KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

DARI TANGAN TUHAN KE TANGAN BAPAK

Oleh: Rahmad Nursyahidin
(KMNU UIN SUKA)

 Ada yang bilang jodoh itu di tangan Tuhan. Bukan berarti sepenuhnya berada di tangan Tuhan, setidaknya Tuhan memberikan batasan antara kehendak dan keinginan. Mulanya aku beranggapan bahwa jodoh merupakan titik temu antara kehendak Tuhan dan keinginan manusia. Dalam benak timbul semacam keyakinan, Tuhan mengatur segala sesuatu yang ada dalam kehidupan, termasuk masalah perjodohan. Keyakinan ini membawaku pada konsekuensi bahwa ketika manusia lahir Tuhan sudah menetapkan jodoh bagi manusia, sehingga Tuhan memberikan misi kepada manusia untuk menemukan dimana jodohnya berada. Seperti alam yang memiliki pasangan, siang-malam, hitam-putih, atas-bawah, darat-laut, gelap-terang dan sisanya bisa kau sebutkan sendiri. Tidak harus sama. Karena jodoh bukan tentang menyatukan dua hati yang sama melainkan menyatukan dua hati yang terbelah menjadi dua, sehingga keduanya saling melengkapi kekurangannya.

Sampai pada satu malam, selepas shalat Isya, Bapak memanggilku “Nok, kemari! Bapak pengen ngomong”.

Segera aku temui Bapak yang duduk termangu di beranda, masih lengkap dengan peci, sarung, baju koko, dan sorban yang menggantung di leher. “Ada apa, pak?”.

Bapak menatap tajam, matanya berkilat sedikit lebih tajam dari pisau yang di pakai Emak memasak di dapur. Aku menunduk.

Dengan nada sedikit berat bapak berkata, “Tadi siang ada orang yang datang kerumah melamarmu” Aku terdiam, sampai pada satu kesempatan aku beranikan diri bertanya “Siapa pak?”.

Bapak hanya tersenyum menatapku, sebelum akhirnya melangkah masuk menuju kamarnya.

Ketika itu aku temui wajahku mendung seperti awan yang menghitam, menunggu angin menjatuhkannya menjadi serbuk hujan. Aku ingin menolak. Tapi wajah ibu, bapak dan kakakku menguatkan bahwa semuanya sudah di gariskan. Aku terpaku di depan sebuah meja, pikiranku mengembara entah kemana. “Laki-laki macam apa yang datang kepada bapak melamarku?”  Bahkan aku  tidak tahuu wajah dan rupanya seperti apa, karena Bapak tidak pernah bercerita siapa orangnya.

Aku merasa terapung terseret arus kehidupan, semacam ketakutan yang mengeram dalam jantung terpompa melalui pundi-pundi udara yang masuk melalui lubang hidung, tiap kali aku mendengar kata perjodohan. Tidak ada keberanian menolak apa yang dikatakan Bapak, karena Bapak juga tidak mau keinginannya ditolak.

Sejak itu aku berusaha membunuh keinginan untuk suka dengan laki-laki apalagi sampai berpacaran layaknya muda-mudi pada umumnya, bila pada akhirnya aku juga akan dijodohkan dengan laki-laki pilihan Bapak. Maklum aku berpikir demikian, karena banyak saudara dari Bapak dan Ibu ataupun saudara-saudaraku yang di jodohkan orang tuanya. Seperti peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Aku bayangkan hidupku kedepannya tidak jauh dari Bapak, Ibu dan saudara-saudaraku.

Bapak dulunya adalah seorang putra kyai yang kini menggantikan kakek mengasuh pondok pesantren dan ibu juga putri seorang kyai yang memiliki pondok pesantren. Mereka bertemu lantaran dijodokan kakek. Sempat aku berpikir bahwa anak kyai seperti aku tidak memiliki pilihan hidup, karena anaknya dituntut untuk menggantikan orang tua mengurus pondok pesantren. Biasanya yang mendapat tuntutan lebih untuk menggantikan adalah anak laki-laki yang dalam hal ini banyak di bebankan pada kakakku. Meski sebenarnya sama saja, anak perempuan tetap mendapat tuntutan untuk menggantikan. Tapi tuntutan itu tidak terlalu dibebankan, karena perempuan hanya menjadi makmum bagi suaminya. Itulah yang sering diajarkan Bapak.

Tak jarang aku menganggap diriku seperti bunga yang ditanam pemiliknya dari benih kehidupan, merekah merah diantara hijau dedaunan, menunggu dipetik yang menginginkan, dengan catatan mendapat izin dari pemiliknya. Semua tak ubahnya dengan orang tua yang merawat anaknya, ketika dewasa ada seorang yang menginginkan datang ke rumah meminta izin memetik bunganya. Mungkin banyak orang menganggap aneh bahkan tidak percaya bahwa di zaman modern seperti sekarang ini masih ada perjodohan. Bukan sandiwara, apalagi mimpi. Tapi inilah yang aku alami. Aku terpejam melihat semua itu, sampai aku membuka mata dan sadar diriku masih termenggu di depan meja. Segera aku masuk ke kamar mengambil kitab dan lekas ke masjid mengikuti pengajian kitab seperti biasanya.

***

Malam itu, seperti biasa aku mangikuti pengajian Bapak. Perlahan Bapak membuka kitab, membelah lembar demi lembar hingga pada akhirnya Bapak membacakan bab munakahat (penikahan). Kajian malam ini bertepatan dengan lamaran yang dikatakan bapak selepas shalat Isya tadi. Atau Bapak memang sengaja menyindir anaknya? Belakangan aku tahu bahwa kajian munakahat yang ada di pesantren merupakan bagian dari materi yang disiapkan kyai untuk anak didiknya menghadapi pernikahan. Kajian munakahat dipesantren yang diajarkan meliputi persiapan psikologis, Fiqh dan biologis. Khusus mengenai persiapan biologis antara putra dan putri santri dipisah oleh satir (pembatas) yang menjadi dinding pembatas untuk menghindari rasa canggung ketika bertanya. Rupanya kajian munakahat membuat anak-anak pesantren heboh. Para santri banyak yang membicarakan pengajian Bapak karena dianggap menarik dan asyik. Pembicaraan itu selalu di ulang-ulang di kamar, kantin bahkan saat antri mandi. Mereka bercerita dengan riang dan gelak tawa.

Seiring berjalannya waktu diam-diam aku suka membayangkan menjadi perempuan pada umumnya; merasakan cinta yang timbul dari dalam jiwa tanpa paksaan dan doktrin dari yang lainnya. Bayangan itu aku dapat dari film dan novel yang mengisahkan roman percintaan kawula muda yang dikisahkan begitu menariknya. Pikiranku berkeliaran diantara sketsa-sketsa gambar, garis dan warna yang bergerak didinding layar. Di dalamnya aku menemui imajinasi yang menertawakanku ketika aku berhasil menemui seorang laki-laki yang tergambar dalam imaji. Saat itu batinku terkoyak ketika dalam kenyataannya aku harus hidup dalam aturan, yang bisa aku lakukan hanya membayangkan bagaimana bayangan itu menjadi kenyataan.

Mungkin aku terlalu takut pada realitas dan mungkin itu yang umumnya banyak ditakuti orang-orang, untuk itu bayangkan saja jika kalian menjadi aku? Sampai pada suatu titik dimana seorang laki-laki dalam kehidupan nyata datang mengajakku pergi jalan-jalan menlintasi batas kota. Mulanya aku merasa malu berjalan dengan seorang laki-laki. Maklum karena aku lama di pesantren. Bahkan sebelumnya aku tidak berkomunikasi dengan seorang laki-laki, apalagi harus jalan berdua. Makin hari, makin sering laki-laki itu datang mengajakku pergi dengan berbagai alasan. Hingga akhirnya ajakan itu kuiyakan, kupikir bisa menjadi semacam ritual yang mengusir kesumpekan.

Terus terang ketika bersamnya aku merasa betah berlama-lamaan. Aku pandangi sepasang mata beningnya. Diam-diam membuatku merasa nyaman. Pandangan itu begitu dalam, lebih dalam dari ribuan kata yang diucapkan. Sampai pada satu saat laki-laki itu berkata padaku. “Da, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu” katanya lirih.

“Ya udah ngomong aja”

“Sebenarnya aku … Ah, ngga enak ngomongnya” ucapannya sedikit tertahan.

“Loh kenapa? Ngomong aja. Santai” Aku lepaskan senyum ke arahnya.

“Aku … Aku suka sama kamu” Nadanya terdengar sedikit ragu.

“Nggak denger! Ngomong apa kamu tadi?”

“Aku suka kamu!”

“Hahaha…. yang bener aja kamu Lan!” jawabku.

Barangkali tawa itu adalah kesedihan yang aku tutupi. Bukannya aku tidak suka dengan pacaran, hanya saja pacaran menjatuhkanku dalam lubang galian. Aku berpikir bahwa buat apa susah-susah pacaran kalau ujung-ujungnya dijodohkan. Iya kalau bisa langsung move on, kalo gagal move on? Malah tambah beban.

Dua pasang mata saling pandang, diam, seakan mencarari kepastian. “Kok ketawa? Beneran ini Da!?” laki-laki itu terlihat ragu bergulung debu. “Lah, apa yang kamu suka dari aku?” Aku balik bertanya.

“Kamu itu anggun, baik dan cantik”

Ah dasar lelaki selalu punya cara untuk merayu” pikirku. “Ngomong sih kamu?” Diraihnya tanganku dengan asap putih mengepul keluar dari mulut dan hidung, seakan mengekpresikan kekesalannya. Kemudian aku tegaskan bahwa aku tidak mau berpacaran, “Lebih baik kita berteman dari pada pacaran!”.

Aku ingat betul malam itu wajahnya terlihat terlipat kecut, kemudian aku katakan padanya kemungkinan-kemungkinan apa saja yang akan terjadi dengaanku kedepannya. Barang kali ia mempinyai firasat buruk tentang aku, mungkin juga ia menuduhku berdusta. Tapi biarlah. Toh aku sudah bekata jujur padanya. Malam yang syahdu berubah jadi abu. Percakapan kami berubah menjadi tatapan bisu. Matanya tampak layu. Suara jangkrik menderu merdu seperti alunan lagu yang dinyanyikan seorang empu yang mengikis kalbu. Saat itu aku putuskan untuk mengajaknya pulang. “Lan, pulang yuk! Udah malam!”.

Dia mengangguk ragu. Ia berdiri. Kedua matanya menatapku sembari berkata “Ayo, udah malam juga”. Malam terlihat tenggelam dalam. Sepasang sayap mengepak pelan. Aku rasakan hembusan angin mengusap kepenatan.

Aku ingin tegaskan bahwa perempuan bukanlah mahluk yang sulit untuk dipahami. Hanya saja, laki-laki terlalu angkuh dengan harapan yang terlampau tinggi. Mungkin ini pelajaran dapat menjadi pelajaran bagi seseorang mempunyai harapan yang terlampau tinggi. Semakin tinggi pula kekecewaan yang ia temui. Sejak aku bertemu Alan, laki-laki yang mengajakku pergi di malam hari kala itu, aku belajar cara berinteraksi dengan seorang laki-laki. Mulai dari berbicara, tegur sapa bahkan melempar senyum menjadi bahasa kalbu. Tidak berhenti disitu, ada laki-laki lain yang mendekatiku dengan cara baru. Tapi aku selalu tegaskan bahwa kemungkinan kedepan aku akan di jodohkan bapakku.

Aku sendiri berharap keajaiban menyertaiku, bersama do’a bahwa jodoh yang datangnya dari tangan Tuhan tidak berhenti di tangan Bapak. Ada harapan dari tangan Bapak turun ke tangan putrinya.

Comments
Loading...