KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

CLIMATE CHANGE; TANDA MENUJU AKHIR ZAMAN

Oleh: Mauludiyyatus Syarifah

(Departemen Nasional 2/KMNU IPB)

Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda-tanda kiamat adalah jika seorang anak menjadi pemarah, hujan menjadi panas, dan banyak orang jahat.” (HR Thabrani)

-maksudnya anak menjadi durhaka kepada kedua orang tuanya dan berani terhadap mereka. Hujan banyak turun, tetapi tanaman tidak mau tumbuh. Hal ini disebabkan hujan turun tidak pada musimnya (Ash-Syufiy, 2007)

Tanda-tanda kiamat sudah banyak muncul. Tidak sedikit dari kita mulai menyadari namun tidak terlalu memedulikan hal tersebut. Hadits diatas, memberikan cuplikan tanda-tanda kiamat, salah satunya mengenai kondisi lingkungan. Ditilik dari sudut pandang meteorologi, hujan hingga banjir di musim kemarau tidak lagi menjadi hal yang aneh. Perubahan iklim telah berkontribusi terhadap pergeseran musim dan/atau kejadian cuaca ekstrim.

-Iklim-

Keadaan udara rata-rata di suatu wilayah yang luas dalam jangka waktu yang panjang

-Perubahan Iklim-

Berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan manusia (Kementrian Lingkungan Hidup)

Perubahan iklim merupakan topik yang hangat diperbincangkan beberapa waktu terakhir. Dampak dari perubahan iklim antara lain meningkatnya suhu di permukaan bumi, cuaca ekstrim, meningkatnya tinggi muka air laut, pencairan es di kutub, pergeseran musim, dan masih banyak lagi. Mengingat dampaknya yang dapat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, baik langsung maupun tidak, perubahan iklim sangat mengancam keberadaan makhluk hidup. Langkah pasti yang telah ditempuh untuk menekan laju perubahan iklim di ranah Internasional yaitu Paris Agreement, tahun 2015 silam.

Lima poin utama dalam kesepakatan tersebut yaitu mengurangi emisi karbon dengan cepat untuk menjaga ambang batas kenaikan suhu bumi di bawah 2oC dan berupaya menekan hingga 1.5oC, sistem penghitungan karbon dan pengurangan emisi harus dilakukan secara transparan, upaya adaptasi memperkuat kemampuan negara-negara di dunia untuk mengatasi dampak perubahan iklim, memperkuat upaya pemulihan akibat perubahan iklim dari kerusakan, serta membantu, termasuk pendanaan, bagi negara-negara untuk membangun ekonomi hijau dan berkelanjutan.

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan banyaknya hutan hujan tropis tentu berperan besar dalam kontribusi upaya penekanan emisi. Namun juga beresiko besar untuk kehilangan pulau-pulau kecilnya. Bukti nyata dampak perubahan iklim di Indonesia yaitu terjadi peningkatan suhu di kota-kota besar dan pengurangan volume salju abadi di pegunungan Jaya Wijaya dari tahun ke tahun. Hal tersebut banyak dipengaruhi oleh peningkatan suhu yang menyebabkan mencairnya es di pegunungan, juga di kutub yang menyebabkan kenaikan muka air laut. Maka dari itu, fokus langkah utama yang dilakukan adalah dengan menekan laju kenaikan suhu.

Peningkatan suhu udara secara global besar dipengaruhi oleh konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer. Salah satu GRK yang sangat dipantau konsentrasinya yaitu CO2. BMKG menekankan untuk mengontrol konsentrasi CO2 agar tidak mencapai angka 450 ppm sedangkan pada awal tahun ini rata-rata global sudah menginjak angka 405 ppm. Hasil pengukuran CO2 di Indonesia per Januari 2018 menunjukkan angka hampir 400 ppm, mengingat tren peningkatan mencapai hampir 2.5 ppm per tahun, maka angka 450 ppm sudah sangat dekat.

Pola perubahan suhu ini juga besar mempengaruhi pola musim. Selain terjadi pergeseran musim, frekuensi kejadian cuaca ekstrim juga semakin meningkat. Dalam waktu dekat ini sudah sering kita dengan berita banjir datang dari kota-kota besar di Indonesia.

“Indonesia kini menjadi ladang yang empuk bagi terjadinya bencana hidrometeorologi. Panen bencana tidak pernah surut di kawasan barat Indonesia, terutama pada periode DJF (Desember-Januari-Februari)”, ungkap Prof. Dr. Ir. H. Eddy Hermawan, M.Sc, Peneliti Senior PSTA LAPAN Bandung.

Beliau juga menyatakan bahwa banjir yang terjadi periode November 2017 hingga 20 Maret 2018 ini merupakan dampak dari dua siklon tropis yang terbentuk belakangan, Cempaka dan Dahlia. Dua siklon tropis ini berhasil mengalahkan gaya coriolis yang seharusnya tidak menyentuh ekuatorial hingga mampu menyentuh bibir pantai Pacitan dan sekitarnya sehingga menjadi salah satu bukti perubahan iklim, cuaca ekstrim.

Kekuatan siklon menarik massa udara di Samudera Hindia dan menghantam kawasan-kawasan bertekanan rendah. Indonesia, sebagai negara ekuatorial, menjadi pusat tekanan rendah karena matahari berada di ekuator pada 21 Maret. Sebagai penduduk Indonesia, kita diharapkan bisa memahami mekanisme untuk berjaga, jika DJF yang dihantam monsunal, selanjutnya JJA diduga kawasan anti-monsunal (ambon dan sekitarnya). Perlu diingat bahwa sumber kekuatan adalah matahari, sehingga jika sunspot berubah maka akan terjadi perubahan. Jika terjadi pendinginan di stratosfer maka daratan menjadi lebih panas. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian.

Banyaknya bukti kejadian perubahan iklim ini merupakan salah satu gambar nyata kondisi bumi saat ini. Hal tersebut terjadi tidak lain akibat dari perbuatan manusia di muka bumi.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah erasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yan benar).” QS Ar-Ruum: 41.

Perubahan iklim memang bukan peristiwa yang langsung terjadi saat manusia membuang emisi ke atmosfer namun merupakan dampak akumulasi dari aktivitas manusia mencemari atmosfer. Jika saat ini saja perubahan itu telah banyak berdampak buruk, maka beberapa tahun kemudian mungkin dapat lebih buruk dibanding sekarang jika kita tidak peduli untuk mengubah kebiasaan. Hal sederhana yang dapat dimulai yaitu dengan mengurangi menggunakan kendaraan jika jarak tempuh pendek, menggunakan transportasi umum untuk bepergian jauh, menanam dan memelihara pohon, melakukan 3R pada sampah non degradable, dan sebagainya. Lebih baik memperbaiki atau menunggu segalanya rusak? Wallahu ‘alam bishawab.

Pustaka Rujukan:

Ash-Syufiy, Mahir Ahmad. 2007. Tanda-Tanda Kiamat: Tanda-Tanda Kecil dan Menengah. Terjemahan oleh Badruddin, Masturi, Ah.Athaillah, Arya, Ferdian, Ch. Al-Qois, Ahmady. Solo(ID): Tiga Serangkai.

BMKG. 2018. Informasi Gas Rumah Kaca. Tersedia di: http://www.bmkg.go.id/kualitas-udara/informasi-gas-rumah-kaca.bmkg [diakses pada 28 Maret 2018].

Hermawan, Eddy. 2018. Siklon Tropis vs Perubahan Iklim. Sarasehan Nasional Perubahan Iklim. Bogor, Indonesia.

Comments
Loading...