Bulan Syawal di Tengah Pandemi

Pada bulan Syawal, ada beberapa momen di dalam masyarakat kita yang disebut lebaran, mudik, baju baru, makanan banyak.

Menurut masyarakat Indonesia, Idul Fitri disebut “bakdo” atau selesai, yang biasanya di masyarakat luas disebut lebaran. Ada juga yang memaknai bakdo atau selesai, karena di hari Idul Fitri masyarakat sudah selesai menjalankan kewajiban puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Di sisi lain menurut seorang budayawan Anis Sholeh Ba’asyin, beliau berpendapat bahwa kita kembali ke pola sehari hari, sudah tuntas melakukan puasa, melakukan perombakan-perombakan nilai menuju ke arah yang lebih baik.

Di sisi lain, Idul Fitri juga bisa diartikan sebagai hari kemenangan umat Islam setelah berpuasa selama satu bulan. Lebaran itu berbeda dengan Idul Fitri, lebaran siapa saja boleh menikmatinya sementara suasana Idul Fitri bagi orang-orang yang puasanya berdasarkan iman dan takwa. Kalau menurut Prof Quraish Shihab, Hari raya idul Fitri adalah hari raya makan, karena yang bisa makan maupun yang tidak bisa makan sama-sama dapat menikmati makan karena yang tidak bisa makan dapat dari zakat fitrah.

Dalam masyarakat ada sebuah tradisi yang dilakukan menjelang lebaran yang biasanya masyarakat lakukan, tak lain adalah belanja. Mempersiapkan keperluan di lebaran seolah menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Tak lengkap rasanya lebaran tanpa baju baru, istilah itulah yang telah melekat pada masyarakat dari tahun ke tahun. Dan hal tersebut diartikan bahwa pakaian yang bersih adalah pakaian yang baru, orang harus memakai baju baru, sandal baru dan segala sesuatu yang baru. Hal itu merupakan sesuatu yang wajar, karena banyak masyarakat kita yang mungkin ada yang cuma bisa membeli pakaian sekali selama setahun dan mereka melakukannya saat hari raya Idul Fitri. Karena kebanyakan masyarakat berpikir bahwa ikon Idul Fitri adalah baju baru. Itulah sebabnya setiap hari raya Idul Fitri, mall dan pasar tempat jualan pakaian selalu ramai akan pengunjung karena belum tentu mereka bisa membeli baju baru di bulan-bulan lain. Oleh karena itu, kita juga harus memahami adat dan kebiasaan tersebut.

اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

“Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum”.

Oleh karena itu, kita harus memaklumi kondisi realita kehidupan masyarakat yang ada di sekitar kita karena perekonomian yang ada di masyarakat berbeda-beda. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk husnudzon terhadap orang.

Selain itu, di masyarakat Jawa ada sebuah tradisi yaitu anjangsana kepada sanak keluarga atau disebut halal bihalal karena termasuk media silaturrahmi dengan sanak keluarga dan masyarakat luas. Menurut salah satu artikel yang berjudul “Halal bi Halal Digagas KH Wahab Chasbullah di Tengah Ketegangan Politik” dari media NU online disebutkan bahwa halal bihalal digagas oleh KH. Wahab Hasbullah saat pemerintahan Soekarno. Tujuannya adalah untuk menyatukan seluruh komponen bangsa agar terhindar dari konfik politik yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa dan di sisi lain untuk membangun hubungan kuat persaudaraan antara umat muslim sehingga kesalahan kesalahan yang sudah lewat maka akan menjadi di-nol-kan karena sudah meminta maaf pada saat halal bihalal. Dari situlah dan karena tujuan tersebut lah tradisi halal bihalal dilakukan. Kenapa harus ada halal bihalal? Karena Rosul Muhammad SAW bersabda:

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apa pun, maka hari ini ia wajib meminta agar perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari saat tidak ada ada dinar dan dirham, karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari).

Kita dapat melakukan halal bihalaI di tengah pandemi Covid 19 seperti ini karena makna esensial halal bihalal adalah meminta maaf dan meminta ke-ridho-an seseorang atas kesalahan yang telah kita perbuat. Oleh karena itu, kita bisa meminta maaf dan meminta kerelaan hati seseorang yang pernah kita sakiti dengan cara meminta maaf lewat media sosial seperti zoom, WhatsApp, Facebook atau SMS sehingga walaupun terjadi pandemi seperti ini, halal bihalal masih tetap dapat dilaksanakan. Dengan cara tersebutlah hubungan kita dengan masyarakat atau dengan sanak famili kita masih tetap bisa terjaga.

Selain itu, di setiap kita halal bihalal atau anjangsana ke rumah seseorang, mesti ada suguhan atau makanan karena dalam Islam kita diminta untuk memuliakan tamu.

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ. إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ . فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan”. (QS. ad-Dzariyat: 24 – 27).

Dari Abu Hurairah RA. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa ingin dilapangkan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menghubungkan tali kekerabatan (silaturrahim).” ( Hadist Riwayat Bukhari). Dari dalil Qur’an dan hadist tersebut, maka anjangsana/halal bihalal/ bertamu ke rumah seseorang untuk meminta maaf adalah tidak bertentangan terhadap syariat umat Islam. Dan memuliakan tamu adalah sebuah keharusan yang dilakukan oleh setiap muslim karena hal tersebut telah dicontoh kan oleh nabi Ibrahim di dalam Al Qur’an. Wallahu A’lam.

Kita juga bisa melakukan hal tersebut walaupun di tengah pandemi seperti ini, yaitu dengan cara mengirimkan makanan atau jajan kepada sanak famili kita atau kepada guru-guru kita yang telah mengajarkan kita tentang ilmu. Mau ditransfer ke rumah saya juga tidak apa-apa. Hehehehe

Semoga kita tergolong umat yang senantiasa meminta maaf dan bertaubat. Aamiin……

Referensi: Bulughul Marom, Website NU online tentang Sejarah halal bihalal

Disusun oleh: Ahya Averosy Fiqa (KMNU UNISSULA)

Comments
Loading...