Kajian Online Kitab Minhajul ‘Abidin : Taubat Nasuha

Orang yang bertobat kepada Allah masih mengkhawatirkan dirinya (takut) terus bagaimana dengan orang yang tidak bertobat kepada Allah. Nabi Adam saja menangis selama 200 tahun karena satu kesalahan saja. Bagaimana dengan kita yang hanya sebagai manusia biasa? Lalu bagaimana dengan orang yang tidak bertobat kepada Allah?

Seandainya engkau sudah bertobat, kemudian tobatnya dirusak dengan engkau melakukan dosa lagi, dengan mengulangi kemaksiatan lagi. Maka segeralah bertobat lagi kepada Allah. Dan seterusnya, jangan ada rasa untuk bosan untuk bertobat kepada Allah. Jangan sampai kesalahan atau dosa yang dilakukan bisa melemahkan diri kita untuk bertobat kepada Allah. Ada semacam anggapan “kenapa saya harus bertobat? Toh saya akan berbuat dosa lagi”. Anggapan seperti itu merupakan dari setan, maka kita harus hati-hati. Dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah, selagi kita punya Allah yang selalu mengampuni dosa-dosa kita.

Terdapat hadist qudsiy: “Aku sesuai dengan prasangka hamba kepada-Ku”. Maksudnya rahmat Allah itu lebih luas. Allah tidak pandang bulu, selama orang itu mau bertaubat nasuha, Insyallah Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan akan memberi jalan keluarnya. “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan jalan keluar dan memberi rezeki dari hal yang tidak disangka-sangka. Karena apabila kita mempunyai kesalahan dosa selain bukan dosa syirik, Allah pasti mengampuni. Salah satu hadits Nabi: “Sebagus-bagusnya kamu adalah yang diberikan cobaan berbagai dosa oleh Allah, kemudian kamu masih mau bertobat kepada Allah.”

Firman Allah: “Barang siapa melakukan kejelekan, kemudian minta ampun kepada Allah, maka dia akan menemukan bahwa Allah Maha Pengampun. Maka, itu merupakan sesuatu yang penting sekali yang harus diperhatikan”.

Hadits nabi: “Barang siapa melakukan kesalahan dan dia tahu bahwa Allah mengetahui. Di dalam hati kita merasa menyesal dan minta ampun kepada Allah. Meskipun tidak kita ucapkan, maka Allah sudah memaafkan”.

Secara global cara bertobat kepada Allah yaitu dengan kita mulai membersihkan hati sampai bersih, seperti riya, hasud, dengki, takabur, merasa lebih bagus dari yang lain, dan lain-lain.  Setelah hati kita bersih, kemudian kita kuatkan hati  atau niat kita untuk tidak berbuat kesalahan atau dosa lagi. Dan apabila Allah menakdirkan kita berbuat dosa lagi, maka kita tetap tobat lagi kepada Allah. Setelah itu, kita minta ridho dari orang yang pernah kita dzalimi jika memungkinkan. Lalu kita jalankan atau qodho kewajiban ibadah yang pernah kita tinggalkan, Insyaallah hati kita akan bersih. Kemudian sisanya serahkan diri kepada Allah, maka hidup kita akan hidup nikmat. Setelah hati bisa bersih, kemudian kita mandi besar, setelah itu sholat 4 rakaat. Ada yang berpendapat untuk sholat sunnah (2 rakaat atau 4 rakaat), ada juga yang berpendapat sholat wajib tidak apa-apa, yang penting sholat.

Setelah sholat, kita letakkan wajah kita di bumi, sujud kepada Allah, dan tidak ada orang mengetahui. Kenapa harus bersujud? Karena itu menunjukkan bahwa pada dasarnya kepala adalah sesuatu yang mulia, tapi di mata Allah itu tidak bernilai apa-apa. Ketika kita bertobat kepada Allah, kita dianjurkan untuk bersujud kepada Allah. Kemudian menangis senangis-nangisnya dengan air mata yang terus mengalir, bertobat menyesali perbuatan kita. Menjelek-jelekkan diri kita sendiri kepada Allah, seperti “Hai nafsu apa kau tidak malu? Apa kamu tidak cukup waktu untuk bertobat kepada Allah? Apa kau mampu menerima adzab Allah? Apa kamu sanggup menerimanya murka Allah? “.

Setelah sujud, angkatlah kedua tangan kita, berdoa “Saya ini adalah hamba-Mu yang pergi, dan sekarang hamba-Mu ini kembali di depan-Mu lagi Ya Allah. Ya Allah, hamba-Mu ini adalah yang berbuat kemaksiatan, Ya Allah, hamba-Mu ini adalah yang banyak dosa, hamba-Mu ini yang banyak alasan, Ampunilah dengan kedermawan-Mu Ya Allah, dan terimalah kami, dan ampunilah dosa-dosa yang lampau. Sampai nanti datangnya ajal, supaya terhindar dari perbuatan-perbuatan maksiat.

Kemudian berdoa lagi, menangis lagi. Setelah semua itu dilakukan, maka kita  sudah benar-benar dianggap sebagai orang yang ber-taubatan nasuha. Maka akan keluar dari dosa-dosa yang pernah kita lakuakan, sudah bersih, seperti baru dikeluarkan dari rahim ibu. Maka yang demikian akan mendapatkan pahala, rahmat dan barokah yang orang tidak bisa menilainya, karena begitu besarnya rahmat dan berkah Allah. Apabila kita sudah ber-taubat nasuha, maka kita akan menjadi seorang yang aman baik di dunia maupun di akhirat dan kita akan selamat dari kemurkaan Allah. Selamat dari kemaksiatan dari cobaan dunia dan akhirat, Aamiin.

Sumber: Kajian online kitab Minhajul ‘Abidin KMNU Pusat dengan IMAN PKN STAN Sabtu, 16 Mei 2020

Comments
Loading...