Bangkitnya si kecil (UMKM) dari pandemi Covid-19

UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) merupakan salah satu usaha produktif yang memainkan peran vital di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia. Berdasarkan data sensus ekonomi tahun 2016 (Departemen Koperasi dalam Sinergitas UMKM Penguatan Peran Antar Lembaga), kontribusi UMKM mencapai 60,34% terhadap PDB Nasional dengan daya serap tenaga kerja mencapai 97% dari seluruh tenaga kerja Indonesia. Jumlah UMKM pada tahun 2017 mencapai 62,9 juta yang tersebar di seluruh Indonesia (Kemenkop RI dalam Jumlah UMKM di Indonesia). Data tersebut menunjukkan bahwa UMKM memiliki potensi yang besar bagi kemajuan perekonomian Indonesia. UMKM mampu memberikan dampak secara langsung terhadap kehidupan masyarakat khususnya pada sektor bawah, baik dari segi pendapatan maupun penyerapan tenaga kerja.

Era pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini, telah membuat UMKM menjadi salah satu sektor besar yang sangat rentan terkena dampak pandemi Covid-19. Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UKM RI menyebut bahwa terdapat 37.000 lebih UMKM yang terdampak corona dan 50% diantaranya diperkirakan gulung tikar. Penyebaran dan penularan Covid-19  yang begitu cepat dan masif telah memunculkan kebijakan pemerintah dalam menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dimana di sisi lain juga berdampak negatif mematikan aktivitas bisnis pelaku UMKM. Profil UMKM di Indonesia terdiri atas tiga kluster besar, yaitu kluster produsen, usaha dagang, dan jasa. Dari ketiga kluster tersebut, sangat bergantung kepada pergerakan konsumen secara langsung di lapangan. Adanya kondisi tersebut, UMKM tidak dapat memerankan posisinya dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di era pandemi Covid-19 ini.

Upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut secara umum masuk ke dalam upaya stimulus ekonomi, seperti adanya keringanan pembanyaran cicilan pokok dan bunga pinjaman, penundaan cicilan kendaraan baik berupa motor, mobil, perahu bagi nelayan, bahkan rumah, upaya tersebut dapat mengarah pula untuk meringankan beban pelaku UMKM. Namun, dibutuhkan pula upaya dari kebijakan pemerintah yang mengarah khusus kepada pelaku UMKM agar setidaknya UMKM dapat berperan aktif sebagaimana mestinya dalam lingkup terkecil yaitu daerah. Pandemi Covid-19 yang mengakibatkan masalah besar salah satunya dibidang ekonomi sebetulnya dapat ditopang oleh adanya UMKM. UMKM dapat bergerak aktif untuk menopang masyarakat secara langsung pada sektor bawah di daerah-daerah.

Upaya pemerintah dari kebijakan yang diterapkan secara khusus untuk pelaku UMKM di tengah pandemi Covid-19 bertujuan agar UMKM tetap terus beroprasi dan mampu bertahan meskupun di tengah pandemi seperti saat ini. Terdapat 64 juta nasib UMKM yang harus diperjuangkan di era pandemi yang selama ini menjadi roda penggerak konsumsi rumah tangga dan kekuatan perekonomian nasional. Selain upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah, kita sebagai warga negara indonesia khususnya sebagai seorang mahasiswa sangat diperlukan andil kita dalam membantu permasalahan UMKM tersebut. Mahasiswa sebagai sivitas akademika diposisikan sebagai insan yang memiliki kesadaran sosial yang tinggi, intelektual, serta kesadaran dalam mengembangkan potensi diri.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan beberapa pihak lain untuk menyelenggarakan program KKN Tematik Covid-19 bekerja sama dengan perguruan tinggi ini sebagai bentuk perwujudan pentaheliks penanggulangan bencana untuk mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Lebih dari 9.000 mahasiswa dari 221 perguruan tinggi di 22 provinsi telah mendaftar untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) COVID-19 tahap pertama dan akan dilaksanakan tahap kedua dan ketiga (BPNB dalam Sebanyak 9.412 Mahasiswa dari 221 Perguruan Tinggi Daftar KKN Tematik Covid-19 : 2020). Program KKN Tematik yang dikhususkan untuk pencegahan, penanganan, dan penanggulangan dampak Covid-19 yang di dalamnya terdapat program kerja Recovery UMKM sangat membantu penanganan permasalahan UMKM di era pandemi Covid-19. Banyak hal yang dapat dilakukan mahasiswa untuk menjalankan program kerja tersebut, seperti :

  • Memberikan pelatihan tentang e-marketing kepada para pelaku UMKM.

Di era revolusi Industri 4.0 ini, baru terdapat 5% dari jumlah total UMKM di Indonesia yang sudah go digital (Data Kementerian Perhubungan dan Otoritas Jasa Keuangan : 2019). Padahal di era pandemi Covid-19 dengan berbagai kebijakan seperti PSBB, langkah yang paling efektif dan memungkinkan bagi para pelaku usaha adalah memasarkan produknya secara online. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memberikan edukasi berupa praktek secara langsung kepada para pelaku UMKM agar kegiatan usaha yang dilakukan dapat menyentuh ranah digital.

  • Memberikan sosialisasi tentang Manajemen Usaha yang baik dan benar.

UMKM yang tidak memiliki manajemen usaha yang baik dan benar, akan sangat rentan terkena guncangan seperti pandemi Covid-19 ini. Khususnya penerapan manajemen resiko sangat diperlukan bagi UMKM dalam mengatasi resiko-resiko yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memberikan edukasi dan pemahaman berupa ilmu pengetahuan terkait hal tersebut kepada para pelaku UMKM dan sumber daya manusia yang ada didalamnya.

  • Memberikan inovasi kepada UMKM

Inovasi merupakan suatu hal yang sangat penting dan dibutuhkan oleh pelaku-pelaku usaha khususnya UMKM untuk mengatasi permasalahan usahanya. Dengan berinovasi, baik pada bidang produk maupun lainnya dapat menjadikan UMKM terus bisa bertahan. Ketika pemerintah, mahasiswa dan masyarakat secara umum dapat bersatu dalam pemecahan masalah UMKM di era pandemi Covid-19, maka UMKM perlahan dapat kembali menjalankan perannya seperti sediakala dalam menjaga pertumbuhan ekonomi di era pandemi Covid-19 yang dimulai dari lingkup daerah dan berlanjut ke petumbuhan ekonomi secara nasional.

Sumber : Buletin Mahabbah (KMNU) Edisi 6

Comments
Loading...