KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Harmonisasi Keluarga dalam Perspektif Alfiyah Ibn Malik

Oleh: Adam Rouf Hidayat

(KMNU UNILA/Departemen Nasional 5)

Keluarga harmonis, siapa yang tidak ingin memiliki keluarga yang harmonis? Sudah bisa dibayangkan bagaimana gambaran keluarga yang harmonis menurut pandangan seorang awam adalah memiliki suami/istri yang lemah lembut perkataannya, santun dalam berperilaku, dan saling menutupi kekurangan pasangan masing-masing. Diantara suami istri hendaknya saling memahami dan mengerti tentang keadaan masing-masing, baik secara fisik maupun secara mental. Perlu diketahui pula bahwa keduanya tidak saja berbeda jenis tetapi juga memiliki perbedaan sifat, sikap, tingkah laku dan mungkin perbedaan pandangan.

Keluarga harmonis bukanlah hal yang an sich, namun tidak berarti terlalu sulit untuk diraih. Banyak sekali tuntunan yang bisa dicoba untuk meraihnya, baik tuntunan tersebut bersumber dari ajaran Islam, kearifan lokal dan bisa juga pengembangan ilmu pengetahuan bidang keluarga. Bahkan tuntunan keluarga harmonis juga bisa kita temukan dalam sebuah kitab Nahwu.

Alfiyah Ibn Malik merupakan salah satu kitab Nahwu yang sering dirujuk sebagai referensi, pun juga banyak dihapalkan karena nadzam/baitnya yang nyaman dilagukan. Namun di dalamnya juga berisi ilmu diluar Nahwu jika kita mau mengontekstualisasikannya. Selanjutnya tulisan ini akan mengulas bagaimana mencapai keluarga yang harmonis perspektif Alfiyah Ibn Malik, sebuah tuntunan cerdas yang tersirat di beberapa nadzamnya.

Kalamuna lafdzun mufidun kastaqim; yang artinya bahwa perlu adanya komunikasi dengan menggunakan redaksi yang baik dan patut secara kontinyu. Sebab sejatinya dalam membina rumah tangga pasangan suami istri tidak lepas dari masalah yang selalu hadir dalam kehidupannya. Oleh karena itu, komunikasi memiliki peran penting dalam memecahkan dan menyelesaikan sebuah masalah.

Kita melihat dalam potret kehidupan sehari-hari, banyak dijumpai pasangan suami istri yang terjebak dalam konflik berkepanjangan. Mereka tidak mampu mengungkapkan keinginan dan perasaan secara langsung kepada pasangannya. Hal ini berdampak munculnya salah paham dan memicu emosi serta kemarahan pasangan. Komunikasi yang tidak lancar tersebut berpotensi merusak suasana hubungan antara suami dengan istri. Oleh karena itu, komunikasi yang aktif antara suami dan istri sangat vital dalam jalinan hubungan rumah tangga.

Farfa’ bidhammin;  yang artinya mari galang kebersamaan, yaitu dalam hubungan rumah tangga diperlukan adanya kebersamaan. Kebersamaan dalam hal ini tidak sekedar kehadiran fisik belaka. Namun adanya keterlibatan emosi pada seluruh anggotanya. Kebersamaan yang terjalin dengan baik tidak akan terpengaruh oleh rentang waktu, yang secara lebih luas bisa disebut ‘kekompakan’. Suami dan istri adalah dua insan yang berbeda karakter, dari itu diperlukan suatu kekompakan dan kebersamaan dalam meraih sebuah keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Setiap orang atau anggota keluarga perlu memiliki visi dan misi yang sama dalam membentuk kebahagiaan bersama. Jangan sampai sang istri menginginkan kesenangan materi, sedangkan sang suami hanya menginginkan kesenangan batin. Kedua hal ini baiknya dijalankan seimbang agar konflik yang dihadapi  tidak merusak harmoni keluarga. Penyesuaian diri dalam keluarga berarti setiap anggota keluarga berusaha untuk dapat saling mengisi kekurangan yang ada pada diri masing-masing serta mau menerima dan mengakui kelebihan yang lain. Kemampuan penyesuaian diri oleh masing-masing anggota keluarga mempunyai dampak positif baik bagi pembinaan keluarga, lebih-lebih masyarakat dan bangsa.

Wansiban fathan; yaitu adanya transparansi dalam hubungan suami dan istri. Dalam kehidupan berkeluarga, sikap bermusyawarah terutama antara suami dan istri merupakan sesuatu yang perlu diterapkan. Hal tersebut sesuai dengan prinsip bahwa tak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan selama prinsip musyawarah diamalkan. Dalam hal ini dituntut sikap terbuka, lapang dada, jujur, mau menerima dan memberi serta sikap tidak mau menang sendiri. Sikap mengutamakan musyawarah dalam keluarga dapat menumbuhkan rasa memiliki dan rasa tanggung jawab diantara para anggota keluarga dalam menyelesaikan dan memecahkan setiap masalah yang timbul.

Wajur kasran;  yang artinya hindari perpecahan. Maksudnya pasangan suami istri harus mampu mengelola konflik keluarga. Keluarga harmonis bukan berarti keluarga tanpa masalah, tetapi dapat mengelola konflik yang terjadi. Pasangan suami-istri harus saling berkomitmen atas setiap usaha peningkatan dan kemajuan bersama yang dapat mewujudkan kebahagiaan keluarga.

Setiap pasangan suami istri menginginkan hidup bahagia. Kebahagiaan hidup bersifat relatif sesuai dengan cita rasa dan keperluannya. Namun begitu, setiap orang setujua bahwa kebahagiaan adalah segala sesuatu yang dapat mendatangkan ketentraman, keamanan dan kedamaian serta segala sesuatu yang bersifat pemenuhan keperluan mental-spiritual manusia. Untuk dapat mencapai kebahagiaan keluarga, hendaknya antara suami istri senantiasa berupaya memupuk rasa cinta dengan rasa saling menyayangi, mengasihi, menghormati, menghargai serta penuh keterbukaan.

Kadzikrullahi abdahu yasur;  yaitu dengan berdzikir kepada Allah, maka seorang hamba akan jadi bahagia. Suami istri hendaknya sadar bahwa jodoh, rezeki, dan mati itu dalam kekuasaan Allah, tidak dapat dirumuskan secara sistematis. Namun manusia diperintahkan untuk melakukan ikhtiar dan selalu berdoa. Karena doa adalah intisarinya ibadah, yang mengandung arti mengakui atas kelemahan diri dan meyakinkan atas kekuatan dan kekuasaan Allah SWT. Hasilnya barulah merupakan suatu kenyataan yang harus kita terima, termasuk keadaan suami atau istri kita masing-masing, kita terima secara tulus ikhlas sebab hanya dengan ridha Allah semuanya bisa terwujud, termasuk membangun keluarga harmonis.

Keluarga yang harmonis adalah impian semua orang. Tentu jalan yang ditempuh mencapaianya tidaklah selalu sama. Beberapa aspek yang diulas diharapkan dapat menjadi cara untuk menggapai bahtera keluarga bahagia yang berlabuh di dermaga keluarga sakinah mawaddah warahmah. Semoga bermanfaat.

Adek setuju kata abang, kan?

Comments
Loading...