KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Beda Nasib Penghina Adzan Saat Ini dan Zaman Nabi

Oleh: Tif

(Ahmad Lathiiful Quluub/KMNU ITB)

Beberapaa pekan terakhir, media massa kita kembali dipenuhi konten kontroversi penistaan agama. Kali ini puisi putri sang proklamator, Sukmawati Soekarno Puteri, dianggap menista agama Islam dengan penggalan baitnya yang mengatakan bahwa kidung ibu lebih merdu daripada suara adzan. Puisi “Ibu Indonesia” yang dibacakan pada “Indonesian Fashion Week” menyambut 29 tahun karya Anne Avantie (28/03) tersebut langsung mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Menyadari kekhilafannya, dengan meneteskan air mata ibu Sukmawati meminta maaf keesokan harinya. Dalam konferensi persnya, disampaikan pula bahwa puisi tersebut sebenarnya bertujuan untuk refleksi wawasan kebangsaan agar tidak melupakan jati diri Indonesia asli. Umat Islam yang terlanjur marah justru semakin ramai mengecam beliau. Ada yang membuat video reaksi peristiwa tersebut dan mengingatkan kembali tentang bela Islam. Sebagian membuat puisi balasan. Bahkan sekelompok orang melakukan aksi turun jalan menuntut agar ibu Sukmawati diproses secara hukum meskipun dirinya telah meminta maaf.

Di tengah tekanan dan ancaman berbagai pihak, ibu Sukmawati pun meminta perlindungan kepada KH Ma’ruf Amin, ketua MUI, sebagai tokoh yang dianggap bisa melegitimasi permohonan maafnya kepada umat Islam. Namun justru media sosial kita semakin riuh. Selain kepada Ibu Sukmawati, berbagai hujatan muncul terhadap Kyai Ma’ruf pula. Orang yang minta maaf dan yang memaafkan sama-sama dihujat. Begitu pemarahnya wajah umat Islam saat ini.

Apa yang dilakukan Sukmawati juga pernah terjadi di masa Rasulullah SAW. Dikisahkan dalam kitab Al-Isti’ab fi Ma’rifatil Ashab, ada seorang laki-laki Quraish bernama Abu Mahdzurah. Suatu ketika dia keluar bersama kurang lebih 10 orang sahabat-sahabatnya lalu di tengah jalan berpapasan dengan pasukan Rasulullah SAW yang baru saja pulang dari Hunain. Kemudian salah seorang muadzin beliau mengumandangkan adzan shalat sebagai tanda masuknya waktu shalat.

Abu Mahdzurah dan kawan-kawannya yang mendengar suara itu lalu meniru dengan tujuan mengejek dan melecehkan adzan tersebut. Mendengar ejekan tersebut Rasulullah SAW langsung mengutus pasukannya agar menjumpai sekawanan orang tersebut. Maka dipanggillah sekelompok orang itu ke hadapan beliau.

Mereka datang ke hadapan Rasulullah dengan rasa takut hingga gemetar tubuhnya. Di luar dugaan, beliau justru memyambut dengan penuh keramah-tamahan. Dengan lembut Rasulullah bertanya “Siapa diantara kalian yang tadi terdengar suaranya begitu keras?”. Kemudian kawan-kawannya menunjuk kepada Abu Mahdzurah, seolah mereka sepakat bahwa yang meniru dan mengejek suara adzan tadi adalah Abu Mahdzurah. Padahal banyak diantara mereka yang juga ikut-ikutan.

Rasulullah pun bersabda kepada Abu Mahdzuurah “Berdirilah, kumandangkan adzan untuk melaksanakan sholat!”. Kemudian Abu Mahdzurah berdiri mengikuti perintah Nabi dan saat itulah tiba-tiba hilang rasa benci kepada Nabi Muhammad SAW. Yang tadinya membenci beliau, memusuhi kaum muslimin bahkan melecehkan adzan tapi begitu dipanggil, diminta mendekat dan diperintah untuk mengumandangkan adzan, tiba-tiba lenyaplah rasa kebenciannya kepada beliau.

Rasulullah SAW pun mengajarkan bacaan adzan kepada Abu Mahdzurah secara langsung. Selesai membacakan adzan, dipanggillah dan diberikan hadiah sejenis perhiasan dari perak. Lalu Rasulullah SAW meletakkan tanganya di atas ubun-ubun Abu Mahdzurah dan  mengusap dadanya seraya mengucapkan doa keberkahan baginya.

Inilah peristiwa yang sungguh luar biasa. Seorang laki-laki Quraish yang semula membenci adzan, syariat islam, bahkan membenci Rasulullah SAW, tapi dengan kelembutan Rasul, ketulusannya, usapan lembut tangannya dan dengan do’a barokah beliau, Abu Mahdzurah justru beriman bahkan menjadi juru adzan. Abu Mahdzurah menjad juru adzan di kota Mekah atas perintah Nabi Muhammad SAW di bawah kepemimpinan Gubernur Attab bin Asid sebagai wakil Rasulullah di kota suci Mekkah saat itu hingga akhir hayatnya.

Akan berbeda nasibnya jika Abu Mahdzurah hidup dan melakukan pelecehan adzan tersebut di zaman ini. Bukan panggilan, sambutan hangat, dan doa keberkahan seperti yang ditunjukkan Rasulullah SAW sehingga dia dapat berbalik dari kekafiran. Melainkan akan viral di media sosial, dihujat, dituntut secara hukum, atau bahkan bisa jadi dihakimi secara langsung. Alangkah baiknya jika kita mengikuti teladan Nabi Muhammad saja, yakni dengan memaafkan dan mendoakan ibu Sukmawati.

Ya Robbana ya Lathiif, perlembutlah hati kami…

Wallahu a’lam bishshawaab.

*Kisah ini disarikan dari Khutbah KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Jumat, 6 April 2018 di Masjid Jami’ Ibrahimy Sukorejo – Situbondo, tercantum di Sumbermata.com

Comments
Loading...