KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

INOVASI PEMANENAN AIR HUJAN DENGAN TEKNOLOGI “FIRST FLUSH DIVERTER” SEBAGAI SOLUSI PERMASALAHAN AIR BERSIH KOTA BANDUN

“Aswaja Mengaliri, Sumber Kehidupan”

Oleh : Umar Faturokhman

Seiring maju dan berkembangnya teknologi, tingkat harapan hidup manusia semakin meningkat, akibatnya jumlah populasi dalam suatu daerah juga akan meningkat. Menurut data Badan Pusat Statistik Kota Bandung, jumlah populasi di Bandung pada tahun 2016 sudah 2.490.622 jiwa dengan luas sekitar 167,7 km2. Jumlah populasi yang semakin tinggi berbanding lurus dengan kebutuhan akan ruang untuk tempat tinggal, namun dengan terbatasnya ruang, menyebabkan manusia bertindak sesuai dengan kehendaknya untuk mendapatkan wilayah untuknya tinggal. Wilayah yang sangat padat dan sempit membuat pengaliran air tidak sebagaimana mestinya, justru pembangunan semakin meningkat dan menyebabkan lahan kosong berkurang. Dengan semakin berkurangnya lahan kosong, tingkat penyerapan air secara alami menjadi berkurang, sehingga limpasan pada saluran tunggal yang berfungsi untuk mengalirkan air dari hulu ke hilir menjadi semakin besar.
Begitu air hujan menyentuh ke tanah, air hujan tersebut akan melakukan perjalan sepanjang permukaan yang dilewatinya dan secara alami harus memasuki ke dalam tanah yang memungkinkan. Namun, karena lahan hijau yang berkurang, beban air dialihkan total menuju ke saluran drainase sehingga limpasan menjadi tinggi. Apabila kapasitas drainase tidak dapat menunjang debit limpasan yang ada, dapat mengakibatkan terjadinya banjir. Menurut data Badan Pusat Statistik, pada bulan Mei 2017 kemarin, terjadi banjir besar di wilayah Pasteur Kota Bandung yang mengakibatkan akses jalan tol terputus dan macet berkepanjangan sampai wilayah Dago. Setelah dianalisis, penyebebab terjadinya banjir ini dikarenakan besarnya air limpasan yang berasal dari hulu yaitu daerah Setiabudi dan daerah Lembang yang tidak sebanding dengan kapasitas drainase yang kecil dan banyaknya sampah yang mengakibatkan aliran air limpasan menjadi terhambat.

Dengan masalah yang ada, diperlukan upaya-upaya untuk mengatasi permasalahan banjir dan pemenuhan kebtuhan air bersih di Kota Bandung. Pada setiap tahap, proses alami hujan memungkinkan tanaman untuk memperlambat air bersih dan secara bersamaan juga berfungsi untuk menyaring air hujan menjadi air bersih melalui tanah menuju ke bawah akuifer tanah yang terdapat sumber air dibawahnya. Pada saat yang sama, proses evapotranspirasi/penguapan umumnya mengakibatkan kehilangan air dari tanaman, tanah dan komponen air ke atmosfer mengikuti siklus hujan. Lain halnya pada kondisi yang menyebabkan kehilangan air secara signifikan menuju aliran sungai sehingga air tersebut terbuang begitu saja secara percuma dan tercampur dengan air kotor drainase perkotaan. Perlu adanya sebuah sistem yang dapat menunjang pemanfaatan air hujan. Sebuah manfaat penting dari daerah resapan air alami dan sebagai kunci proses sistem drainase berorientasi lingkungan yang berkelanjutan sangat diperhatikan dan diperlukan untuk menyerupai proses tersebut.
Oleh karena itu untuk menirukan proses alami tersebut maka dibuatlah suatu sistem agar air hujan yang bersih tidak tercampur dengan drainase pembuangan. Sehingga ari hujan yang bersih dapat dimanfaatkan untuk keperluan perumahan, perkantoran dan fasilitas umum lainnya. Air hujan tersebut sebelum dimanfaatkan akan melewati beberapa proses yaitu mulai dari penangkapan, penyaluran, pembersihan, dan penampungan. Keunggulan dari sistem ini yaitu menggunakan teknologi tambahan first flush diverter, air hujan yang ditangkap akan dibersihkan secara alami tanpa proses pencampuran bahan kimia. Sehingga air hujan tersebut dapat dimanfaatkan dalam kegiatan level perumahan dan perkantoran. Maka dengan sistem ini sistem drainase berorientasi lingkungan yang berkelanjutan dapat dipenuhi.
First Flush Diverter yaitu sebuah teknologi yang digunakan untuk memisahkan air kotor yang berasal dari atap dengan air hujan yang bersih. Teknologi yang digunakan didalamnya yaitu water diverters, berfungsi mencegah aliran air pertama yang kemungkinan besar di dalamnya terkandung kontaminan masuk ke dalam tangki air seperti kotoran hewan, benih-benih serangga, maupun dedaunan. Dengan adanya teknologi ini, setiap rumah maupun fasilitas umum dapat menyediakan air bersih untuk digunakan dan dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga, seperti mencuci pakaian, flushing toilet, sistem air panas dan lainnya.
Saat hujan, air akan terlebih dahulu jatuh ke atap sebelum masuk ke dalam pipa. Air pertama yang jatuh di atap dapat mengandung bakteri-bakteri dari serangga, laba-laba, burung dan kotoran hewan. Air pertama juga dapat mengandung sedimen, logam berat dan bahan kimia yang akan berbahaya jika masuk ke dalam sistem penyimpanan air. Sehingga untuk menghindari hal tersebut, semua polutan akan dipisahkan melalui aliran air petama menuju tangki pemisah.
Air hujan di Indonesia memiliki keasaman yang cukup tinggi, berdasarkan pemantauan tingkat keasaman ait hujan (pH) di Indonesia yang dilakukan di 52 stasiun. dengan menggunakan metode Wet and Dry Deposition dengan alat Automatic Rain Water Sampler (ARWS) dalam pengambilan sampel diperoleh hasil analisis Nilai Ambang Batas pH air hujan normal sebesar 5,6 bersifat asam. Sehingga untuk meningkatkan kualitas air dapat dilakukan pengolahan air hujan, salah satunya yaitu dengan menggunakan tawas untuk meningkatkan pH air hujan, sehingga air hujan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Untuk mengetahui mekanisme pemanenan air hujan dengan teknologi Flush First Diverter, berikut diagram alir mekanisme First Flush Diverter:
Berikut, gambar penampang dan 3D skema Pemanenan Air hujan dengan metode First Flush Diverter untuk lebih memvisualisasikan alur pemanenan air hujan 

Gambar Penampang Melintang RWH dengan Teknologi First Flush Diverter

Gambar 3D RWH dengan Teknologi First Flush Diverter

You might also like
Comments
Loading...