KAJIAN ONLINE KITAB KUNING TA’LIMUL MUTA’ALLIM: Bab Memulai Belajar, Pengaturannya, dan Urutannya

Pelajaran yang telah dipahami dan dikaji ulang, hendaknya dicatat karena hal ini sangat bermanfaat. Seorang santri tidak perlu menulis sesuatu yang tidak dipahami, karena hal ini dapat menghilangkan kecerdasan, menimbulkan kejenuhan dan menyia-nyiakan waktu.

Ketika kita telah mempelajari sesuatu, hendaknya kita menyiapkan buku untuk mencatat, ketika mengaji atau belajar, yang kita acatat adalah yang kita pahami, yang penting. Apabila maish belum paham tidak perlu dicatat, karena kalau kita sibuk mencatat yang tidak kita pahami, kita nanti  akan  kehabisan waktu.  Supaya kita tidak merasa terbebani, maka kita sebaiknya mencatat yang sekiranya kita mampu saja.

Hendaknya ia berusaha memahami pelajaran dari gurunya atau lebih sering mengamati dan lebih banyak mengkaji karena pelajaran yang sedikit tetapi banyak dikaji akan lebih mudah dipahami, Bahkan dikatakan: “Menghafal dua huruf lebih baik daripada mendengarkan dua kitab” Memahami itu tingkatannya lebih tinggi.

Ketika kita menggampangkan dalam belajar. Seperti tidak murojaah lagi, apabila itu sering dilakukan, maka akan menjadi terbiasa. Bila ia tidak berusaha memahami pelajaran meski sekali atau dua kali dan ia sudah terbiasa, maka pelajaran yang mudahpun ia tidak dapat memahaminya. Oleh karena itu seharusnya ia tidak meremehkan untuk memahami tetapi berusaha sambil berdoa kepada Allah swt. Karena ia akan mengabulkan siapapun yang memohon kepada-Nya dan tidak mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya.

Syaikh Al Imam Qiwamuddin Hammad bin Ibrahim bin Ismail Ash Shafar Rahimahullah membaca syairnya Qadi Khalil bin Ahmad As Sajzuri Rahimahullah:

Layanilah ilmu seperti layaknya orang yang mencari manfaat. Tekunilah pelajarannya dengan akal yang jernih. Bila kamu telah hafal sesuatu, maka ulangilah. Lalu kuatkanlah hafalan dengan sekuat-kuatnya. Orang yang ingin manfaat ilmunya, maka dia harus berjuang sungguh-sungguh“.

Lalu catatlah agar engkau bisa membacanya lagi, dan mempelajarinya untuk selamanya. Jika kamu tidak khawatir akan lupa, bergegaslah mengkaji pelajaran lain. Juga mengkaji ulang pelajaran lalu, demi menjaga tambahan ilmu ini. Amalkan ilmumu kepada manusia agar ilmumu hidup, jangan menjauh dari orang-orang yang pandai. Karena bila kamu menyembunyikan ilmumu kamu akan lupa, hingga kamu hanya melihat orang yang bodoh dan pander. Dan kelak di hari kiamat engkau akan dibungkam, dan tubuhmu akan hangus oleh siksaan yang pedih. Jadi ketika kita memperoleh ilmu, hendaknya kita segera mengamalkannya, sebaik2 nya orang itu yang belajar dan mengajar. Karena apabila kita mengajari orang lain, islam akan tetap hidup/ jaya dan menjadi amal jariyah kita saat kita sudah meninggal. Mengajar itu nikmat sekali, karena orang yang mengajar akan berkembang ilmunya, karena sebelum mengajar pasti dia belajar terlebih dahulu. Belajar, kemudian berpikir dan berpikir, maka ilmu kita akan berkembang dan hidup.

Tidak pasti orang yang pintar, mudah dalam mengajarkan, belum tentu bisa mudah dalam mengajari orang yang belum bisa. Tahapannya yaitu, belajar, mengamalkan, kemudian mengajarkan kepada orang lain.

Seorang murid harus sering mendiskusikan masalah ilmu dan dalam hal ini hendaknya ia bersikap menerima, tidak gegabah, banyak belajar dan menjauhi kemarahan karena mendiskusikan ilmu ibarat musyawarah yang intinya adalah menghasilkan kebenaran. Hal ini tidak akan diperoleh kecuali dengan pengamatan, kesabaran dan mau menerima, ia tidak dapat diperoleh dengan marah dan ambisi.

Bila niatnya hanyalah menundukkan lawan, maka hal ini tidak boleh dan yang hanya diperbolehkan adalah untuk menampakkan kebenaran saja, sedangkan menyamarkan persoalan tidak diperbolehkan kecuali bila kawan diskusi kita tidak sportif bukan menginginkan kebenaran.

Sumber : Kajian online kitab kuning Ta’limul Muta’allim KMNU Pusat tanggal 14 November 2020

Pembicara: Muh Adib R (Koor Kajian Kitab Kuning) Divisi Kajian dan Dakwah

You might also like
Comments
Loading...