EFEK PLACEBO VS KEBENARAN

Placebo ketika mendengarnya mungkin sebagian dari kita akan memiliki pemahaman yang berbeda atas definisi pastinya. Hal ini bukan tanpa sebab karena istilah Placebo ada dibanyak disiplin ilmu salah satunya Kesehatan, Ekonomi, dan Psikologi. Pertama dalam dunia kesehatan saat ini sudah banyak dikenal berbagai jenis obat dan teknik penyembuhan untuk pasien, salah satunya berkaitan dengan istilah plasebo. Plasebo selama ini sekedar dianggap sebagai pengobatan tak berdampak atau penanganan palsu tanpa kandungan obat aktif yang sesungguhnya. Istilah plasebo memang diambil dari bahasa Latin yang berarti I shall please atau “saya akan senang” guna membangkitkan harapan si pasien.

Plasebo dalam konteks ilmu kesehatan merupakan sebuah pengobatan medis yang tampak nyata dapat berupa pil, suntikan, atau beberapa jenis lain dari pengobatan yang sebenarnya bukan obat sama sekali. Plasebo tidak mengandung zat aktif dan tidak dapat mempengaruhi kesehatan, inilah mengapa plasebo disebut sebagai obat kosong. Para ilmuwan sering menggunakan plasebo selama penelitian untuk membantu mereka memahami efek obat baru dan membedakan mana efek obat yang sesungguhnya menyembuhkan, dan mana yang sebenarnya hanya sugesti belaka. Beberapa studi menunjukkan bahwa efek plasebo dapat terjadi pada kondisi seperti: Depresi, rasa sakit/nyeri, gangguan tidur, sindrom iritasi usus dan menopause.

Respon yang diberikan oleh pasien terhadap plasebo terdiri dari 2 kategori yaitu respon positif dan respon negatif. Pasien yang memiliki kemajuan pemulihan bahkan ketika pasien tersebut tahu bahwa obat yang diminumnya hanyalah plasebo, berarti ia mendapatkan respon yang positif dari adanya plasebo tersebut. Sebaliknya, ketika pasien mendapatkan efek samping dari plasebo, berarti hal tersebut menandakan respon yang negatif. Variabel penentu Respon manakah yang akan didapatkan oleh pasien baik positif maupun negatif, sangat ditentukan oleh 5 faktor utama sebagai berikut :

  1. Proses penyembuhan –> seperti yang kita ketahui tidak sedikit gangguan kesehatan yang bisa sembuh dengan sendirinya. Sehingga Apabila jika ditanya apakah ada pengaruh efek plasebo terhadap kecepatan proses penyembuhan, Maka jawabanya tidak ada karena secara alamiah tubuh akan berusaha memulihkan dirinya sendiri. Untuk kasus ini Para peneliti memperkirakan bahwa efek atau proses penyembuhan tersebut bukan secara keseluruhan dipengaruhi oleh placebo sebagai variabel tunggal.
  2. Motivasi untuk sembuh –> Walaupun tidak mengandung bahan aktif, faktanya banyak orang yang percaya bahwa plasebo memiliki efek yang mirip dengan obat “sebenarnya”. Hal ini membuat orang-orang yang mengonsumsi plasebo menjadi termovitasi untuk bisa segera sembuh dan terbebas dari obat, sehingga mengubah gaya hidup menjadi lebih baik.
  3. Jumlah Pelepasan hormon –> Plasebo dapat memicu pelepasan hormon yang bertugas sebagai penghilang rasa sakit alami.
  4. Perubahan kondisi otak –> Studi mengatakan bahwa sebuah plasebo dapat membantu otak dalam mengingat waktu sebelum timbulnya gejala, yang mana hal ini turut mendorong tubuh mengalami perubahan untuk menjadi lebih baik.
  5. Tingkat kecemasan –> Minum obat kosong dan berharap untuk merasa lebih baik dapat menenangkan sistem saraf otonom dan mengurangi tingkat kimia stres, seperti adrenalin.

Menariknya para peneliti telah menemukan efek mencengangkan bahwa plasebo dapat mengurangi rasa sakit. Penemuan ini terdapat dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pain oleh Harvard Medical School (2016) yang mengemukakan bahwa efek plasebo belum tentu ditimbulkan oleh ekspektasi sadar dari pasien. Berdasarkan penelitian yang dilakukan menemukan hasil bahwa sekelompok pasien yang mendapat penanganan tambahan yaitu dengan meminum dua dosis pil plasebo setiap hari, menunjukan 30 persen penurunan rasa nyeri di kategori nyeri normal dan nyeri maksimal. Sedangkan kelompok pasien yang menjalani perawatan biasa tanpa plasebo melaporkan penurunan hanya 9 persen sakit normal dan pengurangan 16 persen sakit maksimum.

Placebo dalam pandangan ilmu psikologi jelas erat kaitanya dengan “sugesti” dan “motivasi”. Ilmu Psikologi percaya dimana sugesti dan motivasi memiliki peran besar dalam kehidupan manusia terutama dalam hal membangkitkan semangat hidup atau motif dalam melakukan sesuatu. Hal ini akan berpengaruh terhadap hormon yang dihasilkan tubuh sehingga tidak jauh berbeda dengan ilmu kesehatan, psikologi percaya bahwa placebo juga memiliki pengaruh dalam kesembuhan seorang pasien, karena semangatnya untuk hidup dan rasa yakinya akan sembuh menjadikan tubuhnya lebih kuat.

Dalam Bidang Ekonomi pemasaran Placebo disebabkan oleh persepsi suatu konsumen pada suatu produk yang didasarkan pada harga produk itu sendiri, sehingga memengaruhi efektivitas dari pada suatu produk. Hal ini juga diperkuat oleh keyakinan konsumen bahwa kualitas barang ditentukan oleh harga suatu barang, Sehingga mereka yakin dan merasa optimis jika membeli barang dengan harga tinggi maka otomatis langsung mendapatkan efektivitas yang tinggi[1]. Memang dalam ilmu ekonomi ada hubungan antara harga dengan kualitas, hal ini yang kemudian dilihat oleh produsen sehingga menciptakan berbagai produk dengan harga tinggi untuk memberikan rasa “kepuasaan” dari efek placebo ini. Sebagian dari mereka malah menciptakan brand ekslusif dengan harga tinggi demi memberikan kepuasaan batin para konsumenya yang mungkin kita kenal dengan perilaku konsumen hedonis[2].

Persaingan bisnis yang ketat menyebabkan beberapa oknum memanfaatkan efek placebo ini untuk kepentingan marketting yang tidak ditunjang dengan manfaat atau kebenaran yang sebenarnya. Contoh kasus jika ada perusahaan yang menjual produk kesehatan berupa cakra (sebuah piringan kaca) ia mengklaim bahwa produk itu berkhasiat tinggi dan memiliki manfaat secara kesehatan yaitu mampu meningkatkan kekuatan dan daya tahan padahal nyatanya klaimnya tidak terbukti[3]. Dalam kasus lain produk berbentuk obat mungkin benar ada khasiatnya hanya saja sang penjual melakukan “overclaim” demi kepentingan penjualan[4]. Untuk mencegah permainan oknum nakal dan menciptakan iklim bisnis dalam dunia kesehatan yang sehat maka diciptakanlah regulasi yang dikeluarkan oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Sehingga jika sebuah perusahaan atau penjual ingin mendapatkan izin BPOM ia harus mengurusnya dan dilakukan pengujian atas produknya untuk menghindari ilusi efek placebo ini. Pada akhirnya produk medis harus memiliki izin BPOM jika ia ingin mengklaim bahwa produknya benar-benar teruji memiliki khasiat tanpa harus melakukan placebo terhadap pasien. Sebab jika kita mengikuti kaidah ilmiah maka definisi obat adalah suatu zat atau benda yang memang secara teruji klinis mampu memberikan efek “menyembuhkan” tanpa harus di iming-imingi sugesti atau motivasi.

Negara sudah berusaha yang terbaik dalam mencegah hal ini terjadi yaitu menuangkan dalam undang-undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan ditegaskan pada pasal 40 ayat 2 UU Nomor 23 tahun 1992 bahwa sediaan farmasi yang berupa obat tradisional dan kosmetika serta alat kesehatan harus memenuhi standar dan atau atas persyaratan yang ditentukan[5]. Hal ini sejalan dengan isi dari deklarasi hak-hak asasi manusia yang tertuang dalam piagam PBB pada tanggal 10 Desember 1948 dan merupakan hak yang telah diakui secara internasional[6].

“Dibalik balik, ditelungkup ditelentang” sebuah pepatah klasik masih relevan implementasinya. Artinya kita harus selalu mempertimbangkan sebuah tindakan yang kita ambil termasuk dalam pola mengonsumsi suatu barang dan jasa. Jangan mudah terbuai oleh sugesti dan motivasi dari seorang penjual tanpa ada bukti yang kuat, ilmiah dan konkrit. Jadilah konsumen yang cerdas dan jangan sampai menjadi korban oknum yang tidak bertanggung jawab. Sebagai mahasiswa kita juga harusnya dituntut untuk lebih kritis dalam memilah suatu produk atau jasa yang ingin kita beli terutama yang berkaitan dengan hal medis maupun hal hal yang membutuhkan pembuktian ilmiah. Jika kita mampu membiasakan perilaku ini jumlah korban penyalahgunaan efek placebo ini bisa berkurang. Apabila kita ingin beramal lebih kita juga bisa mengawasi di sekitar kita apakah ada oknum yang melakukan penyalah gunaan efek placebo dalam konteks ekonomi dan melakukan edukasi ke orang terdekat karena sebaik-baiknya ilmu adalah yang bermanfaat.

Berikut 4 tips menghindari efek placebo negatif dalam memilih suatu barang atau jasa.

  1. Cek apakah barang dan jasa tersebut benar-benar secara ilmiah teruji bisa melihat nomor BPOM ataupun standard dari instansi yang berkaitan.
  2. Cek perizinan barang dan jasa tersebut apakah mereka legal dan memiliki izin yang masih berlaku. Cari tahu juga apakah reputasi pedagang atau perusahaan sedang dilanda kasus atau masalah.
  3. Jangan langsung mengiyakan atau sepakat untuk bertransaksi cobalah untuk survei dan riset terlebih dahulu dengan membandingkan dari berbagai sumber baik dari penjual lain maupun dengan produk barang/jasa lainya. 4. Jika ada waktu lebih coba cari tahu lebih dalam mengenai faktor pembentuk harga dari barang dan jasa yang diberikan. Jika harganya overprice maka disarankan untuk tidak sepakat sebab bisa jadi mereka melakukan strategi placebo padamu dengan menciptakan ilusi bahwa barang mahal = pasti bagus. Maka dari itu harus dilihat juga apakah harga tersebut benar-benar wajar.

Sumber :

[1] Kim, D., & Shawn, S. (2013). Price Placebo Effect in Hedonic Consumption. International Journal of Hospitality Management, 35, 306–315. https://doi.org/10.1016/j.ijhm.2013.07.004

[2] Kim, S. A., & Kim, J. (2014). The influence of hedonic versus utilitarian consumption situations on the compromise effect. https://doi.org/10.1007/s11002-014-9331-0

[3] https://kumparan.com/kumparanbisnis/mengenal-qnet-perusahaan-mlm-yang-disebut-tipu-tipu-1rsFB1pVCeE

[4] https://kumparan.com/rais-reskiawan-1589798789905860397/kalung-antivirus-corona-yang-overclaim-1tkROiDpb05

[5] http://eprints.ums.ac.id/4160/2/C100030035.pdf

[6] https://aseanconsumer.org/file/pdf_file/04%20Law-No.-8-Concerning-Consumer-Protection.pdf

Disusun oleh: Tim Redaksi Buletin Mahabbah (KMNU) Edisi 5

Comments
Loading...