Hakikat Makna Sholat 5 Waktu

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dalam agama islam, Sholat merupakan rukun islam yang kedua. Sholat merupakan salah satu bentuk ibadah seorang muslim kepada Allah SWT. Sholat juga sering disebut sebagai tiang agama seseorang,  bahwa siapa saja yang menunaikannya akan menjadi tameng melakukan perbuatan keji dan munkar. Salat merupakan ibadah yang menggerakkan semua persendian tulang dengan berdiri, membungkuk, bangkit, duduk, berdiri lagi, dan seterusnya. Secara tidak langsung, salat mengajarkan anda bagaimana untuk hidup dinamis, bergerak, terus berusaha, dan berdoa dengan penuh optimisme. (Aziz, Moh. Ali, 2016 : 18).

Perintah shalat 5 waktu diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra dan Mi’raj, yang terjadi sekitar 18 bulan sebelum peristiwa hijrah. Peristiwa tersebut terekam dalam hadits Nabi riwayat Bukhori (No. 342) dan Muslim (No. 163):

أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: “فرج عن سقف بيتي وأنا بمكة، فنزل جبريل .. ثم أخذ بيدي فعرج بي إلى السماء … ففرض اللهعلى أمتي خمسين صلاة … فراجعته فقال: هي خمس وهي خمسون لا يبدل القول لدي”.

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “loteng rumahku terbuka saat aku berada di Makkah, kemudian Jibril turun … kemudian ia memegang tanganku dan mengangkatku ke langit…kemudian Allah memfardlukan shalat 50 waktu pada ummatku…maka aku kembali lagi, dan Dia (Allah) berfirman: “Shalat 5 waktu itulah (pahalanya sama dengan) shalat 50 waktu, tidak akan tergantikan lagi pernyataanku”.

Sejak saat itulah shalat 5 waktu sehari semalam difardlukan bagi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Shalat 5 waktu yang pahalanya sama seperti shalat 50 waktu.

Nah, permasalahan umum yang sering terjadi di masyarakat saat ini, salat dianggap hanya sebagai penggugur kewajiban agama, tidak ada penghayatan dalam mengerjakan sehingga tidak membuahkan perilaku yang santun dan bermoral. Akan tetapi, akan semakin meneguhkan anggapan bahwa jika ritual ibadah jika dijalankan ‘asal-asalan’, maka akan menghasilkan pribadi yang ‘sama saja’. Tak ada bekas atau labet (Jawa) yang dihasilkan setelah beribadah.

Diterangkan dalam Kitab Fasholatan karya Mbah K. H. Asnawi Kudus yang dikutip oleh K. H. Drs M. Syukron Djazilan Badri, M. Ag. dalam bukunya Bengkel Hati “Dari Gelap Hati menuju Cahaya Ilahi”, Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat mengenai pendapat mereka bagaimana jika ada sebuah sungai mengalir di depan pintu salah seorang di antaranya dan dia mandi dalam sungai itu sebanyak lima kali dalam sehari, apakah ada daki (kotoran) yang masih menempel pada tubuhnya atau tidak. Lalu, sahabat menjawab bahwa tidak akan tersisa dari apapun pada tubuhnya. Kemudian, Rasulullah membenarkan dan mengumpamakan seperti itulah orang yang menjalankan salat 5 waktu dengan sungguh-sungguh, yaitu Allah akan menghapus segala dosa-dosanya.

Barang siapa yang menjaga salatnya maka baginya cahaya dan bukti serta keselamatan pada hari kiamat, dan barang siapa yang tidak menjaganya maka dia tidak memiliki cahaya, bukti, dan tidak akan selamat pada hari kiamat karena perkara yang pertama kali di-hisab oleh Allah SWT pada hari kiamat adalah salatnya. Sungguh merugi orang yang menyia-nyiakan salat mereka (Badri, Syukron Djazilan, 2012 : 123 – 125)

Jadi, terlepas dari fenomena yang sering terjadi di masyarakat islam saat ini entah itu pembunuhan, tawuran, pemfitnahan, dan perbuatan keji yang lain bisa jadi faktor utamanya adalah kurangnya melakukan penghayatan dalam salat. Lalu, bagaimana caranya agar kita berusaha untuk meningkatkan level kualitas ibadah kita? Jawabannya tentu mudah, yaitu dengan mengaji, mengaji, dan mengaji. Namun, kita harus dalam mengaji kita tidak boleh hanya mengandalkan dari internet dan asal pilih guru karena itu akan sangat berdampak kepada diri kita. Seperti yang didawuhkan oleh K. H. Ma’ruf Amin, yaitu “Belajar agama jangan hanya melalui internet, bisa bahaya. Di sinilah pentingnya berjamaah dan berjami’iyyah. Belajar agama itu dari ulama.”

Sekian yang dapat penulis sampaikan, mohon maaf apabila ada kekurangan maupun kesalahan karena keilmuan penulis yang masih jauh dari kata cukup. Terima kasih.

Wallahul Ilaa Aqwamit Thariq

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Sumber:

  1. Kitab Kuning Fasholatan karangan K. H. Asnawi Kudus
  2. Badri, Syukron Djazilan. 2012. Bengkel Hati, Dari Gelap Hati Menuju Cahaya Illahi. Surabaya: Zifatama.
  3. Aziz, Moh. Ali. 2016. Sukses Belajar Melalui Terapi Shalat. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press.
  4. Aziz, Moh. Ali. 2011. 60 Menit Terapi Shalat Bahagia. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press.

Ahmad Reza Azizi

Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Nahdilyyin (IMAN) Politeknik Keuangan Negara STAN

You might also like
Comments
Loading...