Intan dari Tanah Martapura

Kalau orang banyak kenal Martapura dengan sebutan Kota Intan, karena berlimpahnya intan disana maka ada intan yang paling berkilau. Intan yang berharga nan mulia karena ‘keapaadaannya’. Intan yang mulia karena istiqomah “mengasah” dirinya hingga senantiasa berkilau dan semakin berkilau namun tidak menyilaukan. Intan itu lebih dikenal dengan panggilan Tuan Guru Sekumpul, sang “Shohibul Wilayah” Kalimantan Selatan yang kilaunya sampai ke seluruh penjuru Tanah Borneo bahkan hingga nusantara.

Beliau adalah almukarrom KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah bin Mufti Muhammad Khalid bin al-Alim al-Allamah al-Khalifah Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Nama yang terakhir disebut (Abdullah al Banjari) yang dikenal juga dengan sebutan Datu Kelampaian merupakan ulama besar yang menggubah Kitab Sabilul Muhtadin, salah satu kitab rujukan di banyak negara.

Setelah sebelumnya saya beberapa kali mendapati riwayat kemuliaan Tuan Guru Ijai (panggilan lainnya) hanya melalui cerita-cerita yang beredar di dunia maya, alhamdulillah beberapa bulan lalu saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah tempat Guru Sekumpul (panggilan yang paling dikenal oleh masyarakat) berjuang mensyiarkan agama Allah. Setidaknya, ada sedikit kisah yang saya dapat selama hanya beberapa hari disana.

Saat saya berkunjung ke Sekumpul, Martapura, saya sudah mengira ada pesantren besar disana, ya tentunya asuhan Tuan Guru Sekumpul, karena  suasana disana tak ubahnya seperti “Kota Santri”. Namun faktanya justru mencengangkan, Guru Sekumpul tidak punya pesantren yang rutin mengadakan pengajian sepanjang minggu setiap harinya. Hanya majlis rutinan seminggu sekalilah yang menjadi “ujung tombak” dari dakwahnya. Namun dengan pengajian seminggu sekali, beliau justru mampu menjaga Martapura tetap sebagai “Kota Santri” yang di setiap penjurunya terpancar aura keteduhan.

Guru Sekumpul dikenal dekat dengan jamaahnya sehingga pesan-pesannya begitu mengena di hati jamaahnya. Belum lagi, pesan-pesannya memang dibuat sesederhana mungkin sehingga banyak orang bisa langsung memahaminya. Di antara pesan-pesan beliau adalah sebagai berikut:

1. Salah satu pesan Guru Sekumpul adalah tentang karamah, yakni agar kita jangan sampai tertipu dengan segala keanehan dan keunikan. Karena bagaimanapun juga karamah adalah anugerah, murni pemberian, bukan suatu keahlian atau skill. Karena itu jangan pernah berpikir atau berniat untuk mendapatkan karamah dengan melakukan ibadah atau pun wirid. Dan karamah yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah istiqamah di jalan Allah itu sendiri. Pesan ini disampaikan dalam rangka menjawab “fenomena-fenomena” karomah beliau yang terungkap ke publik. Beliau berusaha mewanti-wanti bahwa karomah bukanlah hal instan yang mudah didapat dan apalagi didapat dengan mengabaikan syariat.

2. Pesan berikutnya, beliau menyampaikan bahwa baru sah disebut ulama/muballigh adalah orang yang hatinya terpaut dengan Allah. Mungkin inilah yang membuat anak-anaknya belum “tampil” meski ayahandanya telah tiada, mereka tengah dipersiapkan menjadi pribadi yang meneladani ayahandanya serta para datuknya termasuk Nabi Muhammad (Konon, Guru Sekumpul juga merupakan habaib keturunan Imam Husain bin Sayyidina Ali Karomallahu wajhah)

3. Pesan ketiga, mungkin merupakan pesan yang paling mengena yaitu pasanglah foto ulama di rumah-rumah kita agar kita selalu ingat dengan Allah. Karena setidaknya ketika iman kita sedang turun, melihat ulama yg ada di dekat kita walaupun hanya berupa foto maka kita akan kembali ingat Allah.

4. Pesan ke empat masih berkaitan dengan pesan ke-3. Beliau berpesan agar jangan memasang foto beliau. Mungkin ini terkesan bertolak belakang dengan pesan ke-3, sepintas memang tampak begitu, tapi sebenarnya ini adalah wujud ketawadluan beliau yang begitu tinggi sampai-sampai beliau tidak merasa sebagai seorang yang alim yang fotonya perlu dipasang demi mendekatkan diri dengan Allah.

5. Pesan terakhir, yang saya dapat dari beliau melalui warga yang saya ajak bincang-bincang tentang Guru Sekumpul adalah agama jangan dicampuradukkan dengan politik praktis. Beliau pun melarang keras semua aktifitas politik praktis di Sekumpul termasuk kampanye. Siapa pun yang tengah terlibat “kampanye” diperkenankan jika hendak berkunjung, dengan catatan melepas semua atribut kampanye dan mengubah agendanya menjadi silaturrahim bukan kampanye. Pesan ini masih dijaga oleh para ahli warisnya sehingga pada masa Pilpres kemarin, ketika salah 1 capres hendak berkunjung ke sekumpul juga harus menjalani wasiat dari Guru Sekumpul

Menjelang Haul ke 10 Tuan Guru Sekumpul yang akan dilangsungkan pada tanggal 10 April, jamaah, para murid, dan masyarakat yang mengenalnya masih begitu merasakan bahwa beliau masih ada di tengah-tengah kita semua lewat petuah-petuahnya, lewat ilmu-ilmunya, dan lewat segala keteladanannya. Allohu yarham.(M. Arief Rizqillah)

You might also like
Comments
Loading...