KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Kang Somad (Part 1)

Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh, ia bergegas mengendarai sepeda motor tuanya. Matahari sama sekali belum terlihat di angkasa, hanya awan gelap dan beberapa keindahan langit malam yang tersisa. Udara dingin masih terus membayangi, namun Somad – begitu panggilan akrabnya – terus memacu kendaraan tuanya itu.

Dengan jaket tebal, sarung tangan, masker pelindung hidup dan mulut, dan perlengkapan berkendara lainnya sudah ia kenakan sedari tadi namun tetap saja udara dingin terus merasuk ke dalam tubuh kurusnya. Ia berusaha sepagi mungkin memulai perjalanan mudiknya menjelang lebaran agar tidak macet di perjalanan.

Baginya, mudik adalah perjalanan mulia. Bertemu keluarga di kampung menjadi tujuan utama bagi sebagian besar orang yang melakukan rihlah menuju tempat asal mereka. Mudik juga dapat dianalogikan sebagai sangkan para dumadi kecil bagi seseorang yang merantau ke kota besar untuk mengukir prestasi, sedangkan sangkan paran dumadi yang sebenarnya adalah nanti ketika manusia kembali Tuhannya Yang Maha Suci.

Somad adalah mahasiswa tingkat akhir Sekolah Pascasarjana Universitas Perguruan Indonesia. Walau hidup di kota besar, ia tak pernah merasa minder dengan keadaan dirinya yang berasal dari kampung nan jauh dari kota. Ia justru lebih bangga ketika orang menyebut dirinya sebagai orang kampung daripada orang menyebut dirinya sebagai orang kota. Jiwa perkampungan dan hidup prihatinnya sudah mendarah daging. Ia sama sekali tak terpengaruh dengan kehidupan perkotaan tempatnya menuntut ilmu yang oleh sebagian orang dijuluki kota Paris Van Indonesia.

Dalam perjalanan mudiknya, Kota tempat peraduannya itu sudah ia tinggalkan untuk menuju kampungnya yang khas dengan tempe mendoannya. Kota yang khas dengan dodolnya sudah menyambut Somad dengan penuh kesejukan. Saking sejuknya, awan pun terlihat mendung gelap hingga membuat hati Somad resah. Ia berharap dalam perjalanannya agar Tuhan jangan dulu menurunkan hujan hingga Somad sampai di rumah kedua orang tuanya.

Cuaca dingin terus menerjang tubuh kurusnya hingga beberapa jam pada waktu dhuha. Sekitar dua jam sebelum waktu dhuhur tiba, Somad baru bertemu dengan sang surya yang menghangatkan tubuhnya. Ia kini tak lagi menggigil karena dinginnya jalanan di waktu subuh dan dhuha.

Somad terus memacu motor tua keluaran tahun 1983 peninggalan kakeknya dengan sesekali berhenti untuk membuka pesan singkat atau menjawab telepon yang masuk ke telepon genggamnya. Macet sebagaimana yang ia resahkan ternyata tidak ia jumpai karena – katanya – hari itu bukanlah puncak arus mudik lebaran sehingga jalanan masih terlihat ramai lancar.

Tiba-tiba Somad teringat bahwa di dompetnya tidak ada uang sama sekali. Ia hanya membawa beberapa surat penting dan sebuah kartu ATM sebagai sumber dalam mencairkan uang. Akhirnya ia putuskan untuk berhenti di ATM terdekat untuk mengambil uang sebagai antisipasi dari segala kemungkinan.

Sudah ada satu orang yang sedang mengambil uang di mesin ATM di pinggir jalan. Somad menunggu dengan setia sembari meluruskan otot-otot tubuhnya yang telah menempuh perjalanan beberapa jam dengan motor Super Cup-nya. Tak lama berselang, keluarlah seorang laki-laki paruh baya sambil memasukkan dompet miliknya ke dalam saku belakang celana panjang hitamnya. Somad tersenyum mencoba menyapa laki-laki itu. Kontan saja laki-laki itu membalas senyuman Somad dengan menyapanya,

“Mari saya duluan de.”

“Mari Pak…,” sahut Somad.

Belum sempat Somad masuk ke mesin ATM, ia tersadar bahwa motornya ternyata menghalangi mobil milik laki-laki paruh baya itu sehingga dengan cepat Somad menghampiri motornya untuk dipindahkan ke tempat yang tidak menggangu orang lain.

Suara klakson mobil laki-laki itu mengisyaratkan tanda terima kasih kepada Somad yang telah berbaik hati memberikan jalan bagi mobilnya agar dapat kembali meneruskan perjalanan. Sebuah senyuman kembali mekar di bibir Somad sebagai tanda balasan ucapan terima kasih.

Kartu ATM sudah di tangan, namun ternyata masih ada kartu ATM milik orang lain yang menancap di lubang tempat keluar masuknya kartu. Somad langsung teringat laki-laki paruh baya tadi. Ia ambil kartu itu lalu berusaha mengejar mobil yang – menurut Somad – belum jauh perginya.

Bergegas Somad memacu motor tuanya dengan kencang mengejar mobil tadi. Ia khawatir memikirkan bagaimana jika Somad tidak bertemu dengan laki-laki paruh baya itu, pasti laki-laki itu akan mencari kartu ATMnya yang hilang entah dimana.

Harapan kembali muncul. Somad melihat mobil sedan berwarna hitam persis seperti yang ia lihat di ATM tadi. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar seratus meter namun terhalang oleh beberapa mobil dan motor sehingga ia harus memikirkan benar-benar kapan ia harus menyalip mobil dan motor yang menghalanginya agar ia pun tetap selamat.

Allah berkendak lain. Tepat setelah mobil sedan itu melewati rombongan polisi yang sedang bertugas mengamankan arus mudik, jalanan kemudian ditutup karena sedang diberlakukan sistem buka tutup jalan. Mobil sedan pun pergi tanpa jejak meninggalkan Somad dan motornya yang terhenti karena diberhentikan polisi.

“Semoga Engkau mempertemukanku kembali dengan laki-laki itu ya Allah.” harap Somad dalam hati.

Waktu dhuhur telah tiba. Somad memilih untuk menepikan motornya di sebuah masjid di pinggir jalan. Banyak pemudik yang juga berhenti melaksanakan sholat dhuhur sekaligus beristirahat di tengah-tengah perjalanan mudiknya. Somad bergegas mengambil air wudlu lalu sholat dhuhur dengan khusyuk.

Wirid-wirid yang ia panjatkan telah selesai. Tak lupa ia berdoa agar segera dipertemukan dengan pemilik kartu ATM yang kini dipegang olehnya.

Ia bergegas mengarungi kerasnya perjalanan mudik namun sangat ia nikmati. Belum selesai memakai sepatu, Somad melihat mobil sedan berwarna hitam di samping motornya. Ketika Somad datang, ia tak melihat ada mobil di situ namun sekarang ada. Berarti pemilik kartu ATM itu berada tidak jauh dari lingkungan masjid tempat Somad sembahyang.

Somad menyisir pandangannya ke segala penjuru masjid. Laki-laki paruh baya itu ditemani istrinya sedang beristirahat di serambi masjid. Somad menghampiri mereka dan mengembalikan kartu ATM yang bukan milik Somad itu.

Nampaknya pertemuan itu tidak berhenti sampai laki-laki paruh baya itu mengucapkan terima kasih. Perbincangan panjang lebarpun terjadi antara Somad dan laki-laki paruh baya berserta istrinya. Mereka saling bercerita tentang tujuan perjalanannya hingga hikmah kehidupan. Ternyata rumah laki-laki itu berada di sebuah desa yang selalu Somad lewati ketika mudik. Jadi arah tujuan mudiknya pun hampir sama.

Ada rasa nyaman ketika Somad berbicara dengan laki-laki paruh baya itu. Beliau sama sekali tidak menggurui Somad yang usianya jauh di bawahnya. Kata-katanya penuh dengan hikmah dan nilai-nilai kehidupan sehingga Somad seakan mendapatkan seorang guru dalam perjalanan mudiknya kali ini. Jika boleh menawar, maka Somad ingin terus menerus berbincang dengannya, namun ia juga harus melanjutkan perjalanan menuju kampung halamannya karena ibunya sudah menunggu dengan setia.

Ayahnya telah meninggalkan Somad dan satu adik laki-lakinya ketika Somad berumur enam tahun. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ibunya hanya mengandalkan garapan sawah peninggalan kakek neneknya untuk digarap. Syukur, Somad cepat menyadari keadaan keluarganya sehingga ia tidak terlalu banyak menuntut ini itu kepada ibunya yang seorang diri.

Somad berpamitan meninggalkan laki-laki paruh baya itu beserta istrinya di masjid. Somad sempat akan diberi uang sebagai imbalan karena telah membawakan kartu ATM miliknya, namun ia menolak dengan halus karena – menurut Somad – sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk saling tolong menolong.

Sampailah Somad di rumah Ibunya. Rasa syukur ia panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah memberikan kesempatan kepadanya untuk bertemu dengan keluarganya di rumah. Doanya pun terkabul, Tuhan tidak menurunkan hujan selama di perjalanan. Kini Somad berusaha untuk menikmati suasana Ramadhan yang tinggal beberapa hari di kampung halaman bersama keluarga. Suasana yang selalu ia rindukan ketika sedang merantau.

Lebaran pun tiba. Acara silaturahmi berlangsung di sana sini yang juga melibatkan Somad, baik sebagai panitia maupun peserta. Suka cita ia rayakan bersama keluarga, teman seperjuangan dan beberapa kerabat di kampung. Penuntasan masalah hak adam menjadi prioritas utama setelah penuntasan masalah dengan Allah selesai di bulan Ramadhan.

**

Beberapa hari setelah lebaran, Somad diundang untuk menghadiri acara silaturahmi santri, alumni dan Ikatan Remaja Masjid pondok pesantren tempatnya belajar dulu ketika masih di kampung. Kapasitasnya ketika itu sebenarnya sebagai panitia, tetapi karena Somad baru pulang ke rumah beberapa hari sebelum lebaran, sehingga ia kurang tahu menahu tentang teknis pelaksanaan acara silaturahmi itu. Ia diundang atas nama Ikatan Remaja Masjid karena dalam susunan kepengurusan, Somad masih menjabat sebagai Sekretaris walaupun sudah lama vacuum.

Banyak santri, alumni, dan remaja masjid yang hadir dalam acara itu. Ada yang membawa serta keluarga kecilnya karena sudah menikah, ada juga yang setia dengan status lajangnya. Bagi yang masih lajang, selain niatnya untuk silaturahmi, juga sebagai ajang untuk mencari calon istri atau suami yang dirasa cocok di hatinya. Begitulah anak muda. Masih suka pecicilan.

Awalnya Somad tidak mau mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya itu. Tapi akhirnya benteng tekadnya pun runtuh. Ia kepincut salah seorang santri perempuan yang masih kelas tiga Madrasah Aliyah.

Wajahnya manis, putih bersih. Senyumnya menyejukkan hati yang gersang. Sikapnya santun, berbicaranya pun sopan. Balutan busana muslim khas pesantren menambah daya tarik dalam dirinya. Gaya khas pesantren bagi sebagian orang mungkin biasa saja, namun bagi Somad, gaya seperti itulah yang selalu memikat hatinya. Seleranya dari dulu tidak berubah walaupun saat ini sedang trend gaya berjilbab dengan berbagai gaya, atau orang-orang kota menyebutnya hijaber.

Strategi pun disusun. Ia mendekati teman dekatnya di kampung yang juga dekat dengan santri pondok putri. Pandi namanya. Ia memberi arahan kepada Pandi untuk melihat santri perempuan yang Somad maksudkan. Dan pertanyaan pertama yang ia ajukan adalah,

“Siapa namanya?”

“Liah,” jawab Pandi.

Pertanyaan seputar Liah langsung terlontar begitu saja dari mulut Somad diiringi rasa ingin tahu yang besar. Sayang, temannya itu ternyata kurang begitu hafal dengan seluk beluk Liah. Namun Pandi ternyata menyimpan nomor ponsel Liah. Segera saja Somad mencatat nomor itu dengan seksama. Harapan itu selalu ada.

**

Hari-hari setelah pertemuan itu, dunia serasa begitu indah bagi Somad. Rasa bahagia selalu menghampiri. Seakan nama Liah selalu menghiasi setiap sudut ruangan pikirannya. Nama yang indah karena dihiasi dengan rasa ingin tahu akan sosok manis nan anggun itu. Terbayang selalu ketika pertama kali Somad melihat Liah. Baju merah dibalut dengan kerudung berwarna merah khas pesantren tampak begitu indah dipandang dengan wajahnya yang putih bersih tidak membosankan.

“Istri idaman” khayal Somad.

Hingga beberapa hari setelah itu, Somad belum juga menjalin komunikasi dengan Liah. Banyak hal yang menjadi pertimbangan Somad, namun alasan utamanya adalah ia terlalu malu untuk memulai pembicaraan karena takut salah dalam memulai. Belum lagi karena rasa minder yang merasuki pikiran Somad.

Somad merasa dirinya belum pantas jika mencari calon istri seorang santri karena ia hanyalah remaja masjid biasa, dan bukanlah seorang santri. Kitab kuning saja belum mampu Somad kuasai, sedangkan – namanya – santri hampir bisa dipastikan – walaupun sedikit – bisa membacanya. Masih banyak lagi alasan-alasan yang merusak pola pikir Somad. Liah, ternyata engkau mengacaukan pikiran rasional Somad.

Tapi pada suatu hari, Entah dapat keberanian dari mana Somad tiba-tiba mengirim pesan pendek kepada Liah yang hanya mengutarakan salam.

“Assalamu’alaikum…”

Hanya itu yang mampu Somad utarakan karena takut Liah tidak menyukai ada pesan pendek dari orang yang belum dikenal. Somad menunggu balasan dari Liah dengan cemas bercampur malu seperti layaknya orang sedang jatuh cinta.

Baru keesokan harinya, Liah menjawab pesan singkat itu.

“Wa’alaikumsalam…”

Ah, senangnya Somad mendapat balasan dari wanita idamannya.

Semenjak itulah komunikasi antara Somad dan Liah menjadi lebih sering. Walau jarang sekali bertemu, mereka tetap berkomunikasi. Seakan hanya bermodal bertemu ketika silaturahmi saja sudah cukup untuk terus berkomunikasi tanpa bertatap muka. Ingin hati bertemu setiap hari, namun apa daya perbedaan jarak dan waktu yang memisahkan.

Keadaan seperti ini berlangsung hingga tahun berikutnya. Ramadhan berikutnya, dan lebaran berikutnya. Somad dan Liah sudah sama-sama ingin bertemu. Tanpa bertemu pun kedua insan ini sepertinya sudah saling menyayangi. Mungkin terlihat tidak rasional. Bagaimana mungkin hanya bertemu sekali, tapi langsung bisa saling jatuh cinta. Tapi begitulah cinta, siapapun akan terlena jika mengikutinya.

Bersambung…

(acp)

You might also like
Comments
Loading...