Indonesia, Wayahe Wayahe

Tahun 2019 adalah tahun yang mempunyai hajat besar untuk negara tercinta, dimana tanggal 17 April 2019 adalah momentum “people power” bagi masyarakat Indonesia untuk memilih Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden untuk periode 2019-2024. Terdapat dua pasangan yang akan berlomba dan siap mengabdi untuk 5 tahun mendatang, yakni Ir Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin berhadapan dengan kolega yang juga seorang negarawan yakni H Prabowo Subianto-H Sandiaga Uno. Hal tersebut membuat situasi politik Indonesia terbagi menjadi dua kubu, kubu pro petahana dan kubu penantang, bahkan sebutan Cebong untuk petahanna dan Kampret untuk penantang tersemat untuk keduanya, dan itu Viral!

Indonesia mempunyai falsafah hidup yang kuat dan tidak dipunyai oleh negara lain yakni Pancasila. Pancasila dianggap terbukti menjadi pedoma kuat dalam landasan beragama dan bernegara, karena negara ini berisikan agama, suku, budaya, bahasa yang majemuk dari Sabang sampai Merauke, namun tetap rukun sebagai warga negara dengan satu falsafah hidup berPancasila.

Negeri ini masyarakatnya menyukai hal yang berbau viral, salah satunya yang viral adalah Pentol Cilok Sejati dengan tagline “Wayahee Wayahee” dimana hal tersebut viral dan membanjiri story-story media sosial, “Wayahee Wayahee” yang mempunyai arti waktunya seakan mengajak masyarakat untuk menyukseskan ajang 5 tahunan. Namun yang menjadi masalah pada ajang 5 tahunan tersebut adalah terbelahnya masyarakat Indonesia menjadi 2 kubu, ada kelompok yang menarasikan politik identitas dengan ekspresi poitik yang ekslusif dan dihadapkan dengan kelompok yang bernarasikan “NKRI harga mati”. Menurut saya kedua narasi tersebut sama-sama kurang tepat karena akan bermuara menjadi mausia yang saling tuduh, “kelompok anda anti terhadap Islam, kriminalisasi ulama” berhadapan dengan tuduhan “kelompok anda radikal, anti NKRI” sangat masif terdengar menjelang ajang 5 tahunan ini yang menjadikan kita secara tidak sadar menjadi judging people, manusia yang mudah menghakimi antar sesama manusia. Hal tersebut menjadikan Pancasila hanya sebagai “penengah” perdebatan antar kedua kelompok tersebut dan kurang menyentuh secara personal dan kurang berdaulat pada diri setiap manusia, padahal ajang poitik hanya 5 tahunan namun berPancasila itu mutlak setiap waktu.

Apakah Pancasila sekarang berdaulat penuh terhadap diri kita?. Ir Soekarno mempunyai cita-cita fundamental, dalam pidatonya pada sidang BPUPKI 1 Juni 1945 dan menegaskan bahwa cita-cita Indonesia sudah terangkum pada Pancasila, beliau memahsyurkan dalam pengenalan pembukaan UUd 1945 yang menyatakan bahwa cita-ita bangsa Indonesia adalah berdaulat!.

Berdaulat bisa dimaknai dengan layak, damai, saling menghargai kemajemukan dan mempersilahkan hak-hak masing-masing individu tanpa menghakimi. Memahami kemajemukan adalah cara menjaga persatuan, namun memahami kemajemukan kita harus berhati-hati dalam membedakan kemajemukan alamiah dan kemajemukan struktural. Kemajemukan alamiah adalah kemajemukan dari alam seperti kemajemukan etnisitas, budaya dan bahasa. Kemajemukan struktural adalah keberagaman yang diinduksi oleh kegiatan pembangunan ekonomi, sosial dan politik. Kegagalan memahami antara kedua jenis kemajemukan ini dapat menyebabkan ekspresi yang rendah terhadap kemajemukan alamiah. Bila kemajemukan alamiah harus dihargai, maka kemajemukan struktural harus ditangani, karena ekonomi, sosial dan politik adalah hal fundamental dalam roda kehidupan masyarakat secara politis, oleh karena itu isu kesenjangan ekonomi, kemiskinan , pengangguran harus dientaskan. Kesenjangan ekonomi dan sosial antar kelompok masyarakat adalah kemajemukan struktural yang mempengaruuhi semua pada kelompok ras, etnis, budaya dan kelas sosial. Oleh karenanya, perlu adanya revitalisasi nilai-nilai Pancasila kembali agar individu-individu tidak terjebak oleh narasi-narasi sesaat yang bersifat politik praktis 5 tahunan dan bersama membangun bangsa yang sepenuhnya berdaulat berlandaskan persatuan.

Membangun berlandaskan persatuan adalah impian setiap manusia ketika ia hidup bernegara, meskipun manusia adalah sosok individu tetapi ia pasti membutuhkan manusia lainnya karena manusia adalah makhluk sosial. Oleh karena itu sudah “Wayahe Wayahe” membangun persatuan dalam kelompok pasca pemilu ini dengan individu-individu untul membangun aspek relasional yang menghubungkan unsur-unsur majemuk  dalam kelompok. Penekananya adalah aspek relasional. Jadi membangun  persatuan dan kesatuan itu tidak sama dengan membangun keseragaman, yang cenderung membatasi karakteristik kemajemukan sehingga kelihatannya seragam. Membangun persatuan dan kesatuan dapat dilakukan dengan memajukan kesadaran individu akan kemajemukan itu baik memahami kemajemukan alamiah dan struktural, sehingga kita bisa mengenali aspek relasional dalam hubungan antara satu sama lain di tengah kemajemukan tersebut.

Oleh karena itu,membangun kesatuan dan persatuan harus didasarkan pada pemahaman kedua aspek fundamental, yakni (1) adanya  realitas dua jenis kemajemukan, dan (2) adanya aspek relasional yang mengikat antar kemajemukan tersebut, disitulah nilai-nilai Pancasila akan lebih diresapi tanpa dibumbui “drama” 5 tahunan saja, sudah “Wayahe Wayahe” paradigma Keragaman dalam Persatuan (Diversity In Unity) untuk Pancasila yang lebih berdaulat pada diri kita semua. Tabik

Comments
Loading...