Apakah Jurnalisme Sudah Tenggelam Oleh Teknologi di Era Millenial?

Jurnalisme    adalah    kata     yang    sering terdengar ditelinga kita karena sebagai manusia modern Produk Jurnalistik adalah alat komunikasi efektif selain bicara. Jurnalisme adalah salah satu kegiatan yang penting dalam peradaban manusia modern. Tanpa jurnalisme kehidupan manusia modern akan mengalami kekacauan karena tidak ada nya arus keluar masuk sebuah informasi. Hal inilah yang membuat jurnalisme itu sendiri bisa terlahir yaitu dari rasa keingin tahuan manusia itu sendiri terhadap apa yang terjadi diluar mereka dan kebutuhan untuk berkomunikasi. Singkatnya mustahil untuk memisahkan jurnalisme dengan kehidupan manusia sehingga kita sepakat jurnalisme adalah sebuah profesi, komoditas dan kegiatan yang produknya sangat ditunggu- tunggu oleh pembaca karena kita sudah dibuat tergantung olehnya sejak pertama kali dikenalkan melalui media cetak koran.

Naluri manusia adalah rasa ingin tahu dan ini juga menciptakan perubahan untuk memudahkan kehidupanya yaitu teknologi. Teknologi yang dulu kita kenal hanya berupa tulang, batu dan kulit hewan dizaman Neozoikum dan Besi di zaman Neolitikum. Teknologi kini menjelma menjadi lebih kompleks lagi sejak berkembang pesatnya keilmuan sains. Sebut saja produk teknologi yang mampu mengubah peradaban manusia secara signifikan adalah ditemukanya mesin uap oleh James Watt. Pada titik itulah sejarah mencatat bahwa manusia terus mengalami perkembangan yang pesat dan itu memengaruhi pola produksi manusia yaitu Revolusi Industri di Inggris yang terjadi ratusan tahun yang lalu. Tidak sampai disitu Revolusi industri terus mengalami evolusi seiring ditemukan teknologi baru yang mampu mempermudah kehidupan manusia yaitu Listrik untuk Revolusi indusri 2.0, Komputer untuk revolusi industri 3.0 dan Internet untuk revolusi 4.0.

Sayangnya walaupun jurnalisme ini sudah berumur tua dan berkali-kali mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, ada indikasi bahwa jurnalisme berpeluang menjadi komoditas yang lenyap ditelan teknologi. Hal itu dibuktikan oleh fenomena musibah pertama bagi dunia jurnalisme media cetak yaitu saat banyak perusahaan koran, majalah, tabloid dan berbagai macam karya Jurnalisme media cetak gulung tikar karena banyaknya para pembaca mereka yang beralih membaca berita melalui internet. Fenomena ini sempat menjadi malapetaka bagi mereka yang makan dan hidup dari profesi ini. Penjual koran keliling dan agen penjual koran pinggir jalan adalah korban yang paling merasakan dampaknya.

Hal diatas hanya pemicu masalah namun masalah sebenarnya adalah saat terjadinya penurunan kualitas produk jurnalistik. Hal ini bisa dibuktikan dari fenomena banyaknya click bait dalam situs media berita online.

Kata-kata sensasional, heboh dan boombastis kerap menghiasi layar pembaca sehingga menarik klik yang besar. Sayangnya apa yang mereka tuliskan tidak sesuai dengan isi sebenarnya dan perlahan lahan menyebabkan penurunan karya jurnalistik yang terus menurun. Akibat dari peristiwa ini substansi berita online tidak lagi berfokus pada seberapa penting sebuah berita itu namun lebih membahas mengenai berita mana yang akan laku bila di posting. Bukan tanpa alasan namun biaya ongkos jurnalisme yang membengkak menyebabkan mereka terpaksa memakai strategi marketing yang merugikan dunia jurnalisme itu sendiri. Hanya media pemilik modal besar sajalah yang mampu bertahan. begitulah kejamnya dunia Jurnalisme saat ini yang pada awalnya teknologi mampu memberikan kemajuan signifikan untuk jurnalisme kini ia berbalik membuat jurnalisme terpojok oleh teknologi.

Jurnalisme mulai mengalami cobaan baru yaitu kapitalisme jurnalistik yang membuat produk jurnalisme hanya berfokus kepada keuntungan dan apa yang diinginkan oleh pasar. Fenomena ini adalah sebuah kemunduran mengingat tujuan utama produk jurnalisme adalah untuk komunikasi dan memenuhi keingin tahuan manusia. Apabila berita hanya dipenuhi oleh berita yang kualitas jurnalistiknya rendah maka dikhawatirkan kualitas informasi dan intelektualistas manusia itu sendiri menjadi berkurang. Berkurangnya narasi yang berimbang, Pilihan topik bacaan yang terbatas dan kedalaman analisis berita yang rendah akan menyebabkan kemunduran berfikir yang signifikan.

Contoh fenomena politaiment yaitu gabungan antara berita politik dan infotaiment saat kasus perceraian Ahok dan Veronica dimana seharusnya ini bukan menjadi headline karena ini adalah ranah privat atau kasus lip balm Sandiaga Uno yang menjadi pokok pemberitaan media mainstream. Seharusnya yang diberitakan terkait kebijakan pejabat publik bukan sisi sensasional dan privasinya. Contoh lain juga bisa kita lihat di perbandingan antara tulisan koran dan berita online perbedaanya jauh. Pada koran substansinya jauh lebih unggul sedangkan dalam media online berita hanya disajikan tidak lebih hanya sekedar laporan kejadian bukan produk jurnalistik. Fenomena diatas adalah gambaran kecil dari fenomena Jurnalisme Vs Teknologi saat ini. Penulis memprediksikan masalah ini akan terus berlangsung hingga memasuki babak baru nanti di era revolusi industri 5.0 Saat semuanya berbasis AI (artificial intelligence). Apakah Jurnalisme juga akan merasakan dampaknya, yang berarti manusia jurnalis akan digantikan oleh tenaga mesin yang mampu mengolah berita lebih baik dan efisien tentu jawabanya baru akan bisa dibuktikan nanti namun pada intinya teknologi kini bukan lagi “kekasih” jurnalisme namun menjelma menjadi “mantan kekasih” yang menjadi musuh.

Ada jalan keluar yang penulis tawarkan yaitu Klik dan Beli. Cara pertama yaitu Klik. Klik disini berarti anda harus mengklik berita-berita atau media yang menyajikan berita berkualitas. Berkualitas disini berarti tidak menggunakan cara click bait dalam menarik pembaca, tidak menuliskan kata-kata berlebihan yang isinya tidak sesuai dengan isi berita dan memiliki kualitas pemberitaan yang baik bukan sekedar mencari keuntungan. Abaikan sebenarnya juga termasuk dalam cara Klik. Abaikan disini berarti anda harus tahan abaikan semua bentuk click bait, kata-kata heboh dan sensasional demi memperkecil rating berita mereka. Semenarik apapun cara mereka tetap abaikan sebab inilah cara efektif agar pihak direksi mengetahui bahwa pembaca tidak menyukai kualitas pemberitaan seperti itu dan lebih menyukai berita yang memiliki kualitas jurnalistik yang memadai. Kedua cara Beli yaitu anda bisa membeli atau berlangganan berita cetak maupun online yang dirasa berbobot atau perlu didukung agar mereka bisa terus hidup. Tidak bisa dipungkiri Jurnalisme perlu uang sehingga jika anda ingin jurnalisme yang berkualitas terus hidup maka bantulah mereka dengan uang anda. Suara anda bisa mencegah dan mungkin menyelesaikan berbagai macam polemik permasalahan diatas. Mulai dari Penurunan Produk Jurnalistik, Kapitalisme media Jurnalisme dan kemungkinan AI menggeser jurnalis. Kini semuanya ada ditangan anda Jurnalisme Vs Teknologi siapakah yang menang atau mereka bisa kembali bisa berdamai seperti dulu, mari kita lihat.

Sumber : Buletin Mahabbah (KMNU) Edisi 8

Comments
Loading...