KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Biografi Ulama; KH. Asyari Bakom

KH. Asyari Bakom adalah salah seorang kiai kharismatik yang sangat besar pengaruhnya di kalangan masyarakat. Ribuan murid telah dilahirkan oleh ketulusan dan keikhlasan beliau dalam mendidik dan membimbing mereka hingga mengabdi di masyarakat sebagaimana yang dilakukan oleh KH. Asyari selama hidupnya. Kiai penganut Tarekat Qodiriyah wa An Naqsyabandiyah yang berasal dari Banten ini telah memulai syiar Islam di Bogor sejak lama, terutama sejak kedatangannya di Bogor, tempat ia berkiprah hingga akhir hayatnya. Hidupnya disumbangsihkan untuk membimbing, mendidik, dan membina umat melalui berbagai kegiatan keagamaan khususnya melalui tabligh, pesantren, dan majelis-majelis ilmu.

KH. Asyari lebih dikenal dengan sebutan Mama Baqom. Tidak diketahui secara pasti kapan KH. Asyari dilahirkan. Namun berdasarkan keterangan dari salah seorang keturunannya yaitu KH. Tubagus Kholidi, diperoleh keterangan bahwa KH. Asyari hidup satu kurun dengan KH. Bakri Plered dan KH. Asnawi Caringin Banten yang berdasarkan catatan sejarah beliau dilahirkan pada tahun 1850-an. Kedua kiai terkemuka tersebut mengalami masa kebersamaan dengan KH. Asyari pada saat belajar menuntut ilmu di Mekkah kepada Syekh Nawawi al-Bantany.

Secara garis keturunan, silsilah KH. Asyari secara berurutan terdiri dari  KH. Asyari bin KH. Khalif bin KH. Mas Sajidin bin KH. Mas Majid bin KH. Mas Sya’ban bin KH. Mukhsin bin KH. Mas Jami bin Nyai Mas Basmi bin KH. Mas Singa bin KH. Mas Qodir bin KH. Mas Asma bin Nyai Mas Gandagan bin KH. Kadu Hejo Waliputih Kartapura. Berdasarkan riwayat yang dibacakan salah seorang keturunan lainnya yaitu KH. Oha atau lebih dikenal dengan sebutan Mama Oha  pada pembacaan manaqib KH. Ayari di acara Haul KH. Asyari disebutkan bahwa KH. Kadu Hejo adalah putra Raden Ahmad Baladir bin Ahmad Jalaluddin bin Raden Paku Ainul Yaqin atau dikenal dengan Sunan Giri.

KH. Asyari merupakan keturunan kiai dan bangsawan baik dari pihak ayah maupun pihak ibu. Namun demikian hal tersebut tidak membuat KH. Asyari berbangga hati dan bersikap takabur. Sikap-sikap inilah yang diwariskan KH. Asyari kepada keturunannya sebagaimana dituturkan oleh seorang keturunannya yaitu KH. Tubagus Kholidi yang kini memimpin Pesantren Ar-Rohmah serta sering memberikan ceramah di berbagai masjid dan majelis ta’lim di Bogor dan sekitarnya. Garis keturunan dan kiprah para leluhurnya yang konsisten dalam melaksankan ajaran Islam dan melaksakan kiprahnya di masyarakat inilah yang selalu mengisnpirasi KH. Asyari dalam kesehariannya, terutama dalam melaksanakan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.

Mengenai latar belakang pendidikan, KH. Asyari sejak kecil mendapatkan pendidikan dan bimbingan keislaman dari ayahnya. Selanjutnya ia diberangkatkan ke Surabaya oleh ayahnya untuk belajar disana. Mereka berdua menempuh perjalanan bersama dengan berjalan kaki dan dengan perbekalan yang seadanya. Setibanya di pesantren, KH. Asyari kemudian dititipkan oleh KH. Khalif kepada pimpinan pesantren disana tanpa memberi bekal untuk karena keterbatasan yang dimiliki oleh ayahnya. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat KH. Asyari untuk belajar. Kondisi ini mendorong KH. Asyari untuk memikirkan sendiri biaya hidup selama berada di pesantren antara lain, ia menulis Al-Quran lalu menjualnya dan dibayar mahal dengan harga satu  pasang kerbau.

Dari keahliannya itulah KH. Asyari selama di Surabaya kemudian memiliki banyak kerbau dan dari rezeki itulah ia memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji bersama gurunya dan kesempatan di Mekkah ia pergunakan untuk menuntut ilmu kepada para Ulama di sana. Di Mekkah, KH. Asyari belajar langsung di bawah bimbingan Syekh Nawawi al-Bantany dalam bidang ilmu Tarekat dan Ilmu Fiqh. Ia belajar bersama KH. Bakri Plered dan KH. Gedang Cianjur.

Mengenai riwayat pernikahan KH. Asyari, pada saat di Mekkah, ia didatangi oleh KH. Muhiyan yang memiliki seorang putri bernama Eko yang kelak dinikahkan dengan KH. Asyari. Pernikahan tersebut terwujud atas restu dari Syekh Nawawi al-Bantany yang juga hadir dalam pernikahan tersebut. Setelah itu, KH. Asyari pulang ke Indonesia dan membangun rumah tangga. Adapun putra-putri KH. Asyari adalah 7 orang dan kesemuanya aktif dalam aktivitas sosial keagamaan mengikuti jejak ayah mereka.

Sejak kepulangannya dari Mekkah, KH. Asyari  berniat mendirikan pesantren di daerah Cibereum, Cisarua, tempat tinggal istrinya. Di Cibereum, KH. Asyari menetap cukup lama sebelum dipindahkan ke Bakom. Pendirian pesantren di Cibereum mendapat hambatan dari pihak Belanda yang hanya mengizinkan pendirian psantren dengan syarat membayar upeti. Namun KH. Asyari mempunyai pendirian yang kokoh dan menolak secara tegas ajakan Belanda tersebut. Hal ini mendorong KH. Asyari untuk berpindah ke daerah Cilember. Namun pada saat di Cilember, Belanda masih bertindak sewenang-wenang dengan mempekerjakan secara paksa masyarakat dan para santri dalam program pembangunan jalan menuju puncak.

Kondisi ini mendorong KH. Asyari untuk berpindah bersama para santrinya ke daerah lain dengan mengutus putra tertuanya yakni KH. Syarkowi yang berhasil menemukan lokasi di daerah Bakom, tempat ia menetap dan berkiprah untuk umat hingga wafat. Mengenai daerah Bakom yang terletak di kota Bogor, Kecamatan Bogor Selatan diperoleh keterangan menarik, yaitu mengenai pengertian Bakom yang telah dikenal luas. Setidaknya ada dua pengertian: Bakom berasal dari kata “Leuweung Bukmu” atau Hutan Bisu sebagai lambang kebersahajaan, ketawadluan. Dalam keterangan lain, Bakom berasal dari kata “Bakna Elmu” yang berati kolam ilmu.

Selama hidup dan setelah wafat, tidak sedikit yang memberi gelar Waliyullah al-Asyari kepada KH. Asyari. Tentu gelar ini bukan tanpa alasan. Banyak faktor yang mendorong masyarakat secara sadar memberikan gelar itu. Pada umumnya orang yang menyandang gelar wali mendapatkan kedudukan yang penting dalam sistem kemasyarkatan Islam baik karena kualitas spiritual mereka maupun karena peran sosial yang mereka perankan.

Selanjutnya untuk mengenang kiprah KH. Asyari yang wafat pada tahun 1319 H maka pihak keluarga besar Bakom, keturunan KH. Asyari menyelenggarakan acara Haul yang pada saat ini sudah yang ke-113. (Nur Hidayah/AM)

You might also like
Comments
Loading...