Islam dan Posisi Kaum Perempuan

Agama Islam adalah agama yang begitu memuliakan seorang perempuan. Bahkan dalam Islam disebutkan bahwa surga berada dibawah telapak kaki ibu dan Nabi Muhammad pun telah bersabda untuk lebih mengutamakan ibu tiga kali lebih besar dibanding Ayah. Dari sabda Rasulullah tersebut jelas bahwa perempuan tidak menjadi makhluk nomor dua dihadapan Islam, justru keduanya merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Namun, ketika dihadapkan dengan budaya masyarakat, kita justru memandang perempuan sebagai makhluk rendah dan lemah ketimbang laki-laki.

Hal tersebut memunculkan adanya kesalahah pahaman gender perspektif Agama karena penafsiran klasik atas teks-teks keagamaan yang bahkan sudah tidak sesuai dengan keadaan masyarakat tertentu. Ketika penulis mengikuti Ngaji Keadilan Gender Islam terdapat salah satu contoh dalam QS. An-Nisa ayat 34 Arrijalu qowwamuna alannisa (lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita). Hal inilah yang menjadi dasar kesalah pahaman gender dalam masyarakat Islam mengenai kepemimpinan seorang perempuan.

Perempuan dianggap tidak dapat menjadi pemimpin wilayah domestik maupun publik, dianggap kurang kompeten dalam kehidupan ekonomi publik dan dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Maka perempuan mengalami yang namanya ketidakadilan gender, seperti :

  1. Stigmatisasi (prasangka buruk)
  2. Marjinalisasi (peminggiran)
  3. Subordinasi (penomorduaan)
  4. Kekerasan (verbal, fisik maupun seksual)
  5. Double burden (peran ganda)

Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai khalifah fiil ardh (pemimpin di muka bumi). Maka jelas jika dalam urusan memimpin apapun tidak ada kaitannya denga jenis kelamin selama diantara keduanya mampu menjalaninya. Dalam Q.S. An-nahl ayat 97 yang artinya :

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri alasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (Q.S. An-Nahl: 97)

Untuk memahami ajaran Islam yang terkandung di dalam al-Quran maka diperlukan penafsiran. Sedangkan para penafsir ini di dominasi oleh kalangan pria yang membentuk penafsiran bias terhadap perempuan. Untuk menghasilkan pemahaman yang tepat sesuai dengan realita keadaan perempuan maka diperlukan penafsiran pada pengalaman perempuan. Seorang ahli hukum tidak dapat menghasilkan kesimpulan yang tepat mengenai persoalan yang menyangkut kepentingan perempuan, kecuali jika melibatkan suara dan pengalaman perempuan.

Ayat diatas membuktikan bahwa perempuan tidak kalah derajatnya dengan seorang laki-laki. Laki-laki dan perempuan apabila mengerjakan suatu kebaikan maka mendapat pahala, begitupun sebaliknya jika keduanya melakukan suatu kejahatan maka mendapat dosa. Jadi seseorang tidak bisa dijatuhi hukuman hanya karena jenis kelaminnya. Dan dalam Surat al-Imran ayat 195

….Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain...” (Q.S al-Imran: 195).

Prinsip-prinsip kesetaraan gender di dalam al-Quran seperti tercantum di dalam ayat diatas adalah laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai khalifah di muka bumi, laki-laki dan perempuan sama-sama mengemban amanah dan menerima perjanjian primodial dari Tuhan (Nasaruddin Umar)

Al-Quran berobsesi mewujudkan keadilan di dalam masyarakat. Al- Quran tidak mentoleransi segala bentuk penindasan, baik berdasarkan kelompok etnis, warna kulit, suku bangsa dan kepercayaan maupun yang berdasarkan jenis kelamin. Jika ada penafsiran yang bersifat menindas atau menyalahi nilai-nilai luhur kemanusiaan, penafsiran tersebut perlu ditinjau kembali. (Nasaruddin Umar)

Setiap mujtahid tentu punya tafsir berbeda tentang sesuatu hal yang terkait dengan kepemimpinn laki-laki dan perempuan. Pendapat Mbak Zuriah dalam buku Jejak Perjuangan Keulamaan Perempuan Indonesia mengatakan bahwa siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin adalah persoalan kesepakatan relasi antara laki-laki dan perempuan. Kondisional dan relative sesuai kemampuan setiap individu.

Disusun Oleh: Siti Chotimah (KMNU UIN Sunan Kalijaga)

Sumber : Zuriah, etc. 2017. Jejak Perjuangan Keulamaan Perempuan Indonesia. Ttp. Kongres Ulama Perempuan Indonesia.

You might also like
Comments
Loading...