KAJIAN ONLINE KITAB KUNING TA’LIMUL MUTA’ALLIM KMNU PUSAT

Bab Memuliakan Ilmu dan Guru

Diantara penghormatan yang wajib adalah tidak menjulurkan kaki ke arah kitab, hendaknya meletakkan buku Tafsir Al-Qur’an diatas kitab-kitab lain, dan tidak boleh meletakkan apapun di atas kitab Tafsir Al- Qur’an sebagai bukti mengagungkannya.

Dahulu Syaikhul Islam Burhanuddin pernah membawakan cerita dari salah seorang guru : bahwa seorang ahli fiqih meletakkan wadah tinta di atas kitab, kemudian gurunya mengatakan dengan bahasa Persia : Kamu tidak akan mendapat ilmu yang manfaat.

Guru kami al Qadi al Ajall Fakhrul Islam yang terkenal dengan sebutan Qadhi Khan berkata: jika meletakkan sesuatu diatas kitab bukan karena meremehkan, maka tidak masalah, tetapi lebih utama menghindarinya.

Dan diantara memuliakan ilmu adalah memperbaiki tulisannnya, mencatat dengan bagus, tulisannya jangan kecil-kecil, dan meninggalkan pinggiran kitab ( tidak mencoret-coret), kecuali untuk mencatat yang penting.

Imam Abu Hanifah melihat seseorang menulis tulisan yang buruk, lalu beliau berkata: kenapa engkau memperjelek tulisanmu ? jika kamu masih hidup, kamu akan menyesal, tapi jika kamu mati, maka kamu akan di umpat, maksudnya adalah jika usia sudah tua, penglihatanmu sudah melemah (kurang jelas), kamu akan menyesali penulisanmu karena kecil-kecil tersebut.

Dikisahkan as Syaikh al Imam Muhammad Majdiddin as Sharhaky berkata: saya menyesali mengapa saya menulis dengan tulisan kecil-kecil tidak jelas, saya menyesali mengapa saya menulis dengan cepat, dan kami menyesal karena tidak menghadapinya.

Hendakanya potongan kitab itu berbentuk segi empat. Itulah bentuk potongan kitabnya Imam Abu Hanifah, hal itu karena memudahkan seseorang untuk membawa, menaruh, dan membacanya. Dan hendaknya tidak mencoret kitab dengan pena merah, karena itu perbuatannya ahli filsafat, bukan tuntunan para Ulama Salaf, diantara guru kami tidak menyukai menggunakan gabungan tinta merah.

Tanya Jawab

Memilih yang berpeci atau berdasi?

Berpeci itu identik dengan ahli ilmu, mempunyai aturan agama yang ketat, kalau berdasi condongnya ke orang umum. Kalau anak kuliah cenderung ke berdasi, beda dengan anak pondok.

Apakah boleh mengkritik guru?

Kurang setuju, mengkritik kesannya terlalu keras kepada guru. Mengkritik dan mengingatkan beda. Kalau mengingatkan boleh, dengan tata krama dan sopan santun.

Apakah dosen harus dimuliakan layaknya kyai?

Dosen hendaknya kita muliakan, tetapi jangan seolah-olah kita samakan dengan kiai, karena dosen dengan kyai beda. Dosen mungkin lebih ke umum. Kalau di pondok, apabila ada kyai kita di depan kita, apabila jalanannya keramik, kita tidak boleh jalan pake kaki, tapi jalan pake kedua lutut. Nah, sedangkan di kampus, apabila kita lakukan seperti itu, kita akan dibilang ndeso. Dan apabila kita di pondok tidak bersikap demikian, kita akan dibilang tidak punya sopan santun, tidak punya adab.

Standar tata krama tiap tempat beda, kalau kita di kampus kita gunakan tata moral kampus, kalo di pondok juga menggunakan tata moral pondok.

Kalo berdasi ibaratkan mahasiswa full (tidak mondok), kalau berpeci ibaratkan santri tulen. Menghargai kyai, memuliakan kitab, didalam kitab tidak boleh menggunakan tinta merah, kalau kitab saja dimuliakan sedemikian rupa, apalagi istrinya yang menemaninya. Jadi, kalau jadi perempuan lebih optimis berbahagia dengan berpeci. Kalau kita lihat di pondok-pondok, kyai mendoktrin santrinya untuk seperti itu. Rais Suriah PBNU Jatim: Ketika seorang laki-laki sukses, tanyakan kepadanya siapa ibunya dan istrinya. Di pondok itu selalu didoktrin untuk memuliakan ibu, istri dan lain-lain. Jadi kalau menjadi perempuan alangkah baiknya memilih suami yang berpeci.

Bukannya kita harus realistis, perempuan kan butuh dinafkahi, masa milih yang miskin? Apakah pernikahan seperti itu salah?

Benar memang harus realistis, dahulu ada kisah bahwa seorang santri sowan kepada Syaikh Hasan Al Bashri, beliau mengadukan bahwa anaknya perempuan dilamar banyak laki-laki, lalu siapa yang akan diterima ? lalu Syaikh Hasan Basri menjawab, pilihlah yang paling bertaqwa. Karena jika dia sedang suka, pasti dia akan memuliakan, diaat dia tidak suka/ marah, dia tidak akan berbuat dzolim.

Kalau ada orang yang mengutamakan fisik dulu daripada keshalehannya, dengan alasan keshalehan bisa dibina suami, sedangkan fisik tidak bisa?

Kurang tepat, karena itu malah sebaliknya, kalau masalah fisik bisa dirubah, bisa operasi plastik, kalau watak seseorang, itu justru tidak dapat dirubah, biasanya menurun dari gen ke gen (orang tua). Kenali dulu orang tuanya, kemudian ortu nya akan ridho. Hadist Rasul, Nikahilah seseorang berdasarkan 4 hal; harta, keturunan, kecantikan dan agama. Dan di hadist tersebut, Rasulullah memberikan saran, utamakan memilih seseorang berdasarkan agamanya, kita diberi anjuran oleh Rasul untuk menikahi seseorang dengan agama yang kuat, bagus. Karena cantik itu bisa seiring dengan waktu, belum tentu yang sekarang cantik, 20 tahun yang akan datang masih cantik. Tetapi kalau agama, selama dia bertaqwa, taat kepada Allah, ia masih bisa membimbing atau meyakinkan untuk bahagia bersama.

Bagaimana kalau mengajak berpacaran?

Coba kenali dulu orang tuanya, agar mendapat ridho. Daripada diam-diam berpacaran.

Tau cara melihat sosok pria yang sholeh itu bagaimana, kan sekarang banyak pencitraan?

Pencitraan itu tidak kuat lama, 1 sampai 2 tahun pasti akan terlihat, bagaimana dia sesungguhnya. Ketaqwaan itu tidak hanya bisa dilihat. Maka mintalah petunjuk kepada Allah melelui shalat istikhoroh. Terkait peci dan dasi itu adalah hanya suatu identitas, tidak boleh memvonis, dia sholeh atau tidak sholeh berdasar dhohirnya.

Misal seseorang menikah, suaminya meninggal, jika suami sholih dan istri itu sholihah maka akan mengajak anaknya untuk berziarah ke makam suaminya, meskipun tidak kaya. Apabila sang istri tidak menikah dengan suami yang sholih, sehingga diapun tidak terbimbing menjadi sholihah, mungkin setelah menikah istri akan kaya, tetapi tidak mau ziaroh dan mendoakan suami yang telah meninggal tadi. Sebaiknya para kader KMNU ini memilih menikah dengan kader KMNU juga, karena orientasinya akhirat juga, agar kelak ada yang mendoakan. Kita mendapatkan istri atau suami yang cantik/ganteng, kaya/miskin tidak apa-apa, tetapi jangan sampai tujuan hidup kita hanya untuk itu, Niat dan tujuan harus ditata dengan baik yang ikhlas karena Allah.

Pembicara: Muh Adib R (Koor Kajian Kitab Kuning) Divisi Kajian dan Dakwah, Departemen Nasional 5

Live Streaming Instagram Kmnu Pusat

You might also like
Comments
Loading...