Guru Zaman Dulu dan Guru Zaman Sekarang

Bab Memulai Belajar, Pengaturannya, dan Urutannya

Mushannif pernah mendengar Syaikh Al Imam Fakhruddin Al Kasyani Rahimahullah berkata: “Suatu kali budak wanita Abu Yusuf pernah dititipkan kepada Muhammad Rahimahullah, Muhammad bertanya: “Apakah engkau mengingat saat ini ucapan atau kebiasaan Abu Yusuf dalam ilmu fiqih? Ia menjawab: “Tidak, hanya saja ia sering mengulang pelajarannya dan berkata: “Bagian dari daur itu telah gugur.” Muhammad mengerti masalah ini dari budak wanita itu padahal sebelumnya masalah ini sulit dipahami oleh Muhammad.

Sudah jelas bahwa mengambil faedah bisa didapat dari siapapun, oleh karena itu Abu Yusuf ketika ditanya: “Bagaimana engkau dapat memperoleh ilmu? “Beliau menjawab: “Aku tidak pernah sungkan mengambil faedah dan aku tidak pelit memberi ilmu.”

Kita jangan menge judge orang lain tidak baik dan kita jangan merasa baik sendiri.

Diceritakan bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya: “Bagaimana engkau memperoleh ilmu” Ia menjawab: “Dengan lisan yang selalu bertanya dan hati yang selalu berpikir.” Jadi kalau kita ada permasalahan, sebaiknya kita jangan sungkan bertanya, tanyanya yang berkualitas, jangan tanya yang tidak dipikirkan, tidak untuk mengetes dan sebagainya.

Imam Abu Hanifah memahami fiqih karena beliau sering berdiskusi di tokonya sewaktu berdagang kain. Dari sini diketahui ilmu dapat diperoleh meski dalam keadaan bekerja, bahkan Imam Abu Hafs Rahimahullah beliau bekerja sambil menelaah ilmu.

Kita mengambil pelajaran dari Abu Hanifah untuk berdiskusi atau belajar dimanapun dan kapanpun, selagi kita senggang. Meskipun mereka sibuk dalam berdagang dan berbisnis, mereka masih sempat untuk berdiskusi, belajar, dan sebagainya.

Bila seorang santri terpaksa bekerja untuk menafkahi keluarganya dan orang lain, makai a boleh bekerja sambil menelaah kitab dan berdiskusi. Jangan sampai ia malas karena tidak dibenarkan orang yang bertubuh sehat dan berakal sempurna tidak belajar memahami agama, setidaknya ia tidak lebih miskin dari Abu Yusuf Rahimahullah tetapi hal ini tidak membuat beliau berhenti mempelajari agama, sedangkan bagi yang berharta, maka hartanya sebaik-baik harta yang dimiliki orang shaleh karena hartanya disalurkan untuk belajar ilmu. Bagaimanapun kondisi kita jangan menghalangi kita untuk belajar ilmu.

Seorang alim pernah ditanya: “Dengan apa engkau memperoleh ilmu?” Ia menjawab: “Aku memperolehnya karena ayahku kaya, ia menafkahkannya kepada orang-orang berilm dan orang-orang shaleh”.

Hal ini penyebab bertambah ilmu, karena tergolong mensyukuri kenikmatan akal dan ilmu, dengan demikian hartanya akan bertambah.

Abu Hanifah berkata: “Sesungguhnya aku mendapat ilmu dengan banyak memuji dan bersyukur, setiap kali aku memahami suatu ilmu atau hikmah disitu aku mengucapkan: “Alhamdulillah,” karena itulah ilmuku semakin bertambah.”

Sebaiknya bagi pencari ilmu, menyibukkan dirinya untuk bersyukur dengan lisan, sampai ke hati, karena ilmu itu lebih mahal dari segalanya, ketenangan hati.

Diskusi Interaktif bersama Kang Musa (Presnas V KMNU, periode 2019/2020)

Membangun kualitas hidup yaitu dengan pendidikan, dan aspek penting dalam pendidikan salah satunya adalah guru. Kenapa kita harus memahami ini? Karena kita adalah anak kandung pendidikan dari kecil sampai sekarang. Guru zaman dahulu selalu memancarkan aura, sangat berwibawa.

Dalam segi inovasi guru mengajar murid-murid dengan menggunakan tembang, menggunakan budaya. Kalau sekarang tidak, tetapi malah teori-teori barat, pemikiran barat, tidak mau mengembangkan lokal sendiri.

Kalau zaman dulu, mengajar hanya karena ilmu, agar murid-muridnya mendapatkan ilmu, mereka mengabdi, mereka percaya apabila mengamalkan ilmu dengan ikhlas maka akan terpenuhi sendiri rezekinya akan tapi sekarang sebaliknya kebanyakan malah untuk materi.

Dari sisi adaptasi teknologi, guru zaman sekarang, lahir besar, berkembang langsung membaur dengan teknologi, generasi milenial, tidak pusing. Sedangkan guru zaman dulu tidak seperti itu. Apabila kita ingin menjadi pengajar, terdapat beberapa aspek menurut Hasyim Asyhari

Pendidik itu harus menempuh jalan sufi (kebatinan), dia akan mempelajari norma-norma ilahi, kemudian mengamalkannya

Seorang guru tidak boleh menjadikan mengajar untuk mencari materi, menggapai kemewahan dunia

Guru itu harus sadar, bahwa dia adalah menebar uswatun hasanah, mereka tidak hanya mengajarkan, tetapi juga mencontohkan. Jadi guru harus memilki sikap uswatun hasanah, dia harus terus belajar

Dunia sudah berubah, oleh karena itu pendidikan harus mengikuti alur dunia. Yang palinh penting adalah best character, karakter dasar yang harus dikembangkan, kemudian menjadi pondasi. Guru juga harus menjadi penggerak untuk murid, masyarakat, dll. Apabila kita menjadi guru, hendaknya kita mendidik akhlaq terus menerus, kita itu layaknya matahari, dimana dari pagi kita bersinar (mengajar para murid) sampai petang, setelah itu istirahat untuk mempersiapkan di hari esok, bukan seperti lilin yang rela menyinari sekitarnya tapi akhirnya terbelenggu oleh waktu, kemudian padam.

Sumber: Kajian online kitab kuning Ta’limul Muta’allim KMNU Pusat tanggal 5 Desember 2020

Pembicara: Muh Adib R (Koor Kajian Kitab Kuning, Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5) Bersama Kang Musa S.Pd (Presnas V KMNU Periode 2019/2020)

You might also like
Comments
Loading...