KMNU Pusat
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul 'Ulama

Aktivis Kampus Masa Kini ; Mahasiswa yang Santri

Oleh : Muhammad Rif’an (KMNU UPI)

Tak lama ini tepatnya 22 Oktober lalu, untuk keempat kali masyarakat di Indonesia memperingati hari Santri Nasional yang ditetapkan –pakdhe Jokowi– pada hari kamis itu. Seluruh santri di berbagai pondok pesantren tentu tidak melewatkan momentum sakral ini. Seperti tidak mau kalah dengan santri di pondok pesantren, seluruh siswa SD, SMP, dan SMA/SMK di Jawa Barat memakai pakaian muslim pada upacara di hari senin itu. Penulis sendiri menjumpai sebagian siswa SMK di salah satu kabupaten di Jawa Barat memakai sarung dan berpeci sebagai pengganti topi yang sering mereka pakai. Hingga yang membuat penulis sedikit kagum –waktu bersalaman dengan siswa– adalah sikap mereka pun turut disesuaikan layaknya santri ketika salim dengan Sang Kyai. Agaknya tidak berlebihan ketika pendamping Presiden Incumbent di tahun politik 2019 yang akan datang, KH. Ma’ruf Amin menyebut hari santri merupakan peristiwa yang bisa disebut menentukan kemerdekaan Indonesia hingga mungkin maksudnya kemerdekaan manusia Indonesia. Tentu beliau tidak sembarangan menyebutkan demikian, terbukti dengan pemaknaan Hari Santri Nasional oleh berbagai kalangan.

Fenomena peringatan Hari Santri Nasional pun sempat memicu “semangat” yang berlebihan sebagian kelompok, hingga ada guyonan –yang mungkin tidak lucu- mengapa tidak sekalian menetapkan hari Kyai Nasional. Sebagian warga NU juga ada yang berlebihan dalam berkomentar, pun tidak sedikit yang tidak peduli dengan guyonan receh itu atau mungkin tidak tahu –be positive. Jelasnya di kalangan NU sepakat bahwa seorang Kyai sekalipun merupakan seseorang yang pernah atau kalau tidak, selalu menjadi santri. Bahkan kyai “kelas elit” seperti Gus Dur pun tetap memposisikan diri sebagai seorang santri dihadapan Kyainya, entah itu ayahnya sendiri atau kerabat dekatnya di lingkup pesantren. Barang kali ini yang membuat Santri begitu spesial dan tak ada duanya dalam kehidupan. Berbahagialah santri yang pernah mengabdikan dirinya di pondok pesantren, hingga membuat penulis ingin menuliskan peran santri dalam dunia kampus. Tulisan ini sendiri ditulis bukan untuk mahasiswa yang “baperan” terkait isu-isu keagaman maupun politik baik lingkup kampus atau lebih luas lagi.

Hari ini dan pada tahun politik mendatang, santri khususnya dan pemuda umumnya menghadapi problem serius mengenai peran nyatanya dalam masyarakat. Berbicara merubah masyarakat tentu kita teringat subsistem dalam pendidikan Indonesia yang menyebut diri mereka sebagai mahasiswa. Lalu apakabar mahasiwa hari ini ? yang katanya menjadi Agent of Change, jargon yang menjadi semangat ketika melangsungkan aksi, entah aksi nyata ataupun sekadar ngaksi (yang penting tidak diam).

Terlepas dari aksi itu, tidak sedikit mahasiswa yang memiliki latar belakang pesantren. Terbukti dengan banyaknya santri yang mengikuti tes seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) KEMENAG pada bulan Mei lalu, yaitu sekitar enam ribu lebih santri. Seorang santri yang menjadi mahasiswa tentu memiliki kelebihan tersendiri dibanding mahasiswa lain. Pasalnya, santri yang benar-benar memaksimalkan waktunya tentu memahami dengan sangat mendalam tentang tri dharma perguruan tinggi bahkan sebelum mengikuti tes seleksi –sebelum resmi menyandang status mahasiswa-.

Bahwa hidup ini merupakan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan ilmu (pendidikan) yang diperoleh melalui kegiatan rutin mengaji dan mengkaji –meneliti. Mereka senantiasa dididik bermasyarakat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Lalu bagaimana sebenarnya kiprah mahasiswa yang santri dalam dunia pendidikan tinggi, bukankah sebuah keniscayaan bagi santri dengan segudang pemahaman agamanya mengabdi pada ulama di lingkungan kampus.

Bermula dari bincang-bincang santai kumpulan aktivis yang berasal dari dunia pesantren, sebuah gerakan yang progresif bisa terbentuk. Satu tindakan nyata yang menjadi pedomannya adalah Al Mukhafadhatu ‘ala qodim As-shalih, Wa al-akhdu bi al Jadid Al-ashlah. Mereka (mahasiswa yang santri) meyakini perkataan Sayyidina Ali ibn Abi Thalib,Dengan perpecahan tak ada sesuatu kebaikan pun dikaruniakan Allah kepada seseorang baik dari orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang datang belakangan”. Keterangan lain yang menjadi semangatnya adalah penuturan Al-Hafidzh as-Suyuthi ;

“Tangan Allah bersama Jama’ah pertolongan-Nya selalu menyertai kumpulan orang banyak). Maka bila diantara jama’ah itu ada yang memencil sendiri, maka setan pun akan menerkamnya seperti halnya serigala menerkam kambing”.

 Hingga akhirnya mereka –Mahasiswa yang santri- turut serta mengambil peran strategis dalam dunia pendidikan tinggi. Mereka berada dilingkup sosial dan keagamaan yang tidak menyuarakan ide-ide segar tanpa tindakan yang nyata dalam masyarakat. Bagaimana sesungguhnya peran mahasiswa yang santri dalam kehidupan kampus ?

Bibit Radikalisme di Kampus

Ada beberapa faktor yang menyebabkan radikalisme sangat mudah berkembang di kampus menurut Yusuf Al-qardhawi  – ulama yang sebagian besar menjadi rujukan Aktivis dakwah kampus- dalam bukunya ‘Al-Shahwah Al-Islamiyah Bayn Al-Juhud Wa Al-Tattarufmenyebutkan bahwa (1) pengetahuan agama yang sifatnya setengah-setengah melalui proses belajar doktriner. Kenyataan ini sebagian besar ditemukan di dunia kampus bukan ? penulis rasa jawabannya ‘anggukan’ kepala. Penulis sendiri merasakan adanya doktrinasi yang kuat dalam organisasi kampus. Bahkan diperoleh dari salah seorang aktivis di organisasi eksekutif mahasiswa di salah satu kampus negeri, doktrinasi merupakan bagian penting yang ada dalam kaderisasi. Tidak menutup mata bahwa doktrinasi itu perlu tetapi ketika pengetahuan agama yang tidak utuh dilekatkan pun terus diulang-ulang tentu akan menjadi kebenaran yang merusak dan membahayakan.

Kedua, pemahaman yang setengah ini bisa diperoleh dari (2) tindakan coba-coba dalam memahami teks agama secara literal, atau belajar Islam dari kulitnya saja. Pengetahuan ‘kulit’ ini lalu memunculkan pemikiran baru, (3) dimana mereka akan disibukkan oleh masalah sekunder dalam beragama seperti menggerakkan jari ketika tasyahhud, memanjangkan jenggot dan meninggikan celana tanpa diikuti pemahaman masalah-masalah primer. Otak mereka selalu sibuk memikirkan simbol yang menunjukkan “keislamannya” hingga muncul (4) berlebihan dalam mengharamkan banyak hal yang kemudian malah memberatkan diri mereka sendiri, seperti membaca Tahlil haram, Yasinan -membaca surat yasin- dihukumi haram. Mungkin karena masih manusia –tempat salah dan lupa-, menyebabkan, (5) mereka sering lupa dengan sejarah islam yang membuktikan adanya amalan yang bernuansa sosial itu (Tahlilan dan Yasinan). Lemahnya ingatan akan sejarah memunculkan (6) fatwa atau ‘matwa’ yang sering bertentangan dengan kemaslahatan umat, akal sehat dan semangat zaman yang ada di Indonesia. Lebih parah lagi ketika penulis menyebut bahwa tindak radikal mereka sebenarnya dipicu oleh (7) adanya bentuk radikalisme yang lain seperti sikap kaum sekular yang anti agama. Ya, setidaknya itu menurut mereka.

Hadirnya mahasiswa yang santri dalam dunia kampus sungguh menjadi angin segar bagi elit pendidik. Kehadiran mahasiswa yang santri perlu mendapat tempat yang pas hingga mereka bisa mengoptimalkan perannya dalam menangkal radikalisme kampus. Mahasiswa yang santri tentu (1) berbekal ilmu agama yang tidak sedikit jika dibandingkan dengan aktivis dakwah pada umumnya. Sungguh menjadi masa emas ketika antum para santri mau berkontribusi dalam dunia dakwah kampus dan turut mewaranainya. (2) mengembangkan kebiasan-kebiasan diskusi metodologis berbentuk kelompok kecil ala pesantren seperti yang diterapkan di Ponpes asuhan KH. M. Sahal Mahfudz menjadi langkah strategis dalam membumikan nilai-nilai keagamaan secara utuh.

Ide ini pun telah dibahas dalam sebuah jurnal ilmiah ber-ISBN – GOVERNANCE- yang menyebutkan bahwa metode studi pustaka, dokumentasi dan FGD berpengaruh terhadap kegiatan radikalisme di kampus. Hingga akhirnya dunia kampus, memiliki Ghirah sesuai dengan namanya itu sendiri yaitu pendidikan tinggi dan mendalam dalam sesuatu. Melihat dan membaca beberapa fenomena diatas menunjukkan bahwa mahasiswa santri memiliki nilai lebih ketika tidak hanya aktif di organisasi intra kampus melainkan bisa dihukumi “Wajib” aktif di organisasi Ekstra kampus dalam lingkup keagaman dan memperjuangkan nilai-nilai sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Akhirnya mereka –“Mahasiswa yang santri”- seperti yang diceritakan diatas memang menjadi Aktivis masa kini yang memperjuangkan dan menentukan masa depan.

You might also like
Comments
Loading...