Belajar dan Tawakal

Bab Memulai Belajar, Pengaturannya, dan Urutannya

Hendaknya seorang mukmin tidak berharap kecuali Kepada Allah dan tidak takut kecuali kepada-Nya saja. Hal ini bisa dilihat dari perbuatannya, apa ia melanggar batas syariat ataukah tidak. Barangsapa yang menentang Allah lantaran takut kepada manusia berarti ia takut kepada selain Allah. Kalau ia tidak bermaksiat kepada Allah dari menjaga batas-batas syariat lantaran takut kepada manusia berarti ia tidak takut kepada selain Allah tetapi takut kepada Allah. Demikian pula dalam urusan harapan.

Seorang santri harus menentukan jumlah yang tepat untuk mengulangi pelajarannya karena pelajaran itu tidak akan melekat dalam hati sebelum pelajaran itu diulang-ulang.

Seorang santri hendaknya mengulangi pelajaran kemarin sebanyak lima kali dan pelajaran kemarin lusa sebanyak empat kali, juga mengulangi pelajaran tiga hari lalu sebanyak tiga kali, pelajaran empat hari lalu sebanyak dua kali dan pelajaran lima hari yang lalu.

Cukup sekali saja, karena hal ini lebih menguatkan hafalan. Seorang santri harus  membiasakan diri tidak takut mengulang pelajaran karena belajar dan mengkajinya ulang harus ia lakukan dengan penuh semangat tetapi tidak boleh keras-keras dan memaksakan diri agar ia tidak berhenti dari mengulanginya karena sebaik-baik perkara adalah tengah-tengahnya.

Diceritakan bahwa Abu Yusuf Rahimahullah mendiskusikan ilmu fiqih bersama ulama fiqih dengan penuh semangat, bahkan iparnya yang hadir di tempatnya merasa keheranan terhadapnya, ia berkata: “Aku tahu beliau belum makan sejak lima hari yang lalu, meski demikian beliau masih berdiskusi dengan semangat. Kalau kita menjadikan ulama dahulu sebagai tolak ukur, kita pasti tidak kuat. Maka yang kita contoh adalah semangatnya, meskipun sampai lapar beliau tetap semangat berdiskusi.

Seorang santri tidak boleh patah semangat, tidak boleh malas dalam belajar karena hal ini musibah baginya. Dahulu guru kami Syaikh Burhanuddin Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya aku dapat mengalahkan teman karena aku tidak pernah membiarkan diriku patah semangat ataupun mundur dalam memperoleh ilmu.” Orang pintar bisa kalah dengan orang yang rajin.

Diceritakan bahwa Syaikh Al Asbijabi Rahimahullah semasa menuntut ilmu beliau mengalami masa renggang selama dua belas tahun karena jatuhnya kekuasaan. Ngaji beliau tidak lancar karena ada masalah kekuasaan. Setiap hari beliau keluar bersama temannya untuk mendiskusikan ilmu, keduanya selalu duduk bersama untuk berdiskusi hampir tidak pernah terlewatkan diskusi ini selama dua belas tahun, hingga akhirnya temannya menjadi Syaikhul Islam bagi pengikut madzhab Syafi’i karena ia bermadzhab Syafi’i. Manfaat diskusi itu besar sekali, jangan bahas bisnis terus, alangkah baiknya mendiskusikan masalah umat, masalah ilmu. Guru kami Syaikh Al Imam Qadikhan berkata: “Hendaknya seorang santri yang belajar ilmu fiqih menghafal satu buku fiqih dari sekian buku-buku fiqih lainnya untuk memudahkaniya mengingat ilmu fiqih yang ia dengar.”

Bab Tawakal

Seorang santri harus bertawakal dalam menuntut ilmu, tidak perlu memusingkan masalah rezeki dan tidak perlu menyibukkan hatinya akan masalah ini.

Ketika kita dalam menuntu ilmu, kita pasti akan mengalami fase-fase seperti masalah ekonomi dan lain-lain. Kita lebih baik kita banyak bersabar dan bertawakal, jangan banyak mengeluh, karena kita dalam keadaan seperti itu malah kita mengeluh, maka itu akan membuat lebih parah/buruk.

Abu Hanifah Rahimahullah meriwayatkan dari Abdullah bin Al Hasan Azzabidi sahabat Rasulullah saw. “Barang siapa yang menuntut ilmu agama, maka Allah akan mencukupinya dan memberinya rezki dari tempat yang tidak ia sangka-sangka.” Insyallah apabila kita mencari ilmu, kita akan dipermudah dalam masalah rezeki.

Karena orang yang sibuk memikirkan urusan rezeki baik itu sandang dan pangan, jarang sekali ia berusaha untuk mencari akhlak yang baik dan hal-hal yang luhur. Dikatakan: “Tinggalkanlah keluhuran, janganlah kamu pergi mencarinya.”

Duduklah saja, karena engkau hanya bisa makan dan berpakaian. Ada seorang lelaki berkata kepada Mansyur Al Halaj: “Berilah aku nasehat.” Beliau berkata: “Sibukkanlah dirimu karena jika tidak justru ia yang akan menyibukkanmu.”

Hendaknya setiap orang menyibukkan dirinya berbuat kebajikan agar ia tidak dipermainkan oleh hawa nafsunya, hendaknya seorang yang berakal tidak memusingkan urusan dunia karena hati yang susah dan sedih tidak dapat menolak musibah dan tidak dapat memberi manfaat, tetapi justru merusak hati, pikiran dan tubuh juga menghalanginya dari berbuat kebaikan.

Hendaknya ia lebih memikirkan urusan akhirat karena hal ini lebih bermanfaat. Adapun sabda Nabi Saw. “Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada sebuah dosa tidak ada yang dapat menghapuskannya kecuali prihatin biaya hidup.” Maksud sabda Nabi saw. adalah keprihatinan yang tidak menghalangi amal kebaikan dan tidak menyibukkan hati hingga hati tidak dapat khusyu’ dalam shalat, karena keprihatinan ini termasuk memikirkan urusan akhirat.

Ada dosa yang mana bisa hilang, ketika kita mengalami kesulitan. Apabila kita sabar dan tawakal saat ditimpa kesusahaan, maka itu menjadi pelebur dosa kita.

Hendaknya seorang santri mengurangi ikatan hatinya dari duniawi sebisa mungkin, oleh sebab itulah mereka merantau, Selain itu ia harus bersabar menanggung cobaan dalam perjalanan untuk belajar. Seperti yang dikatakan oleh Nabi Musa as. dalam perjalanan beliau untuk belajar dari Nabi Khidir. Hal ini tidak dinukilkan dari perjalanan beliau lainnya, beliau berkata: “Sungguh benar-benar aku telah merasakan payah dalam perjalanan ini,” Nabi Musa mengalami banyak kesulitan dalam belajar bersama Nabi Khidir. Kita belajar itu sejak lahir sampai ke liang lahat. Jadi kita harus semangat, jangan malas dalam belajar memperoleh ilmu.

Sumber : Kajian online kitab kuning Ta’limul Muta’allim KMNU Pusat tanggal 15 Desember 2020

Pembicara: Muh Adib R (Koor Kajian Kitab Kuning, Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5)

Notulis : Ima Khoirunnisa (Divisi Kajian dan Dakwah, Depnas 5)

You might also like
Comments
Loading...