Haul Gus Dur, Matahari Telah Pulang #2

Makan Malam Keluarga yang Penuh Tawa

Saya sering makan di rumah itu, pagi, siang atau malam, baik usai mengaji atau tidak. Apabila sarapan pagi atau makan siang, ibu Shinta hanya menemani saya dan teman yang ikut ngaji bersama saya di rumah itu. Ibu tak pernah ikut makan bersama, karena beliau puasa tiap hari dan itu dilakoninya selama bertahun-tahun, sejak masih mondok di Jombang dan berkenalan dengan suaminya itu. Lauk-pauknya tak ada yang istimewa. Begitu sederhana; tempe, tahu, sambal, lalap, sayur bening atau lodeh, atau rawon atau soto Lamongan, rujak cingur, pecel,telor, daging kering dan kerupuk. Cuci mulutnya pisang, jeruk, es cendol, atau es campur.

Begitulah isi meja makan di rumah itu, begitu bersahaja, tak ada kemewahan, tak ada yang istimewa, dan tak ada yang berlebih-lebihan. Bukan hanya di rumah ini menu seperti itu, tetapi juga ketika di istana, selama dua tahun. Saya sama sekali tak bisa membandingkan dengan menu makanan para pembesar yang lain di rumah mereka, di Menteng atau di Cikeas, karena  tak pernah makan di sana, karena orang kecil, konon, dilarang masuk.

Ada satu malam yang tak akan pernah saya lupakan. Itu adalah ketika saya, usai mengaji dari siang sampai sore, diajak makan malam bersama Gus Dur dan keluarganya di rumah itu. Saya amat senang karena beliau ada di rumah dan berkumpul bersama keluarganya. Saya amat jarang menyaksikan pemandangan seperti ini,  seperti malam itu.

Di meja makan itu saya adalah satu-satunya “orang asing” di keluarga itu. Di samping Gus Dur dan Ibu Shinta Nuriah adalah empat orang anaknya. Menu makanan yang dihidangkan tetap saja tak terlalu istimewa, seperti yang sudah disebut di atas. Saya duduk berhadapan dengan Gus Dur. Saya melihat dengan amat jelas, beliau tak menampik/menolak lauk apa yang diberikan kepadanya. Beliau menerima saja, mengunyahnya dan menikmatinya. Sepertinya tak ada makanan yang tak disukainya.

Manakala nasi habis dan ditambahi anaknya, beliau diam saja dan melahapnya. Usai makan yang “penuh berkah” itu, dengan tetap berada di depan meja, Gus Dur mulai melemparkan cerita-cerita unik dan humor-humor baru yang membuat semuanya tergelak-gelak. Lemparan humor Gus Dur disambut dengan humor-humor dari yang lainnya, kecuali saya, dengan humor-humor yang tak kalah lucu dan sanggup meledakkan tawa yang tak habis-habis. Dan perut saya tiba-tiba tak lagi penuh, karena terguncang-guncang yang tak pernah mau berhenti. Saya sendiri tak punya bahan apa-apa untuk bisa membuat orang bergembira, terbahak-bahak atau terkekeh-kekeh, seperti mereka. Sayang sekali, saya bukan orang yang bisa menyimpan cerita atau lelucon itu dalam otak saya, hingga semuanya jadi lupa, tak bisa diingat lagi.

Mengaji Kitab Sastra dan Tasawuf

Jika Gus Dur tak pergi ke mana-mana, ia  atau memang ada jadwal mengaji kitab kuning di masjidnya. Beliau mengaji atau memberikan kuliah kepada para santrinya, sambil duduk di kursi yang sudah disediakan. Sementara para santrinya duduk bersila dalam posisi melingkar membentuk arena. Gus Dur biasanya menentukan hari Sabtu untuk mengaji kitab kuning itu. Banyak kitab yang sudah dibaca Gus Dur, di hadapan para santrinya, terutama kitab-kitab bahasa dan sastra klasik, kitab-kitab Tasawuf (mistisisme) dan Ushul al-Fiqh (teori fiqh) atau al-Qawa’id al Fiqhiyyah (kaedah fiqh). Menurut Kiai AW. Maryanto, yang biasa mendampingi atau membacakan kitab, Gus Dur pernah membacakan kitab “Qathr al-Nada”, sebuah kitab tata bahasa Arab karya Ibnu Hisyam. Lalu kitab Al-Mu’allaqat al-Sab’, kumpulan puisi Imri al-Qais, raja penyair Arab pra Islam. Secara literal “Al-Mu’allaqat al-Sab’” adalah tujuh puisi yang digantung di dinding ka’bah. Bila sebuah puisi sudah digantung di situ, maka ia adalah yang terseleksi dari sekian banyak puisi.

Seleksinya dilakukan di hadapan publik di arena sastra di Ukaz. Gus Dur juga membaca Diwan Al-Buhturi, Maqamat al-Hariri dan Diwan al-Mutanabbi. Lalu ia juga menyebut kitab Nuzhah Alibba fi Thabaqat al-Udaba (Taman Para Cendikia; Biofrafi Para Sastrawan), karya Abu al-Barakat al-Anbari. Buku yang terakhir ini, menurut cerita Gus Dur, masih tersimpan di lemari Kakeknya, Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asy’ari. Ia membacanya ketika masih sangat muda. Semuanya adalah kitab sastra Arab klasik yang bermutu tinggi dan menjadi acuan penulisan sastra Arab-Islam sesudahnya. Kitab lain yang dibaca adalah Al-Asybah wa al-Nazhair, sebuah kitab tentang kaedah-kaedah hukum (fiqh), karya Imam Abd al-Rahman al-Suyuthi, seorang ensiklopedis (mausu’i), penulis ratusan kitab kuning dalam berbagai disiplin. Caranya mengaji kitab-kitab itu tidak sebagaimana di pesantren.

Gus Dur tidak membaca seluruh isinya. Ia hanya membaca awalnya dan beberapa kalimat saja yang dibacakan oleh salah seorang santri, lalu menjelaskan kandungannya. Di tengah-tengah mengaji kitab-kitab tersebut beliau juga menyinggung tentang kitab lainnya dan bercerita panjang lebar. Gus Dur juga membaca kitab-kitab Tasawwuf. Pada bulan puasa Gus Dur membaca kitab Al-Hikam (Mutiara-mutiara Kebijaksanaan) karya sufi besar Ibnu Athaillah al-Sakandari. Ia menyinggung dan memperkenalkan antara lain kitab Al-Insan al-Kamil (Manusia Paripurna), buku Tasawuf yang amat terkenal, karya sufi besar Abd al-Karim al-Jilli.

Tetapi dari banyak sekali kitab klasik tasawuf tersebut, Gus Dur tampaknya sangat terkesan pada kitab al-Hikam al-‘Athaiyyah tadi. Kitab ini sangat dikenal luas di kalangan ulama Pesantren dan selalu diajarkan di sana sampai hari ini. Kitab al-Hikam, adalah referensi utama sufisme sunni, selain Qut al-Qulub (Energi hati), karya Abu Thalib al-Makkial-Risalah (risalah), karya al-Qusyairi, dan tentu saja Ihya Ulum al-Din (menghidupkan  Ilmu-Ilmu Agama), karya puncak Imam al-Ghazali. Gus Dur tampak amat menyenangi kitab Hikam, mungkin karena karya ini ditulis dalam bentuk sastra puisi yang sangat indah dengan isinya yang penuh mutiara kebijaksanaan. Salah satu puisi Ibnu Athaillah yang sering disampaikan Gus Dur adalah syair “Idfin”, ini :

إِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِى أَرْضِ الْخُمُوْلِ

فَمَا نَبَتَ مِمَّالَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نَتَاجُهُ

Sembunyikan wujudmu pada tanah yang tak dikenal

Sebab sesuatu yang tumbuh dari biji yang tak ditanam tak berbuah sempurna

Soal puisi (syair) di atas, Prof. Dr. Zaki Mubarak, sarjana Tasawuf terkemuka dari Mesir, mengatakan : “Syair Idfin itu amat memukau. Ia begitu indah. Aku tak pernah menemukan yang sepertinya di tempat lain. Di dalamnya tersimpan gejolak spiritualisme yang amat kuat. Sang penulis, agaknya, menemukan maknanya ketika ia melakukan permenungan dalam sunyi, bening dan dalam situasi ekstasi, lalu merasuki jiwanya, maka ia menjadi kata-kata indah nan abadi, sepanjang zaman”.(Al-Tashawwuf al-Islami fi al-Adab wa al-Akhlaq, hlm. 108).  Puisi tersebut bicara soal perlunya menjauhkan hasrat dan ambisi akan popularitas, kemasyhuran diri dan politik pencitraan. Arti puisi itu kira-kira begini, “Simpanlah hasratmu akan popularitas, karena hasrat yang demikian tak akan membuat dirimu tumbuh dan berkembang sempurna”.

Hasrat akan kemasyhuran akan menyibukkan diri pada urusan-urusan yang tak berguna dan mengabaikan kerja-kerja yang bermanfaat bagi manusia. Cinta pada kemasyhuran mendorong orang untuk mengurusi dirinya sendiri dan tak peduli pada orang lain. Hasrat ini mungkin sekarang popular disebut “politik pencitraan”. Saya pernah membaca buku karya Yasraf Amir Piliang, Posrealitas. Ia bilang, “Citra merupakan bentuk manipulasi realitas untuk kepentingan tertentu, dan pada titik yang ekstrim, tercerabut sama sekali dari dunia realitas. Citra tak lagi merupakan cermin realitas, melainkan cermin dari kepentingan. Yang tercipta adalah fatamorgana social yang di dalamnya tanda-tanda  telah tercerabut dari kebenaran”. Dengan lugas Yasraf bilang, “Citra memangsa dunia realitas dan membunuh kebenaran”. Makna lain dari kata-kata bijak Ibnu Athaillah di atas adalah perlunya ketulusan dan keikhlasan. “Sepi ing pamrih, rame ing gawe”, kata pepatah Jawa. Puisi lain dari sufi agung yang juga amat sering disampaikan Gus Dur adalah:

لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُه

وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ

Tak usah temani orang-orang yang tak membangkitkan tingkah-lakumu

Dan yang kata-katanya tak membimbingmu kepada Tuhan

Gus Dur, sering menyampaikan di hadapan umatnya, bahwa syair inilah yang mengilhami para ulama/kiai pesantren, pada 1926, untuk memberi nama organisasi mereka, “Nahdlatul Ulama”, yang berarti Kebangkitan Ulama. Kini ia menjadi organisasi keagamaan terbesar di dunia, dengan berjuta-juta pengikut setia yang hari demi hari terus bertambah. Ada tokoh NU yang menyebut, jumlah pengikut NU adalah semua warga Negara Indonesia, selain Muhammadiyah. Ukurannya mudah saja. Sepanjang orang masih Tahlil pada hari kematian, maka dia orang NU. Ini mungkin saja sekedar berkelakar. Kakek Gus Dur adalah pimpinan tertinggi pertama dengan sebutan “Rois Akbar”.

Predikat ini hanya disandang beliau. Gus Dur, sang cucu, kemudian melanjurkan, membesarkan dan membuat organisasi ini dikenal luas di dunia Barat maupun di dunia Timur. Gus Dur telah memimpin organisasi ini selama 15 tahun dan di bawah kepemimpinannya NU kembali berwibawa dan disegani banyak orang, termasuk pemerintah. Banyak orang bilang NU telah menjadi Gus Dur. “Gus Dur adalah NU”. Mengenai kata-kata ini saya ingat ucapan Rumi sang penyair-sufi;

“Aku telah begitu banyak berdoa

Hingga aku telah berubah menjadi doa itu sendiri

Setiap orang yang melihat diriku

Meminta doa dariku”

Dengan kata-kata bijak dari Ibu Athaillah di atas, Gus Dur juga telah membangkitkan pikiran para santri dan umatnya, sehingga mereka banyak yang kemudian menjadi cerdas, kritis dan bergairah.

“Tak ada kekuatan apapun di bumi.

Yang mampu menundukkan bangsa.

Jika saja mereka bangkit.”

Setiap mendengar Gus Dur membaca kalimat-kalimat puitis di atas, terutama syair “Idfin”, saya tak tahan untuk menangis sendiri. “Pesan-pesan itulah rupanya yang menuntun dan membimbing Gus Dur sepanjang hidupnya”. Beliau selalu menyimpan hasrat-hasrat kemasyhuran diri dan lebih banyak bekerja daripada bicara. Beliau bicara jika memang harus bicara. Meskipun gemar humor atau melucu tetapi humor-humornya selalu memberi makna yang berguna bagi orang. Humor-humornya bukan asal-asalan, tetapi menyimpan makna.

Gus Dur selalu ingin dan memang sering menemui orang-orang yang direndahkan dan disisihkan hanya karena mereka miskin, papa tak penting dan tak berharga. Tetapi tidak bagi beliau. Merekalah yang telah memberi makna, menginspirasi, membangkitkan gairahnya dan Gus Dur ingin membangkitkan gairah mereka, membuat mereka bisa menatap hari depan dan menjalani hidupnya dengan optimis. Gus Dur tahu persis, kemiskinan menjadi sumber paling potensial menghancurkan moral orang, seperti kata Nabi : “Kada al-Faqr an Yakjuna Kufran”. Saya memaknai hadits ini “Kefakiran bisa mengantarkan orang pada sikap anti (mengingkari) kebenaran”, dan bukannya “kefakiran mendekatkan orang pada kekafiran/murtad”, meski mungkin saja. Gus Dur juga ingin mereka bangkit dan maju. Betapa banyak sudah anak-anak muda miskin diberinya bantuan, dan betapa banyak anak muda yang diberi kesempatan untuk maju dan menjadi pemimpin. Beliau gembira dan tak mengharap balas jasa. Gus Dur tak peduli, mereka mau berterima kasih atau tidak. (Eff)

_______________________________________________________

Penulis : KH. Husein Muhammad

Cirebon, 180112

Penulis adalah Ketua Dewan Kebijakan di ISIF (Institut Studi Islam Fahmina)

You might also like
Comments
Loading...