KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

GUSTI MBOTEN SARE

Refleksi Kekuatan Doa dan Sabar

Oleh: Arrial Thoriq (KMNU UB)

Pada perkuliahan Prof. Masruchin Ruba’i, S. H., M. S., dosen hukum pidana saya, berbagi sebuah kisah yang boleh dikata aneh tapi nyata. Dalam materi daya paksa (overmacht) berupa keadaan darurat yang salah satu bentuknya adalah benturan antara dua kepentingan hukum. Beliau mencontohkan pengguguran kandungan untuk mempertahankan nyawa si ibu. Dalam kondisi ini, maka kepentingan hukum si ibu untuk hidup dipertentangkan dengan kepentingan hukum si janin untuk hidup juga. Dalam KUHP, pengguguran kandungan sendiri diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. Bunyi Pasal 346 KUHP sebagai berikut:
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Namun kemudian, karena menurut dunia medis sendiri, pengguguran kandungan itu diperlukan dengan asumsi bahwa nyawa si ibu lebih dapat dipastikan untuk bertahan daripada si janin. Dengan demikian maka sifat melawan hukum perbuatan tersebut hapus.

Prof. Masruchin melanjutkan pemaparannya, bahwa beberapa tahun yang lalu pernah ada kasus seorang ibu yang divonis tidak akan selamat nyawanya apabila janin yang dikandungnya tidak digugurkan. Berbekal keyakinannya yang kuat, si ibu menolak untuk menggugurkan kandungannya. Ia memilih untuk mempertahankan janinnya apapun yang terjadi. Diiringi dengan sholat tahajud setiap malam, si ibu berdoa kepada Allah SWT agar diselamatkan dirinya dan anaknya. Biidzinillah, setelah melahirkan, si ibu dan anaknya dalam kondisi selamat. Tentu kejadian ini diluar nalar, karena menurut asumsi medis, seharusnya keduanya tak selamat. Dengan doa yang dipanjatkan ke hadirat-Nya secara kontinyu dan konsisten, Allah SWT pun memberikan nikmat kepada si ibu dan anaknya untuk tetap hidup.

Merefleksikan kisah di atas, ada baiknya kita lihat firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah ayat 186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Allah sengaja meletakkan ayat ini di tengah-tengah ayat puasa, sebagai anjuran supaya rajin-rajin berdoa ketika selesai bilangan puasa, bahkan setiap kali berbuka puasa, sebagaimana riwayat dari Abdullah bin Amr RA yang mengatakan, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika berbuka ada doa yang tidak akan tertolak” (HR Ibnu Majah dan Abu Dawud) (Bahreisy, H. Salim dan H. Said Bahreisy Tanpa tahun, 353)
Selanjutnya, ayat di atas memerintahkan agar orang yang berdoa percaya kepada-Nya. Ini bukan saja dalam arti mengakui keesaan-Nya, tetapi juga percaya bahwa Dia akan memilihkan yang terbaik untuk si pemohon. Dia tidak akan menyia-nyiakan doa itu. Akan tetapi, boleh jadi, Allah SWT memperlakukan si pemohon seperti seorang ayah kepada anaknya; sesekali memberi sesuai permintaannya, di lain kali diberikannya sesuatu yang lain dan lebih baik dari yang dimintanya. Tidak jarang pula Allah SWT mmenolak permintaannya, tetapi memberinya sesuatu yang lebih baik di masa mendatang, kalau tidak di dunia, maka di akhirat. Bukankah ayah yang baik tidak memberi sesuatu yang merugikan anaknya, walau sang anak mendesak? Allah mengetahui dan kamu sekalian tidak mengetahui, demikian Al-Qur’an menegaskan. Karena itu pula Rasul SAW bersabda, “Berdoalah kepada Allah disertai dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan memperkenankan (doamu).” (Shihab 2013, 137) Senada, Ibnu Atha’illah al-Iskandari dalam Kitab Al Hikam menyatakan “Jangan sampai tertundanya karunia Tuhan kepadamu, setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu putus asa. Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilihan-Nya, bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan pada waktu yang kauinginkan.” (asy-Syarqawi 2014, 11)

Terlepas dari relasinya dengan ibadah puasa, ayat tersebut menunjukkan kepada kita sebagai umat muslim bahwa sudah seharusnya kita selalu memohon dan meminta kepada Allah, karena dengan demikian permohonan kita akan tercapai dan kegundahan hati kita akan hilang. Kita sendiri tidka bisa memungkiri bahwa kebutuhan hidup di jaman sekarang semakin kompleks, oleh karena itu seharusnya ketergantungan kita kepada Allah lewat doa juga semakin tinggi, tentunya dibarengi dengan usaha. Di sisi lain, banyak orang yang kelihatannya hidup bahagia dan berfoya-foya, tapi ternyata hampa karena tidak dibarengi dengan keyakinan terhadap Allah dan syukur terhadap nikmatnya. Lewat doa, manusia akan berkurang “ketegangan, perasaan tidak senang, kesedihan, sakit, dan sebagainya” sedangkan “perasaan kesenangan, kegirangan, bahagia, dan sebagainya” justru akan bertambah, karena ia yakin bahwa ada Allah yang transeden yang senantiasa akan menyertainya dan mengabulkan permohonannya yang disertai dengan ikhtiar dari dirinya sendiri. S. Takdir Alisjahbana mengemukakan:
“Tiap-tiap organisma yang menghadapi sekitarnya menurut sistem drive atau dorongan hidup – lapar untuk mempertahankan hidup organisma itu; dorongan sex untuk mempertahankan hidup genus atau jenis – mengindera sekelilingnya menurut pembawaanya, yaitu menuju ke arah yang ditentukan oleh dorongan hidup. Apabila tujuan dari dorongan-dorongan ini tercapai oleh organisma, organisma itu mengalami perasaan berkurangnya ketegangan, perasaan kesenangan, kegirangan, bahagia, dan sebagainya, yang dapat kita namakan kepuasan. Apabila tujuan-tujuan itu terhalang, organisma mengalami bertambahnya ketegangan, perasaan tidak senang, kesedihan, sakit, dan sebagainya, yang dapat kita namakan frustasi atau kekecewaan.” (Alisjahbana 1986, 27-28)

Dengan demikian, telah jelas bahwa dengan berdoa, rasa frustasi atau kekecewaan kita akan berkurang karena kepercayaan kita terhadap Allah. Berdoa sendiri memiliki hubungan yang erat dengan sabar. Doa yang dibarengi dengan sabar untuk berikhtiar, pasti akan tercapai tujuan yang diinginkan. Imam al-Ghazali dalam kitab Mukasyafatul Qulub menyatakan:
“Barangsiapa yang ingin selamat dari siksa Allah dan memeproleh pahala dan rahmat-Nya serta masuk ke dalam surga-Nya, hendaklah ia mencegah nafsunya dari kesenangan-kesenangan dunia dan hendaklah ia bersabar atas penderitaan dan bencananya. Allah SWT berfirman:
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali-Imran: 146)
Sabar itu ada beberapa macam.
a. Sabar untuk taat kepada Allah.
b. Sabar dari larangan-larangan Allah.
c. Sabar atas musibah pada benturan pertama.
Barangsiapa yang bersabar untuk taat kepada Allah SWT, maka Allah memeberinya tiga ratus tingkat di surga kelak di hari kiamat. Setiap tingkat seluas jarak di antara langit dan bumi. Barangsiapa yang bersabar dalam menghindari larangan-larangan Allah, maka Allah akan memberinya enam ratus tingkat kelak di hari kiamat. Setiap tingkat seluas jarak antara langit ketujuh dan bumi yang ketujuh. Dan barangsiapa yang bersabar menghadapi musibah, Allah akan memeberinya tujuh ratus tingkat di surga. Setiap tingkat seluas jarak antara Arasy dan bumi.” (al-Ghazali 2007, 17)

Adapun hikmah dalam bersabar antara lain: (Sholihin 2010, 22-26)
1. Kesabaran itu menjadi penolong

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah:153)

2. Mendatangkan keberuntungan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali ‘Imran:200)

3. Memperoleh sebaik-baik tempat di akhirat

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ
“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),” (QS Ar-Ra’d:22)

4. Dapat keuntungan terbesar dari untung besar

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS Fussilat:35)

Wallahu Al’lamu Bis Shawaab

You might also like
Comments
Loading...