Jangan Salah Menjadi Manusia

لَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنسَانَ فيِ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS: 95:4)

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Dikatakan sempurna karena dibekali dengan akal dan nafsu. Nafsu menjadikan manusia dapat menjalani dan menikmati hidup, sedangkan akal manusia berfungsi mengarahkan nafsunya agar lebih terarah dan bijaksana dalam menentukan sikap dalam kehidupan. Manusia yang serta-merta mengedepankan nafsunya tanpa menggunakan akalnya akan membuat dirinya menjadi tidak berbeda dengan binatang. Jika ia dapat mengendalikan nafsunya dengan baik, maka dirinya akan menjadi lebih baik dari sekian makhlukNya.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّيَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّيُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لاَّيَسْمَعُونَ بِهَآ أُوْلَئِكَ كَاْلأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergukan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS:7:179)

Oleh karena itu, Allah menyamakan orang-orang yang tidak mau memanfaatkan kelebihan yang Allah SWT karuniakan, dengan binatang ternak, dan bahkan lebih buruk daripada binatang. Karena mempunyai akal itu adalah pembeda utama yang membedakan antara manusia dengan hewan ternak.

Selain dikaruniai akal dan nafsu, manusia diciptakan Allah SWT dan menjadikannya makhluk sosial, yakni makhluk yang selalu memerlukan pertolongan dari sesamanya dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Sebagai makhluk sosial, manusia dalam kehidupannya akan selalu mencari pertimbangan dan bermusyawarah untuk merealisasikan rencananya, juga dalam interaksi antar sesama.

Dalam konteks manusia sebagai makhluk sosial yang selalu ingin bermusyawarah, manusia terbagi menjadi 3 macam golongan :

Golongan pertama, manusia sempurna, yakni manusia yang mempunyai ide atau pendapat yang tepat dengan berbagai pertimbangan dan ia mau bermusyawarah dengan orang lain untuk memadukan pendapat dia dengan pendapat orang lain.

Golongan kedua, manusia setengah-setengah, yaitu manusia yang memiliki ide atau pendapat yang cukup bagus, tetapi ia tidak mau bermusyawarah sehingga dia terkesan plonga-plongo (karena tidak mau memadukan pendapatnya dengan orang lain).

Golongan ketiga, manusia tanpa arti, yakni manusia yang tidak mempunyai ide atau pendapat dan juga tidak mau bermusyawarah (menerima pendapat orang lain). Manusia jenis ini hampir tidak ada bedanya dengan binatang karena ia tidak memakai akalnya, melainkan hanya mengutamakan nafsunya.

Dari penjelasan diatas, ingin menjadi manusia yang seperti apakah kita? Mari sejenak kita renungkan bersama…

 “Manusia pada hakikatnya selalu bersanding dengan manusia lain, jangan hilangkan hakikat itu dengan sifat egois yang tak terkontrol”-Ibnu Musyaffa’

(Ibnu Musyaffa’/Am/Eff)

Sumber: Kajian Ta’lim Muta’allim di Ponpes Ar-Risalah Bandung oleh KH. Moh. Rofiqul A’la, LC. MA.

You might also like
Comments
Loading...