KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Bilad al-Jawa : Pencetus Lahirnya Ulama Nusantara

Sejarah berkembangnya Islam secara pesat di Indonesia tercatat dalam buku – buku sejarah adalah ketika islam dibawa oleh para wali terutama di Pulau Jawa dan dikenal dengan nama Wali songo (Wali sembilan). Cara dakwah wali songo dengan pendekatan budaya masyarakat setempat membuat masyarakat Jawa saat itu tertarik terhadap Islam dan berbondong – bondong masuk ke agama Islam.

Tradisi keilmuan Islam di Indonesia yang dibangun saat itu hingga sekarang adalah melalui pesantren – pesantren atau surau, dimana para santri (sebutan murid di pesantren) belajar tentang Islam dan ilmu lainnya kepada seorang Kyai atau Ulama. Melalui pesantren inilah lahir banyak ulama yang berpengaruh dalam perkembangan Islam di Indonesia. Terlebih ulama yang berasal dari Jawa terkenal dengan kehausan menuntut ilmu, karena mereka terpengaruh filosofi jawa yang mengatakan “luru ilmu kanti lelaku”(mencari ilmu adalah dengan berkelana) sehingga seringkali mereka menuntut ilmu dari pesantren satu ke pesantren lain guna mendapatkan ilmu yang lebih banyak.

Sedikit sekali keterangann terutama dalam buku pendidikan sejarah Islam mengenai asal usul pemikiran – pemikiran ulama Nusantara yang berhasil memberikan kontribusi bagi perkembangan Islam di Indonesia. Salah satu asal pemikiran Ulama Nusantara terutama Ulama Abad ke – 19 dalam buku “Pemikiran KH.M.Hasyim Asy’ari Tentang Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah” Karya Achmad Muhibbin Zuhri mengatakan bahwa pemikiran ulama tersebut dapat dirunut dari munculnya potret “Negeri di Bawah Angin” atau “Bilad Al-Jawa” di Timur Tengah terutama Makkah. Potret bilad al-Jawa menunjuk pada,

Satu parameter geografis yang mengacu pada Muslim Nusantara sebagai satu komunitas dengan tingkat pemikiran, pertukaran dan komunikasi kultural yang erat (ecumene). Klaim universalitas umat Islam yang mengatasi keragaman etnis dan bahasa, semakin memperkuat bilad al-Jawa sebagai satu ecumene Muslim.

istilah al-Jawa inilah yang kemudian menjadi satu rumusan identitas yang membedakan mereka dengan, antara lain, masyarakat dan budaya India (hindi), atau Cina. Hubungan diplomatik dan perdagangan antara kerajaan-kerajaan Islam, yang tumbuh sejak abad ke-13, telah menghantarkan Muslim Nusantara semakin erat berada dalam ikatan kultural-keagamaan yang sama. Ikatan ini terutama mengemuka dalam penggunaan bahasa Melayu, dengan menggunakan aksara Arab, sebagai bahasa politik-budaya dan agama Muslim Nusantara, sebagai “aksara Jawa”1

Dalam bahasa berbeda, bilad al-Jawa mengandaikan satu komunitas Muslim dari Nusantara yang sedang menuntut ilmu di Makkah. Pada saat yang bersamaan, bilad al-Jawa sekaligus mengandaikan identitas kultural-keagamaan Muslim Nusantara. Sebagaimana dicatat oleh F. Laffan, seorang ulama Aceh terkemuka abad ke-16 M yang bernama Syamsuddin al-Sumatrani, misalnya lebih memilih penggunaan aksara Jawa ketika menulis sebuah karya keagamaan dengan judul Mir’at al-Mu’minin (Cermin orang-orang beriman) dan diterbitkan tahun 1601M. Sama halnya ketika beberapa ulama yang berasal dari kerajaan Islam Nusantara Timur seperti Ternate, Tidore dan Bacan menyampaikan kitab-kitab yang sama, dengan aksara Jawa.

Bilad al-Jawa sebagai identital kultural keagamaan  diperkuat oleh Ibrahim al-Kurani, salah satu Ulama Makkah abad ke-17, secara tegas menyebut al-Jawa sebagai audience pembaca dari kitab yang ditulisnya. Tidak kalah pentingnya adalah, keakraban al-Kurani dengan terminologi al-Jawa juga disebabkan “muridnya mendefinisikan diri mereka sebagai seorang Muslim dari bilad al-Jawa, lepas apakah lahir di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan seperti Yusuf al-Makassari (w 1389 H/ 1969 M) atau di wilayah kerajaan Aceh seperti Abdurrauf Singkel, atau di wilayah Sumatera lainnya, seperti Shaykh Khatib. Beberapa bukti penting di atas, semakin meneguhkan bilad al-Jawa telah tampil sebagai satu kategori, yang membuat Muslim Nusantara memposisikan diri berasal dari wilayah Muslim tertentu  yang sejajar dengan Muslim lain seperti dari Asia Tengah, Afrika Utara, dan India.

Kehadiran bilad al-Jawa dapat ditelusuri dari munculnya jaringan ulama Nusantara yang berpusat di Haramayn (Makkah-Madinah) pada pertengahan abad ke-17. Awalnya kehadiran mereka selain untuk menunaikan Ibadah Haji juga sekaligus menambah wawasan keagamaan di Haramayn. Sekembalinya dari Haramayn, mereka menarik banyak pelajar Muslim di tanah air belajar agama. Banyak di antara pelajar tersebut kemudian mengikuti tradisi guru-guru mereka berangkat ke Tanah Suci guna memperdalam pengetahuan keagamaan Islam.

Abduddin Nata, mengungkapkan beberapa alasan, mengapa Makkah saat itu menjadi tujuan utama dan dambaan para pelajar Muslim dari Nusantara: Pertama, karena Makkah merupakan tempat lahirnya Islam dan bertemunya kaum Muslimin se-dunia saat musim haji; Kedua, di Makkah terdapat banyak ulama berkaliber Internasional dan sebagiannya berasal dari Nusantara serta memiliki hubungan intelektual dengan kyai-kyai pesantren, dan Ketiga, berkenaan dengan penilaian dan pengakuan masyarakat terhadap kredibilitas seseorang yang memiliki pengalaman belajar di Makkah. Masyarakat memiliki anggapan bahwa mereka yang pernah mengenyam pendidikan di Makkah memiliki kualitas yang lebih dibanding mereka yang  tidak pernah belajar di Makkah.

Oleh karena itu, hampir seluruh ulama terpenting di Nusantara tidak lepas dari ecumence Jawa tersebut. Beberapa nama dapat disebut, misalnya Shaykh Nawawi al-Bantani, Shaykh Mahfuz al-Tirmisi, Shaykh Khatib al-Minangkabawi, Shaykh Saleh Darat, Shaykh Khalil Bangkalan, Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Ahmad Dahlan, dan seterusnya.

Bilad al-Jawa adalah potret tradisi keilmuan Ulama Nusantara yang memberikan dampak secara luas dan nyata dalam perkembangann Islam di Dunia dan khususnya di Indonesia. Selain itu banyak sekali lulusan Bilad al-jawa yang memberikan kontribusi bagi kemerdekaan Indonesia, seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, dan KH Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri organisasi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

 

1Jajat Burhanudin, “Islam dan Negara-Bangsa : Melacak akar-akar Nasionalisme Indonesia” Studia Islamika, Vol. 11, No. 1, 2004, 171.

 

Al-faqir Abdurrohman / Nur B.

You might also like
Comments
Loading...