10 November, Ledakan Api dalam Sekam

Pada tanggal 10 November terjadi perang besar di Kota Surabaya, waktu itu peperangan tidak hanya melibatkan Arek-arek Suroboyo tetapi juga para ulama dan santri dari sekitar Surabaya bahkan bisa dibilang itu “Perang Jawa jilid II”. Saya yakin ada ratusan Kiai yang rawuh ke Surabaya dengan membawa laskar masing-masing sehingga perang 10 November merupakan perlawanan bangsa. Seluruh pasukan dari berbagai daerah meletuskan perlawanan sehingga banyak sekali korban. Tercatat, ada 6.000-16.000 korban tewas dari pihak Indonesia dan ada 600-6.000 korban tewas dari pihak Britania Raya [2],[3],[4]. Namun pihak Britania Raya benar-benar kocar-kacir dan menganggap ini adalah pertempuran terberat pasca Perang Dunia II, padahal mereka bersenjatakan tank, pesawat tempur, dan kapal perang. Bagi Indonesia, ini adalah pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasionalisme atas perlawanan terhadap kolonialisme [3].

Pertempuran 10 November antara Indonesia dan Britania Raya melibatkan pasukan dari berbagai daerah. Salah satu contohnya pengerahan pasukan dari Cianjur. Beberapa waktu yang lalu saya dengar dari salah satu cucu Kiai Abbas bahwa Kiai Abbas bukan hanya sebagai pemimpin yang “hanya datang” ke Medan perang, tetapi juga memobilisasi massa dari Cianjur, Jawa Barat. Dari sana saja Kiai Abbas dapat menggerakkan 7000 pasukan. Jumlah Laskar dari daerah lain yang dikerahkan ke Surabaya termasuk dari Cirebon malah belum tergali. Itu baru satu Kiai. Info tersebut didapatkan oleh penulis dari Kang Ayip (bin) Abdullah (bin) Abbas.

Semangat para Tuan Guru Kiai Nusantara mempunyai magnet besar dalam pembakaran semangat juang santri maupun masyarakat kala itu. Dunia santri dan  pesantren tidak melulu dekat dengan karomah, khoriqul adat dan sejenisnya, yang justru “rawan disalahgunakan” seperti kasus Dimas, Gatot, dll. Dibalik kekuatan “non-logis” yang dekat dengan dunia pesantren, sebenarnya banyak hal-hal “logis” sebagai ikhtiar mereka. Secara nalar memang aneh, kok bisa Laskar Ulama-Santri dan masyarakat yang berbekalkan peralatan perang sederhana, tetapi bisa-bisanya menjatuhkan pesawat, bahkan sampai tiga pesawat. Belum lagi serangan darat, laut, dan udara dari pasukan terbaik saat itu, bisa dipukul mundur meskipun dengan korban dari pihak kita yang begitu banyak. Tetapi ada banyak hal-hal masuk akal seperti api semangat yang baranya terus dijaga selama satu abad lebih hingga kemudian “menyala hebat” pada perang 10 November serta jumlah pasukan yang dikerahkan begitu besar.

Ada banyak santri dan warga dari berbagai wilayah yang bukan hanya dari Surabaya, turut andil dalam peperangan 10 November. Hal ini terbukti dengan membludaknya jumlah total pasukan sebanyak 20.000 tentara dan 100.000 relawan [2]. Dalam buku Resolusi Jihad karangan Zaenul Milal Bizawie ternyata jejaring perlawanan Laskar Ulama-Santri dibentuk oleh Kiai (Pangeran) Diponegoro. Tahun 1830 kita mafhum Kiai Diponegoro ditangkap pada momen “maaf-maafan” Idul Fitri. Namun, ternyata perlawanan Laskarnya tidak padam, malah bak “api dalam sekam” sehingga terus dijaga baranya hingga suatu saat baranya akan menyala dengan hebat. Kemudian, bara itu muncul lewat K. Hasyim Asy’ari, K. Wahab Hasbullah, dan K. Abbas (Ketiga Kiai ini adalah Komandan perang 10 November), K. Masykur, K. Subeki Parakan, Syekh Dalhar, dan banyak lainnya yang merupakan “anak cucu biologis” maupun “anak cucu ideologis” dari laskarnya Kiai Diponegoro [1]. Penjelasan rinci “api dalam sekam” bisa dibuka di link http://www.kmnu.or.id/konten-686-nasionalisme-kyai-dan-pesantren-yang-tak-tercatat-tinta-emas-sejarah-.html

Pada masa Kiai Diponegoro akhirnya ditangkap, seakan kekuatan Laskar Ulama-Santri sekilas mengalah tetapi sebenarnya mereka membangun kekuatan yang lebih besar untuk digunakan di masa mendatang. Jiwa membara telah ditanamkan ke berbagai murid-murid beliau, mereka terus menerus mereproduksi kekuatan dari gurunya hingga kemudian api dalam sekam tersebut meledak hebat dalam perang 10 November. (Arief/Fela)

Referensi

[1] Bizawie, Zainul Milal, 2014, Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad Garda

Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949), Tanggerang : Pustaka Compass, ISBN:

978-602-14673-2-9.

[2] The Battle of Surabaya, Indonesian Heritage.

[3] Ricklefs, Merle Calvin (1993). A History of Modern Indonesia Since c.

1300 (Second ed.). MacMillan. ISBN 978-0-333-57689-2.

[4] Woodburn Kirby, S (1965). The War Against Japan Vol. V. London: HMSO.

ISBN 0-333-57689-6.

You might also like
Comments
Loading...