesantren al-Hidayah. Pak Sobari juga menawarkan kepada Somad untuk sesekali berkunjung ke rumahnya yang tidak jauh dari pondok pesantren itu. Rasa ingin bertanya tentang Liah kepada Pak Sobari semakin besar, tapi sekuat tenaga Somad urungkan karena ia merasa belum pantas bertanya tentang Liah kepada orang yang baru dikenalnya.

Perpisahan pun segera menghampiri. Sebelum melanjutkan perjalanan, pak Sobari berpesan kepada Somad.

“Saya berharap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti de. Saya merasa nyaman berbicara denganmu. Semoga kamu sukses ya, dan mendapatkan istri yang sholehah seperti dirimu itu.”

Somad kemudian mengamini doa itu.

Rasa ingin bertanya tentang gadis pujaannya kepada Pak Sobari menguap begitu saja diterpa angin jalanan yang kembali merasuki tubuh Somad. Tapi setidaknya Somad merasa sudah mempunyai kenalan warga desa tempat Liah berasal. Minimal ada yang bisa dijadikan sumber untuk bertanya tentang Liah suatu saat nanti. Begitu khayal Somad.

**

Hari itu pun tiba. Hari dimana Somad dijanjikan akan bertemu dengan abahnya Liah di rumah Romo Kyai pengasuh pondok pesantren tempat Liah belajar ngaji. Liah meminta bantuan kepada Romo Kyai untuk menjadi penengah antara Somad dan abahnya itu. Liah hanya akan mendengarkan dari balik ruang tamu rumah Romo Kyainya.

Somad berjalan sendiri menuju rumah Romo Kyai karena rumah Somad dekat dengan pondok pesantren tempat Liah belajar. Dari kejauhan sudah terlihat beberapa orang tamu yang sedang mengobrol dengan Romo Kyai.

Apa mungkin itu rombongan keluarganya Liah? Apa mungkin Liah membawa semua keluarganya hanya untuk bertemu denganku? Jika memang iya, mau jadi apa aku ini yang bukanlah seorang santri?

Itulah Pertanyaan yang menghantui Somad selama ia berjalan menuju rumah Romo Kyai.

“Sudahlah, Bismillah saja.” Somad berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

“Assalamu’alaikum…” Somad uluk salam sebelum masuk ndalem Romo Kyai.

Romo Kyai ternyata langsung menuju pintu masuk untuk menyambut Somad.

“Wa’alaikumsalam…” jawab Romo Kyai.

Somad bersalaman dengan Romo Kyai di depan pintu masuk. Segera saja Romo Kyai berbalik arah dan memperkenalkan Somad kepada keluarganya Liah.

“Pak Kyai, niki sing namine Somad,” seru Romo Kyai.

(Ini yang namanya Somad)

Entah apa yang menjadi rahasia Allah. Ternyata yang dilihat Somad adalah Pak Sobari. Laki-laki paruh baya yang tahun lalu ia temukan kartu ATMnya.

“Loh? Pak Sobari?” tanya Somad dengan penuh keheranan.

Lha jebule kowe to mad?” tanya Pak Sobari yang ternyata adalah abahnya Liah.

(Lha ternyata kamu mad?)

Berjuta perasaan menjadi satu dalam diri Somad. Senang, malu, minder, dan banyak lagi. Bersama dengan beribu jawaban, muncul pula berjuta pertanyaan. Ah, Liah. Mengapa engkau penuh misteri? Atau sebenarnya Liah diam saja, tetapi Allah lah yang menyimpan rahasia indah untuk Somad?

Pak Sobari adalah ayah kandung dari Liah. Nama lengkapnya adalah Ahmad Muttaqin Sobari, namun orang-orang biasa mengenalnya dengan Ahmad Muttaqin saja. Berkaitan dengan pengakuan Pak Sobari sebagai staf pengajar di pondok pesantren al-Hidayah, memang kenyataannya demikian hanya saja ia juga merangkap sebagai pengasuh pondok pesantren itu.

Pembicaraan tak jadi kaku seperti yang sudah dibayangkan Somad. Kembali ia asyik mengobrol dengan semua tamu yang ada. Malah sudah seperti tidak ada jarak lagi. Walau begitu, tetap saja rasa takdzim Somad terhadap Romo Kyai dan juga Abahnya Liah tetap dijaga. Ia tak boleh bersikap sekenanya apalagi dihadapan para ulama yang diseganinya.

“Somad, Jadi mau kapan tanggal pernikahannya?” tanya Kyai Ahmad.

Pertanyaan yang seketika itu membuat Somad terkejut. Bagaimana tidak? Ia yang datang dengan berjuta perasaan minder karena bukan berasal dari kalangan santri tiba-tiba diterima sebagai menantu seorang Kyai. Ia yang belum bisa membaca kitab kuning, ternyata dipercaya untuk menjadi imam dari seorang perempuan cantik jelita yang hafal beberapa kitab ilmu alat.

Belakangan Somad tahu bahwa Kyai Ahmad awalnya tidak setuju jika menantunya berasal dari kalangan warga biasa, tapi setelah bertemu dengan Somad tiba-tiba beliau percaya bahwa Somad adalah orang baik. Ini dibuktikan sendiri oleh beliau ketika bertemu dengannya di perjalanan mudik lebaran. Mulai dari menolong untuk mengembalikan kartu ATM hingga sikapnya yang sopan serta ramah.

Somad pun mengiyakan apa yang sudah dikatakan Liah kepadanya beberapa waktu lalu. “Orang sholeh tidak selamanya berasal dari kalangan santri.”

**

Hingga hari yang ditentukan pun tiba. Disaksikan Romo Kyai, Somad menjabat tangan Kyai Ahmad dengan mengucap sebuah kalimat dengan mantap.

“Saya terima nikah dan kawinnya Liah binti Ahmad Muttaqin dengan mas kawin tersebut tunai!”

Cilacap, 6 Syawal 1433 H / 24 Agustus 2012

(acp)

You might also like
Comments
Loading...